Perfect World Online Spear Thingy
"Dibalik Sebuah Pintu Ada Sebuah Misteri Yang Disegel Dengan Tujuh Segel"

Jumat, 19 Juli 2013

Suatu Malam di Kota Verbena

Posted by Unknown on 01.08

    
Sumber Gambar : http://www.stephenwiltshire.co.uk/
    Verbena, sebuah kota pesisir yang telah dipenuhi sesak oleh gedung - gedung. Tinggi, rendah, baru, maupun bersejarah, semua berjajar rapat memagari jalan raya hingga di sudut kota. Diantara gedung - gedung yang berkilau megah itu terdapat sebuah gedung dengan lampu neon nila bertuliskan "Lumina" di depannya. Bangunan itu adalah sebuah Casino megah yang dijalankan oleh pengusaha sekaligus bos mafia yang konon menguasai separuh kota. Nama aslinya tidak banyak yang tahu, namun orang-orang umum memanggilnya "Si Naga Langit". Yah, mungkin telah menjadi rahasia umum bahwa pekerjaan mafia sering dikaitkan dengan perjudian, narkoba, minuman keras, korupsi, dan lain sebagainya. Naga Langit menjalankan sebuah tempat penjagalan hewan sebagai kedok dari usaha gelapnya, meski kerap kali ia juga menjagal para "Korbannya" di tempat tersebut.

     Bagaimana aku tahu semua hal tersebut ?, jika kau menanyakan hal tersebut, itu karena aku adalah salah satu dari anak buahnya, orang selalu menyebutku sebagai tangak kanan si Naga Langit, meski aku tak merasa demikan. Si Naga Langit biasa menyuruhku untuk menagih uang kepada seseorang, tak peduli apapun caranya. Yah... aku melakukan ini karena pekerjaan baik -baik selalu mencampakkanku, menganggap aku tidak pantas. Pernah aku menjadi pengamen di pinggir jalanan dan stasiun, dan kemudian semua orang mencemooh dan merendahkanku. Akhirnya di tengah keputus asaan aku mengambil sebuah pekerjaan di tempat penjagalan yang membuatku berakhir seperti ini.

     Si Naga Langit duduk di sebuah meja untuk bermain poker seperti biasa. Tiap malam ia selalu datang menuju tempat ini untuk bermain poker semalaman, sementara beberapa orang anak buahnya menuju bar untuk minum beberapa botol Whiskey dan Vodka. Meskipun berada di lingkungan seperti ini, aku samasekali tidak pernah mencoba hal - hal tersebut, yang ak lakukan disini hanyalah langsung menuju atap gedung, memandangi Kota Verbena yang diselimuti langit malam selagi angin lembut menerpaku perlahan. Tak lama kemudian kudengar suara langkah kaki mendekat ke arahku, dan kulihat Ignis, "Si Lidah Api" mendatangiku dan berkata "Whiskey ?" sambil menyodorkan botol Whiskey yang masih tersegel ke arahku. "Tidak, aku tidak minum minuman keras" Jawabku menolak. "Ayolah, sedikit saja, ini tak kan melukaimu" Tawarnya sekali lagi. Aku hanya tersenyum simpul dan tetap memandangi Skyline kota ini. Kemudian ia tersenyum, membuka tutup boto Whiskey itu dan berkata "Kau tahu, dari semua orang disini, kau lah yang paling berbeda. Semua orang datang menuju tempat ini untuk menghabiskan uang, dan kau ?, apakah kau akan terus - terusan memandangi bintang semalaman ?" dan ia mulai meneguk botol Whiskey itu. "Yah...mungkin... begitulah... " jawabku singkat. 

     Tak lama kemudian kurasakan handphone ku berdering, aku segera mengangkatnya, dan kemudian aku mendapat kabar dari Naga Langit bahwa 'caravan' kita diserang oleh Gang Lucis di pelabuhan. Segera aku beritahu Lidah Api untuk turut membantuku menolong mereka. "Sial, aku bahkan belum meminum setengah dari botol ini" Keluhnya. Sesampainya di pelabuhan, kudengar suara baku tembak dari kejauhan. "Ambil senapan di bagasi, lindungi aku selagi aku menghampiri mereka" Perintahku. Ia segera membuka bagasi dan mengambil senapan Thompson yang menjadi andalannya, sementara aku hanya mengambil dua handgun seperti biasa. "Nampaknya suara itu berasal dari sekitar gudang" Ujarku. "Baiklah, mari kita tunjukkan pada mereka siapa yang berkuasa" kata Lidah Api. Sesampainya di gudang, para berandal gang Lucis terkejut melihat kedatangan kami dan segera menyambut kami dengan rentetan senapan. "Tak kusangka mereka datang dalam jumlah besar" ujar Lidah Api. "Baiklah, kau beri tembakan pengecoh selagi aku berlari melihat keadaan teman kita" Kata ku. 

     Ia segera melakukan tembakan pengecoh, dan kulihat beberapa Geng Lucis tewas terkena tembakan itu, sementara aku menyelinap mendatangi anggota Geng ku yang bersembunyi di dalam gudang. Sesampainya di dalam, aku menghampiri empat orang yang berdiri was - was di pinggir jendela memegang senapannya masing - masing. Salah satu dari mereka menyadari kehadiranku dan segera mengampiriku dan berkata "Di mana bala bantuannya ?". "Tenang kami sudah disini, berapa jumlah kalian ?" tanyaku. "Kami datang berdelapan, dan empat orang meninggal di halaman pelabuhan, sedangkan Geng Lucis datang dengan sekitar 20 orang" Jawabnya. "Dan, barangnya ?" Tanyaku kembali. "Aman bersama kami" Jawabnya lagi. "Bagus, sekarang yang perlu kita lakukan hanyalah keluar dengan selamat" Ujar ku. "Bagaimana kita bisa keluar dari sini ?" ia bertanya ragu. "Mudah, yang perlu kalian lakukan adalah memancing mereka masuk ke dalam tempat ini, setelah itu, aku pastikan tidak ada satupun dari mereka yang dapat keluar hidup - hidup, mengerti ?" Jelasku pada mereka. Ku angkat telefonku, dan kupanggil Ignis. "Ada apa, kau tak aku aku sedang sibuk ?" teriaknya. "Aku hanya memintamu untuk menghentikan tembakan, setelah itu mungkin beberapa orang akan datang menuju gudang tempatku berada sekarang, tolong beri mereka sedikit kejutan, dan sisanya mungkin akan datang menuju arahmu, terlebih dahulu, bunuh mereka diam - diam, mengerti ?" perintahku. "Terserah... " jawabnya singkat, dan ia mematikan handphonenya. "Sekarang, kalian cari tempat dimana kalian bisa melihat mereka secara luas, namun tetap tak terlihat, sementara aku akan turun ke bawah dan berhadapan langsung dengan mereka, mengerti ?" Perintahku. "Baik, kami mengerti" Jawab mereka.

     Seperti yang kurencanakan, mereka segera mendatangi gudang ini, sementara sekitar tiga orang lain menghampiri tempat Ignis bersembunyi. Mereka segera mengambil tempat, sementara aku turun menuju lantai dasar, menyelinap di sela - sela tumpukan barang dengan sebilah pisau sebagai senjata. Beberapa orang memasuki tempat ini, dan baku tembak pun terjadi, kulihat beberapa orang Geng Lucis terkapar terkena peluru senapan, semantara yang lainnya berlarian kocar - kacir. Aku segera mengambil tindakan, aku membunuh mereka - mereka yang terpisah dan tidak memperhatikan dengan diam - diam. Satu - persatu dari mereka mendapat sayatan si lehernya, kuhitung mungkin ada sekitar 12 orang yang berhasil aku bunuh. Tak lama kulihat seorang sedang berdiri bingung diantara tumpukan barang, aku segera mengendap - endap mendekatinya. Namun, belum sampai aku mencapainya kudengar suara kokang senapan dari arah belakangku, semantara orang di depanku berbalik arah dan menghadapkan senapannya ke arahku. "Sial..." ujarku pelan, aku mungkin masuk ke dalam jebakan mereka dimana aku terkepung dari dua arah. Tak lama kemudian kulihat bayang - bayang di belakang seseorang yang berdiri di hadapanku, secepat mungkin aku segera tiarap dan melindungi kepalaku, sementara kudengar suara rentetan peluru di atas kepalaku. Sekejap kemudian, kulihat Ignis berdiri di depanku dan berkata "Kejutan...". Aku hanya tersenyum singkat, bangkit dan kemudian pergi.

... ... ...

     "Bagaimana keadannya ?" Tanya Naga Langit, sesampainya kita kantornya. "Barangnya selamat, namun empat orang dari geng kita meninggal di tempat" Jawab Ignis. "Dan, bagaimana dengan para berandalan itu ? sudahkah mereka mendapatkan balasan yang pantas ?" Ia kembali bertanya. "Hmm... mungkin Ular Hitam bisa menjelaskannya"Ujar Ignis. "Mereka semua terbunuh, dan... kugantung mereka di halaman pelabuhan" Jelasku. "Bagus... kalian selalu tahu bagaimana cara mempermanis kemenangan ini, biarkan para berandalan itu mengerti untuk tidak mencoba untuk menantang kita lain kali." Kata Naga Langit. "Haha... nikmatilah kemenangan kalian" Imbuhnya. Tak lama kemudian, datang seseorang dengan raut wajah takut, yang memberi kabar bahwa Sayap Perak, pemimpin Geng Lucis datang menuju tempat ini. "Mau apa dia ?, Sergei, Ignis, mari kita cari tahu" ujarnya penasaran. Kami pun segera bergegas menuju lantai bawah untuk mencari tahu apa yang mereka inginkan.

     Sesampainya di lantai bawah, kami melihat Sayap Perak berdiri di dekat pintu masuk membawa puluhan anak buahnya, dan kami segera menghampirinya. "Apa yang kau inginkan ?" Tanya Naga Langit. "Kudengar kalian membunuh beberapa anggota kami di pelabuhan" Jawab Sayap Perak. "Ya... itu karena kalian mengacaukan urusan kami, kalian datang membawa belasan orang semantar kami hanya berdelapan" Ujar Naga Langit.  Sayap Perak terdiam sejenak. "Dan kalian tahu tentang batas wilayah ? aku kira pelabuhan itu berada jauh di dalam wilayah kami, kami tahu bahwa kalian juga mengejar barang tersebut, namun beginikah cara kalian ?... Tch... memalukan" Ujar Naga Langit kembali. "Cukup... kami telah muak dengan segala omong kosongmu, saatnya bagi kami untuk mengambil alih seluruh kota ini untuk selamanya" Ujar Sayap Perak. "Kau ingin berperang di dalam wilayahku ? apakah kalian yakin ?" Kata Naga Langit. Kemudian suasana menjadi gaduh ketika dari lantai dua para anggota Geng Lucis menjatuhkan mayat - mayat anggota geng kami. "Lihat ?... ketika kalian sibuk menikmati kemenangan kalian, kami menyelinap masuk dan membunuh sebagian besar anggota kalian, dan kau tahu ?... sebagian lainnya telah memohon ampunan dan memihak kami" Kata Sayap Perak. "Hmm. nampaknya hanya tinggal kita bertiga. Bagaimana ?, apakah kalian tidak ikut - ikutan membelot ?" Tanya Naga Langit. "Lebih baik mati dan biarkan mayatku digerogoti anjing - anjing jalanan, daripada aku hidup di pihak mereka" ujar Ignis. 

    Suasana mulai memanas ketika Naga Langit melemparkan granat asapyang disertai dengan sebotol nitrogliserin yang mampu membuat mereka kalang kabut. Ditengah kekacauan itu kami segera berpencar mencari tempat aman, mengambil senapan dan mulai menembaki mereka. Rentetan peluru datang dari mana - mana, dan tempat ini dipenuhi oleh asap yang menghalangi pandangan mata. Aku hanya menembak mereka - mereka yang datang mendekat, hingga pada suatu saat asap itu tiba - tiba mereda, dan kulihat para berandal Gang Lucis mengeluarkan cahaya dari dalam tubuhnya, dan perlahan mereka berubah menjadi Harpy, makhluk yang menyerupai elang setengah manusia. "Sudah kukira hal ini akan terjadi" kudengar teriakan Ignis yang berada tak jauh di sebelahku. Ia segera berlari menuju kerumunan Harpy itu, tubuhnya mengeluarkan api yang berkobar - kobar, dan sekejap kemudian ia berubah menjadi Moloch, seekor kadal raksasa yang berdiri dengan kedua kakinya. Kulihat ia memusnahkan sebagian besar Harpy itu menggunakan kukunya yang tajam dan kibasan ekornya yang mematikan. 

     Tak lama kemudian kudengar suara lengkingan hebat dari atas aula, dan kulihat seekor Cockatrice melayang dengan sayap - sayapnya yang membentang lebar. Mungkin itulah wujud asli dari Sayap Perak, makhluk menyerupai elang setengah naga. Ia segera turun dan menghadapi Ignis dengan cabikan cakar dan paruhnya yang tajam. Terlihat mereka berdua bertarung sangat sengit, hingga Ignis meraih kedua sayapnya dan berusaha untuk merobeknya, namun gagal ketika cakar Sayap Perak menghujam dada Ignis dan mencabut jantungnya, membuat Ignis rebah tak berdaya di atas tanah. Seketika itu juga, Naga Langit dengan tenang berjalan menuju tengah aula dan menghabiskan sisa rokoknya, hingga sesaat kemudian asap putih menyelimuti tubuhnya dan merubahnya menjadi seekor Naga dan mulai bertarung dengan Sayap Perak yang dibantu oleh segerombol Harpy. 

     Aku tak bisa tinggal diam, segera aku mengumpulkan kekuatanku, kulihat asap hitam mengepul disekelilingku dan kurasakan tubuh ini mulai dingin. Sekejap kemudian aku telah berubah menjadi seekor ular besar dan kemudian aku bergerak untuk membantu Naga Langit. Aku menyerang beberapa ekor Harpy itu, membelit dan menggigit mereka. Meski aku menghadapi cakaran mereka dari berbagai sudut, aku tetap bertahan hingga kulihat tak ada lagi yang tersisa. Sementara di sana kulihat Naga Langit dan Sayap Perak masih bertarung dengan sengitnya.

     Meski awalnya kulihat Naga Langit lebih unggul, namun lama kelamaan ia mulai terpojok, Kulihat Sayap Perak membantingnya keras ke atas tanah dan mencekiknya menggunakan cakarnya. aku tak tinggal diam, secepat mungkin aku menuju ke sana dan mengibaskan ekorku, melemparkan Sayap Perak dan membebaskan Naga Langit dari cengkeramannya. Meski kami bertarung dua lawan satu, namun kami sempat kewalahan menghadapinya. Ia beberapa kali membuat kami terpojok, hingga pada suatu saat aku mempunyai kesempatan untuk membelitnya dengan erat, membuat Sayap Perak hanya bisa meronta - ronta, sementara Naga Langit memegang erat leher Sayap Perak, dengan usaha yang sengit ia berhasil mematahkannya. Seketika itu juga terdengar lengkingan yang sangat keras, yang datang bak prahara yang mampu merobohkan segalanya, membuatku terpental jauh. Sesaat kemudian kilatan cahaya yang menyilaukan mata menyambar tubuh sayap perak yang masih berkutat dengan Naga Langit. Hal terakhir yang kuingat kutemukan diriku berbaring dalam wujud manusiaku, melihat  langit malam yang mulai memudar melalui puing - puing bangunan ini membawaku menuju ketenangan. -SA-

0 komentar:

Posting Komentar