Perfect World Online Spear Thingy
"Dibalik Sebuah Pintu Ada Sebuah Misteri Yang Disegel Dengan Tujuh Segel"

Selasa, 21 Agustus 2012

Kala Kematian Menyapa

Posted by Unknown on 05.37

Illustration Source : http://www.wikumagic.org/2012/06/trik-kartu-card-of-death.html

Kala Kematian Menyapa
Kukira Ini Hanyalah Sebuah Gurauan !

 
            Seperti biasa, setelah jam kampus yang menjemukan ini berakhir, aku meluangkan waktu sejenak untuk duduk – duduk di halaman fakultas untuk sekedar login facebook  dan browsing – browsing iseng. Sejenak kemudian aku membuka halaman Wikipedia, yah… itung – itung nyari referensi tugas yang besok harus segera dikumpulkan. Namun, setelah sampai di halaman utama, entah mengapa firasat ini menyuruhku untuk membuka tautan “Recent Deaths” di sebelah kanan halaman Free Online Encyclopedia itu. Disana terdapat daftar nama orang – orang yang telah meninggal selama beberapa bulan yang lalu. Namun, rasanya ada yang ganjil ketika ku-klik tombol close yang ada di sebelah pojok atas tab halaman itu. Sejenak Opera Browser yang kujalankan menjadi Not Responding, namun sejenak kemudian kembali berjalan lancar. Kulihat sebuah window yang intinya permintaan bantuan dari pihak Wikipedia dengan foto Jimmy Wales di pojok kanan atas yang terlihat sangat meyakinkan. Pada bagian bawah halaman terdapat sebuah textbox bertuliskan “Please enter your cellphone number”, tanpa basa basi aku memasukkan nomor ponselku dan kemudian ku klik tombol Submit, apasalahnya member sedikit bantuan. Sejenak kemudian muncul kembali sebuah window yang bertuliskan ucapan terima kasih. Tak lama kemudian, aku me-Log Out facebook-ku dan mematikan laptop yang baterainya hampir habis ini, sudah saatnya bagiku untuk pulang.


            Aku beranjak dari tempat dudukku ini dan bertolak menuju tempat parkir. Kupacu sepeda motor ini menuju pintu keluar kampus. “Masbro!” kudengar teriakan dari kejauhan, sepertinya aku menegnal suara itu. Benar saja aku menoleh menuju sisi kiri jalan dan kulihat Adi, temanku sewaktu SMA, yang juga kuliah di kampus ini melambaikan tangannya kearahku. “Ngopi disek kene lho” katanya dengan logat Jawanya yang khas. Yah… apa boleh buat, Meskipun tubuh ini sangat ingin segera pulang, ajakan Adi kali in tak dapat kutolak. Aku segera memarkirkan sepedah motorku di sisi trotoar dan duduk tepat disebelah Adi. Seperti biasa, kami hanya berbincang tentang kehidupan kampus yang demikian, dan sedikit mengenang masa – masa SMA. Kemudian Adi merogoh kantung jaketnya, ia mengeluarkan HPnya dan terlihat tulisan 1 New Message. Sejenak kemudia ia bergumam “Oalah!... “. “Sek Masbro, tak tuku pulsa diluk” lanjutnya, ia pun segera bertolak menuju counter pulsa di seberang jalan.

            Sejenak kemudian HPku bergetar, kurogoh kantung bajuku dan kutatap layarnya. Kulihat ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal, yang bertuliskan :

“Datang dengan cepat dan kemudian menghilang,
sudah saatnya aku menjemput teman baikmu itu.
Kematian”

            “Haha… lawakan yang bagus… “ balasku. Kupalingkan pandanganku kembali menuju padatnya jalanan Kota Malang, disana kulihat Adi yang sedang kebingungan untuk menyeberang. Sejenak kemudian kulihat dari arah barat datang sebuah sepeda motor berkecepatan tinggi menuju arah Adi berdiri. “Awas!” belum sempat ku beranjak, sepeda motor itu menghantam Adi. Bukannya berhenti, sepeda motor itu malah terus berkendara pergi, meninggalkan Adi terkapar bersimbah darah ditengah jalan raya. Kulihat tatapan matanya yang kosong, membuat hatiku luluh, tak kuat aku menahan rasa sedih ini. Aku bersimpuh di hadapannya untuk memberikan rasa hormatku untuk yang terakhir kalinya. Kemudian kurasakan HPku kembali bergetar, terdapat sebuah pesan yang bertuliskan “Aku samasekali tidak bercanda.”. Kemudian tubuhku serasa diliputi oleh kengerian, membuatku berpikir benarkah ini semua ? atau ini hanyalah suatu rekayasa ? apakah memang Adi telah direncanakan untuk dibunuh ?.

            Malam semakin larut, membayangkan kematian teman terbaikku tepat di depan mataku membuatku tak dapat memejamkan mata. Belum lagi terror sms yang membuatku diriku tak dapat berhenti bertanya. Untuk mengusik keraguanku, aku membuka laptopku dan kemudian menghubungkannya menuju server jasa pelacak nomor ponsel. Namun aku mendapat balasan yang sangat tidak biasa, server itu berkata bahwa nomor telefon ini fiktif. Kemudian aku memberanikan diri untuk mengirim beberapa buah pesan menuju nomor ini, namun tak ada satupun balasan. Kucoba untuk menghubunginya, namun juga tidak ada tanggapan. Tentu saja kegilaan ini membuatku semakin bingung. Kulihat baterai HPku menipis, kuambil charger dari dalam laci dan kemudian men-charge HP yan ‘sekarat’ ini. Tak lama kemudian HP ku kembali bergetar, kembali kengerian ini datang meliputiku. Secara perlahan kuraih ponsel yang tergeletak di atas meja itu, dan kulihat terdapat sebuah pesan yang bertuliskan

“ Pak tua itu telah banyak menghabiskan usianya di pinggir jalan.
Kini, saatnya kuberi dia sedikit kejutan.
Kematian “

            “Masa Bodoh…” ucapku kepada kesunyian. Serasa tidak peduli, aku merebahkan tubuhku yang lelah ini ke atas kasur kamarku. Belum sempat aku memejamkan mata, kudengar suara ledakan yang dahsyat yang datang dari luar rumahku. Aku segera beranjak keluar, kulihat orang – orang sekitarku berlarian menuju arah utara. Kulihat nyala api berkobar dari kejauhan, sementara pikiranku kembali megingat isi pesan yang kubaca tadi.Aku terperanjat dan berkata ”Masya Allah, Pak Pri…”. Aku berlari mendekati kobaran api itu, dan kulihat Warung Kopi Pak Pri telah luluh lantak oleh api. Mobil pemadam kebakaran segera datang dan dengan cepat memadamkan api sehingga tidak menjalar menuju bangunan – bangunan disekitarnya. Setelah api berhasil dipadamkan, Tak lama kemudian kulihat para pemadam kebakaran membawa sebuah kantong mayat dan meletakannya ke dalam ambulans.

            Belum selesai rasanya dukaku ketika meliat kematian teman terbaikku. Kini, aku harus kehilangan orang lain yang sangat baik terhadapku. Pak Pri, orang tua penjual kopi ini sudah kuanggap sebagai bagian dari keluargaku. Tak kusangka, orang yang sangat baik dan rendah hati seperti Pak Pri harus menemui akhir hidupnya dengan cara seperti ini. Dengan rasa sedih yang semakin mendalam aku kembali menuju kamarku dan meraih HP yang masih terhubung dengan charger. Kulihat sebuah pesan baru yang bertuliskan :

“ Mengapa kau menjadi sangat bodoh ?.
Kuberi kau sebuah peraturan sederhana.
Aku adalah Kematian
Kau adalah yang terpilih.
Selamatkan nyawa orang terdekatmu atau aku akan menjemput mereka.
Kematian “
           
            Menyelamatkan ? bagaimana aku bisa menyelamatkan mereka ? sejenak rasa bingung melanda pikiranku, hingga aku teringat akan sebuah film yan pernah kulihat dulu yang berjudul Final Destination, disana pemeran utamanya mendapat sebuah penglihatan tentan bagaimana orang – orang  yang berkaitan akan menemui ajalnya. Di dalam film itu tokoh utamanya harus menyelamatkan orang – orang yang berada di dalam pandangannya dari genggaman kematian. “Kini aku tahu…” ucapku pada diriku sendiri. Seperti mendapatkan suatu pencerahan, kini aku menungu tantangan demi tantangan yang akan diberikan oleh Kematian terhadapku. Kemudian secara berturut – turut, terhitung aku telah menyelamatkan nyawa adikku dari sengatan listrik, menyelamatkan nyawa teman sejurusanku yang nekat ingin mengakhiri hidupnya, dan menyelamatkan nyawa seorang teman yang hamper tenggelam.
           
            Beberapa bulan berlalu, saat ini aku sedang menikmati kesendirianku sambil menikmati segelas kopi panas di sebuah café pinggir jalan. Belum sempat aku memegang cangkir kopiku, kurasakan HPku bergetar, kurogoh kantung jaketku dan kulihat isi pesan itu

“Apakah kau merindukanku ?
Apakah kau rela jika kurenggut nyawa orang yang duduk beberapa langkah dibelakangmu ?
Kematian. “

            Didorong rasa penasaran, aku menolehkan kepalaku menuju arah yang dimaksud. Kulihat wajah yan sangat tidak asing, raut wajah seorang gadis manis yang mampu membuat seluruh raga ini menjadi diam, sediam langit malam.  Gadis itu bernama Dia, seorang gadis yang kusukai waktu aku masih duduk di bangku SMA. Namun, aku yang sangat pemalu ini tidak dapat sedikitpun mengungkapkan hal itu kepadanya, karena aku takut jika ia tidak dapat menerimaku apa adanya. Dia menyadari jika aku sedang memandangi dirinya, Dia pun melihat kepadaku dan memberikan senyuman manis khas dirinya. Namun aku terbelalak ketika melihat dibelakangnya terdapat sebuah mobil sedan yang berkecepatan tinggi sedang menuju ke arahnya. Aku berlari menghampirinya dan berteriak “Awas… !”. Kemudian aku menarik tangannya dan memeluknya erat, tepat sebelum mobil itu sempat menabraknya. Mobil naas itupun akhirnya menabrak sebuah pohon di pingir jalan dan terbelah dua. Aku sangat terkejut, hinga aku sadar bawa Dia masih berada di dalam pelukanku,  aku pun segera melepaskannya, dengan diliputi oleh rasa gugup yang sangat dalam aku berkata “Astaghfirullah… Dia, bukan maksudku untuk lancang dan…” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Dia kemudian tersenyum kepadaku dan berkata “Terima Kasih… Terima Kasih kau telah menyelamatkan nyawaku… “. Hal ini membuatku tak dapat berbuat apa – apa, karena ini adalah percakapan pertama kita setelah beberapa tahun aku mengenalnya.

            Aku bersyukur atas kejadian itu, hubunganku dengan Dia membaik dan akhirnya kita menjadi sepasang kekasih. Saat ini, aku dan Dia sedang menyusuri jalanan kota berdua, Kini, kurasa telah saatnya kuberitahukan kepada Dia tentang Kematian yang beberapa kali sempat mengirimi aku pesan dan semua pengalamanku yang berkaitan dengan Kematian itu. Dia pun kemudian berkata kepadaku “ Tidak seharusnya kau melawan takdir, kematian memang harus datang, kita harus tabah dan rela bahkan jika kematian datang merenggut nyawa orang yang paling kita sayang”. “Namun aku takkan rela jika saat itu kematian mengambilmu dariku” Balasku padanya. Ia hanya membalas dengan senyumannya yang mampu melumpuhkan seluruh tubuh ini. Kemudian kupasangkan satu bagian headset di telingaku dan bagian lainnya ditelinganya, dan kumainkan lagu Eternal Love yang mewakilkan apa yang ingin kusampaikan padanya. Lagu ini berakhir tepat ketika kita akan menyeberangi sebuah persimpangan yang ramai. Kulepaskan headset itu dari telinganya dan kulihat senyum itu masih menghiasi wajahnya. Namun, kedamaian ini terusik kala ponselku mulai bergetar. Kulihat layarnya menunjukkan adanya pesan baru yang bertuliskan :

“Aku telah mempersatukan kalian,
Kini saatnya aku mengambil salah satu dari kalian.
Kematian”

            “Ada apa?, mengapa kau tiba – tiba terlihat gugup ?” Tanya Dia penasaran. “Tidak ada apa – apa” jawabku dengan maksud menenangkannya. Traffic Light berubah menjadi hijau, pertanda saatnya kami untuk menyeberang. Mengabaikan peringatan tadi, kami menyeberangi jalan ini berdua. Namun, kulihat dari arah barat melaju sebuah truk dengan kencang menuju arah kami, aku segera melepaskan genggaman tanganku dan mendorong Dia agar menjauh, kulihat Dia terduduk di atas terotoar dan berteriak menunjuk arah truk itu. Spontan aku pun menoleh, kulihat sorot lampu yang menyilaukan mata disertai suara klakson yang memekakkan telinga, dan kemudian aku tidak merasakan apa – apa kecuali gelap.

3 komentar:

Posting Komentar