![]() |
| Sumber Gambar : http://fc05.deviantart.net |
Tubuhku terperanjat, kutemukan diriku terbangun saat gelap masih menyelimuti bumi. Nafasku terengah, disertai dengan rasa sakit disekitar kepala. Aku mencoba berbaring, menunggu saat dimana kesadaranku kembali utuh. Kurasa terdapat sesuatu yang asing di kepalaku yang membuat diriku terombang - ambing di tengah kebingungan. Aku berjalan menuju dapur, menghangatkan termos air untuk membuat secangkr kopi, bersamaan dengan itu kulihat cahaya fajar mulai merekah, menyeruak dari balik tirai yang masih belum tersibak. Dalam benakku aku bersyukur atas hadirnya pagi, karenanya tak ada lagi yang harus ku takuti. Kini kegelapan perlahan 'kan pergi.
Sejenak kemudian, aku pergi menuju kamar mandi, lantainya yang dingin menusuk syaraf - syaraf telapak kakiku yang telanjang. Aku mulai menyikat gigi, membersihkan mulutku dari noda - noda kopi yang mungkin masih menempel tadi malam. Bersamaan dengan itu kulihat bayanganku yang terlihat lesu dan pucat, memancarkan 'image' yang suram dari balik cermin. Mungkin bayang - bayang mimpi masih menghantui benakku menyeretku masuk ke dalam kesuraman ini. "Mimpi buruk, hanya sekedar mimpi, dan itu tidak akan terjadi" Ujarku untuk menghibur diri.
Mungkin hari ini akan menjadi hari yang dingin. Awan mendung terlihat membentuk formasi di ats bukit sana, dan angin sejuk menerpa lembut diriku yang terduduk di atas balkon. Beberapa saat kemudian kudengar sirine mobil polisi dari balik kabut, melayang menembus kesunyian pagi.
... ... ...
Beberapa saat kemudian aku mengambil jaket dan peralatanku, aku harus pergi bekerja. Kupaksakan diriku untuk berjalan menembus dinginnya udara pagi. Hanya dua blok yang harus kutempuh untuk sampai kesana, terkadang aku mengambil rute yang berbeda setiap harinya. Mengenang masa - masa lampau dimana aku menjalani siklus kehidupan yang membawaku hinga saat ini, seiring dengan perkembangan kota ini.
Dalam kurun waktu kurang dari setengah abad, kota kecil ini telah berkembang sangat pesat. Ladang - ladang pertanian telah diubah menjadi perumahan, dan bahkan sungai - sungai telah disumbat untuk pelebaran jalan. Setiap harinya kota ini terus tumbuh, dengan gedung - gedung tinggi menjulang memangkas kaki langit, sebuah solusi atas dampak dari ledakan populasi. Tentu hal tersebut membuatku sedih, aku masih mencari remah - remah memori yang hilang dari masa kecilku, namun nampaknya semua itu telah musnah, hilang ditelan peradaban. Seringkali aku pergi ke atas bukit itu, menjelajahi sisa - sisa hutan yang masih belum ditebang. Satu bait dari memori kehidupanku yang masih bertahan hingga kini. Hanya bukt ini yang memegang kenangan masa laluku hingga saat ini. Oh... kuharap ia tidak akan pergi dan meninggalkanku sendiri, terkepung di dalam sunyi.
... ... ...
Seperti biasa, aku pulang dari tempat kerjaku menjelang senja hari. Mengarungi jalanan yang basah bekas hujan tadi siang yang akan menuntunku kembali menuju rumah. Entah mengapa, kurasakan sore ini sangat sepi, hanya sedikit orang maupun kendaraan yang lalu - lalang di jalanan kota ini. Mungkin di hari yang dingin ini orang lebih memilih untuk bergegas pulang dan menghangatkan diri.
Aku berjalan menyusuri sebuah gang kecil, yang menandakan bahwa rumahku tak jauh lagi. Kurasakan rinai air mulai menetes membasahi rambutku. Sejenak aku menepi untuk membuka payung, dimana sesaat kemudian kulihat dua orang pemuda mendekatiku. Kulihat seorang dari mereka yang berbadan tinggi, membawa pemukul besi dan mendekatiku dari arah kiri, sedangkan seorang lagi membawa parang dan mendekatiku dari sisi lainnya. "Serahkan semua uang yang kamu punya" Kata seorang dari mereka. "Tch... Kau tidak akan memperoleh sepeserpun tanpa sedikit perlawanan" Ujarku menantang mereka. Emosi mereka terpancing, mereka berlari menuju arahku dan menyerangku. Sempat terjadi sedikit baku hantam antara aku dengan mereka, dimana akhirnya yang kuingat hanyalah satu pukulan dari pemukul besi mendarat tepat di kepalaku. Setelah itu aku tak dapat mengingat apa - apa lagi.
... ... ...
... ... ...
... ... ...
Aku terbangun dari dalam gelap, menemukan diriku sedang berbaring di dalam lantai dapur rumahku. Aku terkejut ketika kulihat tanganku bersimbah darah, begitu juga dengan jaketku. Segera aku pergi menuju kamar mandi untuk membersihkannya dan mengingat - ingat apa yang telah terjadi. Dengan kebingungan yang semakin menjadi - jadi, aku memutuskan untuk menghidupkan TV. Betapa terkejut aku ketika terpampang berita tentang pembunuhan yang ada di layar TV. Disana disebutkan bahwa ditemukan dua mayat tergeletak di sebuah gang yang sama persis dengan gang yang setiap hari kulewati. Menurut berita, seorang laki-laki ditemukan meninggal dengan kondisi dadanya terbuka dan jantungnya hilang, sedangkan satu lagi meninggal dengan bekas luka sayat yang memotong urat nadi di lehernya. Polisi yang mengidentifikasi langsung menyatakan bahwa pembunuh adalah seorang pembunuh terlatih, yang sama sekali tidak meninggalkan jejak apapun baik sidik jari maupun petunjuk lainnya.
Kebenaran yang tak tentu mengundang kembali kebingungan untuk datang mengusikku. "Mungkinkah aku membunuh mereka ?. Jika iya, bagaimana ?, atau mungkin seseorang membunuh mereka dan membawaku pulang ?. Jika iya, bagaimana ia meletakanku persis di dalam rumahku ?". Pertanyaan itu terus melayang ke dalam fikiranku. Ingin rasanya ku berlari meninggalkan kebingungan ini, namun misteri di balik kebenaran itu memegangku erat, memaksaku untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
... ... ...
Sekian hari setelah kejadian tersebut, jiwaku masih dipenuhi oleh misteri. Begitu juga dengan pihak kepolisian yang masih belum menemukan jalan keluar dari kasus ini. Dalam hatiku aku berharap bahwa kejadian ini hanyalah mimpi. Mungkin besok atau lusa akan kutemukan beberapa orang polisi mengetuk pintu rumahku, memberiku beberapa pertanyaan yang samasekali tak kumengerti. Mungkin aku akan dipaksa untuk mengingat setiap detail dari kejadian tersebut. Mungkin mereka tidak akan pergi sebelum mereka cukup mendapatkan informasi.
Kebenaran yang tak tentu mengundang kembali kebingungan untuk datang mengusikku. "Mungkinkah aku membunuh mereka ?. Jika iya, bagaimana ?, atau mungkin seseorang membunuh mereka dan membawaku pulang ?. Jika iya, bagaimana ia meletakanku persis di dalam rumahku ?". Pertanyaan itu terus melayang ke dalam fikiranku. Ingin rasanya ku berlari meninggalkan kebingungan ini, namun misteri di balik kebenaran itu memegangku erat, memaksaku untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
... ... ...
Sekian hari setelah kejadian tersebut, jiwaku masih dipenuhi oleh misteri. Begitu juga dengan pihak kepolisian yang masih belum menemukan jalan keluar dari kasus ini. Dalam hatiku aku berharap bahwa kejadian ini hanyalah mimpi. Mungkin besok atau lusa akan kutemukan beberapa orang polisi mengetuk pintu rumahku, memberiku beberapa pertanyaan yang samasekali tak kumengerti. Mungkin aku akan dipaksa untuk mengingat setiap detail dari kejadian tersebut. Mungkin mereka tidak akan pergi sebelum mereka cukup mendapatkan informasi.
... ... ...
Aku berjalan menuju mobilku yang sedang terparkir di sudut basement supermarket. Aku membuka pintu belakang mobilku, dan menaruh barang belanjaanku di sana. Kemudian ku tutup pintu mobilku dan berbalik perlahan, dimana kutemukan diriku tak berkutik di depan pistol revolver yang tepat mengarah menuju dahiku. "Aku butuh mobilmu !!!... Cepat!!... " Teriak orang itu. Entah apa yang aku pikirkan, tanpa sadar aku membuang kunci mobilku jauh - jauh. Ketika orang itu hendak berlari mengambil kunci mobilku, kurasa ada sesuatu hal yang mengendalikan diriku. Kurasakan tanganku meraih meraih tangan orang itu, mematahkannya, dmerebut pistol itu darinya, dan melepaskan tembakan tepat di kepalanya.
Sekejap kemudian aku kembali tersadar dan kutemukan sesosok mayat tergeletak di depanku. Entah kekuatan apa yang mengendalikanku, kejadian itu terjadi sangat cepat hingga aku sendiri tak dapat menyadarinya. Kurasa suara tembakan itu terlalu kencang sehingga dari kejauhan kulihat beberapa orang satpam berlari menuju arahku. Tanpa berfikir panjang kuambil kunci mobil ku dan segera aku mengendarai mobilku pergi dari tempat ini.
... ... ...
Masih di sore yang sama, aku masih mengendarai mobil Nissan Maxima-ku di tengah jalanan kota, hanya saja dengan beberapa mobil polisi dengan sirinenya yang meraung - raung berjajar dibelakangku. Kini aku tak tahu apa yang harus kulakukan, jika aku terus melaju, aku akan mati, begitu pula jika aku berhenti. Namun, kurasakan kembali kekuatan itu yang kini menyuruhku untuk terus melaju, menjauh dari kejaran polisi - polisi itu. Entah apa yang kupikirkan, aku terus terpacu untuk mengendarai mobilku menjauhi mereka. Hingga kutemukan diriku sedang berkendara menuju arah sebuah jembatan angkat. Kulihat perlahan palang jalan menutupi jembatan tersebut, pertanda bahwa jembatan tersebut akan diangkat. Namun, tanpa berpikir panjang kuterobos palang tersebut dan kucoba untuk menyeberangi jembatan itu. Kepercepat laju mobilku, jika aku berhasil melewatinya, untuk sementara para polisi akan berhenti mengejarku. Namun naas, ketika jembatan itu terangkat dan kecepatan yang kukumpulkan gagal membuat mobilku untuk turun di sisi jembatan yang lain. Mobilku terjerembab masuk ke dalam aliran sungai yang dingin.
Di dalam kegelapan itu samar - samar kulihat bayangan diriku yang berbisik "aku adalah dirimu, aku hidup dalam ragamu, ketika jiwa seorang tak berdosa terancam, ketika kegelapan membuat manusia buta, aku melalui dirimu akan menegakkan keadilan sebagaimana mestinya. Bangkitlah, tak ada lagi alasan untuk tetap menyematkan ketakutan di dalam nadimu". Mungkin itu hanya imajinasiku, mungkin suara itu hanyalah jeritan sedihku yang menggema di dalam kegelapan, yang melapuk menuju kesunyian.
Aku berjalan menuju mobilku yang sedang terparkir di sudut basement supermarket. Aku membuka pintu belakang mobilku, dan menaruh barang belanjaanku di sana. Kemudian ku tutup pintu mobilku dan berbalik perlahan, dimana kutemukan diriku tak berkutik di depan pistol revolver yang tepat mengarah menuju dahiku. "Aku butuh mobilmu !!!... Cepat!!... " Teriak orang itu. Entah apa yang aku pikirkan, tanpa sadar aku membuang kunci mobilku jauh - jauh. Ketika orang itu hendak berlari mengambil kunci mobilku, kurasa ada sesuatu hal yang mengendalikan diriku. Kurasakan tanganku meraih meraih tangan orang itu, mematahkannya, dmerebut pistol itu darinya, dan melepaskan tembakan tepat di kepalanya.
Sekejap kemudian aku kembali tersadar dan kutemukan sesosok mayat tergeletak di depanku. Entah kekuatan apa yang mengendalikanku, kejadian itu terjadi sangat cepat hingga aku sendiri tak dapat menyadarinya. Kurasa suara tembakan itu terlalu kencang sehingga dari kejauhan kulihat beberapa orang satpam berlari menuju arahku. Tanpa berfikir panjang kuambil kunci mobil ku dan segera aku mengendarai mobilku pergi dari tempat ini.
... ... ...
Masih di sore yang sama, aku masih mengendarai mobil Nissan Maxima-ku di tengah jalanan kota, hanya saja dengan beberapa mobil polisi dengan sirinenya yang meraung - raung berjajar dibelakangku. Kini aku tak tahu apa yang harus kulakukan, jika aku terus melaju, aku akan mati, begitu pula jika aku berhenti. Namun, kurasakan kembali kekuatan itu yang kini menyuruhku untuk terus melaju, menjauh dari kejaran polisi - polisi itu. Entah apa yang kupikirkan, aku terus terpacu untuk mengendarai mobilku menjauhi mereka. Hingga kutemukan diriku sedang berkendara menuju arah sebuah jembatan angkat. Kulihat perlahan palang jalan menutupi jembatan tersebut, pertanda bahwa jembatan tersebut akan diangkat. Namun, tanpa berpikir panjang kuterobos palang tersebut dan kucoba untuk menyeberangi jembatan itu. Kepercepat laju mobilku, jika aku berhasil melewatinya, untuk sementara para polisi akan berhenti mengejarku. Namun naas, ketika jembatan itu terangkat dan kecepatan yang kukumpulkan gagal membuat mobilku untuk turun di sisi jembatan yang lain. Mobilku terjerembab masuk ke dalam aliran sungai yang dingin.
Di dalam kegelapan itu samar - samar kulihat bayangan diriku yang berbisik "aku adalah dirimu, aku hidup dalam ragamu, ketika jiwa seorang tak berdosa terancam, ketika kegelapan membuat manusia buta, aku melalui dirimu akan menegakkan keadilan sebagaimana mestinya. Bangkitlah, tak ada lagi alasan untuk tetap menyematkan ketakutan di dalam nadimu". Mungkin itu hanya imajinasiku, mungkin suara itu hanyalah jeritan sedihku yang menggema di dalam kegelapan, yang melapuk menuju kesunyian.
... ... ...
... ... ...
... ... ...
... ... ...
Epilog
Kini kutemukan diriku berdiri disisi lain kota yang seharusnya membunuhku beberapa bulan lalu. Setelah sekian lama hidup di dalam bayang - bayang, kini aku telah menemukan siapa sebenarnya diriku. Aku terduduk di dalam mobilku, mulai memutar kunci, menghidupkan mesin, dan kembali berkendara menuju jalanan kota itu, untuk menuntaskan janji yang belum sempat untuk aku tepati. -SA-

0 komentar:
Posting Komentar