Illustration Source : http://www.wikumagic.org/2012/06/trik-kartu-card-of-death.html
Kala Kematian Menyapa
Kukira Ini Hanyalah Sebuah
Gurauan !
Seperti
biasa, setelah jam kampus yang menjemukan ini berakhir, aku meluangkan waktu
sejenak untuk duduk – duduk di halaman fakultas untuk sekedar login facebook dan browsing
– browsing iseng. Sejenak kemudian aku membuka halaman Wikipedia, yah… itung – itung nyari referensi tugas yang besok
harus segera dikumpulkan. Namun, setelah sampai di halaman utama, entah mengapa
firasat ini menyuruhku untuk membuka tautan “Recent
Deaths” di sebelah kanan halaman Free
Online Encyclopedia itu. Disana terdapat daftar nama orang – orang yang
telah meninggal selama beberapa bulan yang lalu. Namun, rasanya ada yang ganjil
ketika ku-klik tombol close yang ada di sebelah pojok atas tab halaman itu.
Sejenak Opera Browser yang kujalankan
menjadi Not Responding, namun sejenak
kemudian kembali berjalan lancar. Kulihat sebuah window yang intinya permintaan
bantuan dari pihak Wikipedia dengan foto Jimmy Wales di pojok kanan atas yang
terlihat sangat meyakinkan. Pada bagian bawah halaman terdapat sebuah textbox
bertuliskan “Please enter your cellphone number”, tanpa basa basi aku memasukkan
nomor ponselku dan kemudian ku klik tombol Submit, apasalahnya member sedikit
bantuan. Sejenak kemudian muncul kembali sebuah window yang bertuliskan ucapan terima
kasih. Tak lama kemudian, aku me-Log Out facebook-ku dan mematikan laptop yang
baterainya hampir habis ini, sudah saatnya bagiku untuk pulang.
Aku
beranjak dari tempat dudukku ini dan bertolak menuju tempat parkir. Kupacu
sepeda motor ini menuju pintu keluar kampus. “Masbro!” kudengar teriakan dari
kejauhan, sepertinya aku menegnal suara itu. Benar saja aku menoleh menuju sisi
kiri jalan dan kulihat Adi, temanku sewaktu SMA, yang juga kuliah di kampus ini
melambaikan tangannya kearahku. “Ngopi disek kene lho” katanya dengan logat Jawanya
yang khas. Yah… apa boleh buat, Meskipun tubuh ini sangat ingin segera pulang,
ajakan Adi kali in tak dapat kutolak. Aku segera memarkirkan sepedah motorku di
sisi trotoar dan duduk tepat disebelah Adi. Seperti biasa, kami hanya
berbincang tentang kehidupan kampus yang demikian, dan sedikit mengenang masa –
masa SMA. Kemudian Adi merogoh kantung jaketnya, ia mengeluarkan HPnya dan
terlihat tulisan 1 New Message. Sejenak kemudia ia bergumam “Oalah!... “. “Sek
Masbro, tak tuku pulsa diluk” lanjutnya, ia pun segera bertolak menuju counter
pulsa di seberang jalan.
Sejenak
kemudian HPku bergetar, kurogoh kantung bajuku dan kutatap layarnya. Kulihat
ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal, yang bertuliskan :
“Datang dengan cepat
dan kemudian menghilang,
sudah saatnya aku
menjemput teman baikmu itu.
Kematian”
“Haha…
lawakan yang bagus… “ balasku. Kupalingkan pandanganku kembali menuju padatnya
jalanan Kota Malang, disana kulihat Adi yang sedang kebingungan untuk menyeberang.
Sejenak kemudian kulihat dari arah barat datang sebuah sepeda motor
berkecepatan tinggi menuju arah Adi berdiri. “Awas!” belum sempat ku beranjak, sepeda
motor itu menghantam Adi. Bukannya berhenti, sepeda motor itu malah terus
berkendara pergi, meninggalkan Adi terkapar bersimbah darah ditengah jalan
raya. Kulihat tatapan matanya yang kosong, membuat hatiku luluh, tak kuat aku
menahan rasa sedih ini. Aku bersimpuh di hadapannya untuk memberikan rasa
hormatku untuk yang terakhir kalinya. Kemudian kurasakan HPku kembali bergetar,
terdapat sebuah pesan yang bertuliskan “Aku samasekali tidak bercanda.”.
Kemudian tubuhku serasa diliputi oleh kengerian, membuatku berpikir benarkah
ini semua ? atau ini hanyalah suatu rekayasa ? apakah memang Adi telah
direncanakan untuk dibunuh ?.
Malam
semakin larut, membayangkan kematian teman terbaikku tepat di depan mataku
membuatku tak dapat memejamkan mata. Belum lagi terror sms yang membuatku
diriku tak dapat berhenti bertanya. Untuk mengusik keraguanku, aku membuka
laptopku dan kemudian menghubungkannya menuju server jasa pelacak nomor ponsel.
Namun aku mendapat balasan yang sangat tidak biasa, server itu berkata bahwa
nomor telefon ini fiktif. Kemudian aku memberanikan diri untuk mengirim
beberapa buah pesan menuju nomor ini, namun tak ada satupun balasan. Kucoba
untuk menghubunginya, namun juga tidak ada tanggapan. Tentu saja kegilaan ini
membuatku semakin bingung. Kulihat baterai HPku menipis, kuambil charger dari
dalam laci dan kemudian men-charge HP yan ‘sekarat’ ini. Tak lama kemudian HP
ku kembali bergetar, kembali kengerian ini datang meliputiku. Secara perlahan
kuraih ponsel yang tergeletak di atas meja itu, dan kulihat terdapat sebuah
pesan yang bertuliskan
“ Pak tua itu telah
banyak menghabiskan usianya di pinggir jalan.
Kini, saatnya kuberi
dia sedikit kejutan.
Kematian “
“Masa
Bodoh…” ucapku kepada kesunyian. Serasa tidak peduli, aku merebahkan tubuhku
yang lelah ini ke atas kasur kamarku. Belum sempat aku memejamkan mata,
kudengar suara ledakan yang dahsyat yang datang dari luar rumahku. Aku segera
beranjak keluar, kulihat orang – orang sekitarku berlarian menuju arah utara.
Kulihat nyala api berkobar dari kejauhan, sementara pikiranku kembali megingat
isi pesan yang kubaca tadi.Aku terperanjat dan berkata ”Masya Allah, Pak Pri…”.
Aku berlari mendekati kobaran api itu, dan kulihat Warung Kopi Pak Pri telah luluh
lantak oleh api. Mobil pemadam kebakaran segera datang dan dengan cepat
memadamkan api sehingga tidak menjalar menuju bangunan – bangunan disekitarnya.
Setelah api berhasil dipadamkan, Tak lama kemudian kulihat para pemadam
kebakaran membawa sebuah kantong mayat dan meletakannya ke dalam ambulans.
Belum
selesai rasanya dukaku ketika meliat kematian teman terbaikku. Kini, aku harus
kehilangan orang lain yang sangat baik terhadapku. Pak Pri, orang tua penjual
kopi ini sudah kuanggap sebagai bagian dari keluargaku. Tak kusangka, orang
yang sangat baik dan rendah hati seperti Pak Pri harus menemui akhir hidupnya
dengan cara seperti ini. Dengan rasa sedih yang semakin mendalam aku kembali
menuju kamarku dan meraih HP yang masih terhubung dengan charger. Kulihat
sebuah pesan baru yang bertuliskan :
“ Mengapa kau menjadi
sangat bodoh ?.
Kuberi kau sebuah
peraturan sederhana.
Aku adalah Kematian
Kau adalah yang
terpilih.
Selamatkan nyawa
orang terdekatmu atau aku akan menjemput mereka.
Kematian “
Menyelamatkan
? bagaimana aku bisa menyelamatkan mereka ? sejenak rasa bingung melanda
pikiranku, hingga aku teringat akan sebuah film yan pernah kulihat dulu yang
berjudul Final Destination, disana
pemeran utamanya mendapat sebuah penglihatan tentan bagaimana orang – orang yang berkaitan akan menemui ajalnya. Di dalam
film itu tokoh utamanya harus menyelamatkan orang – orang yang berada di dalam
pandangannya dari genggaman kematian. “Kini aku tahu…” ucapku pada diriku
sendiri. Seperti mendapatkan suatu pencerahan, kini aku menungu tantangan demi
tantangan yang akan diberikan oleh Kematian terhadapku. Kemudian secara
berturut – turut, terhitung aku telah menyelamatkan nyawa adikku dari sengatan
listrik, menyelamatkan nyawa teman sejurusanku yang nekat ingin mengakhiri
hidupnya, dan menyelamatkan nyawa seorang teman yang hamper tenggelam.
Beberapa
bulan berlalu, saat ini aku sedang menikmati kesendirianku sambil menikmati
segelas kopi panas di sebuah café pinggir jalan. Belum sempat aku memegang cangkir
kopiku, kurasakan HPku bergetar, kurogoh kantung jaketku dan kulihat isi pesan
itu
“Apakah kau
merindukanku ?
Apakah kau rela jika
kurenggut nyawa orang yang duduk beberapa langkah dibelakangmu ?
Kematian. “
Didorong
rasa penasaran, aku menolehkan kepalaku menuju arah yang dimaksud. Kulihat
wajah yan sangat tidak asing, raut wajah seorang gadis manis yang mampu membuat
seluruh raga ini menjadi diam, sediam langit malam. Gadis itu bernama Dia, seorang gadis yang
kusukai waktu aku masih duduk di bangku SMA. Namun, aku yang sangat pemalu ini
tidak dapat sedikitpun mengungkapkan hal itu kepadanya, karena aku takut jika
ia tidak dapat menerimaku apa adanya. Dia menyadari jika aku sedang memandangi
dirinya, Dia pun melihat kepadaku dan memberikan senyuman manis khas dirinya. Namun
aku terbelalak ketika melihat dibelakangnya terdapat sebuah mobil sedan yang
berkecepatan tinggi sedang menuju ke arahnya. Aku berlari menghampirinya dan
berteriak “Awas… !”. Kemudian aku menarik tangannya dan memeluknya erat, tepat
sebelum mobil itu sempat menabraknya. Mobil naas itupun akhirnya menabrak
sebuah pohon di pingir jalan dan terbelah dua. Aku sangat terkejut, hinga aku
sadar bawa Dia masih berada di dalam pelukanku, aku pun segera melepaskannya, dengan diliputi
oleh rasa gugup yang sangat dalam aku berkata “Astaghfirullah… Dia, bukan
maksudku untuk lancang dan…” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Dia
kemudian tersenyum kepadaku dan berkata “Terima Kasih… Terima Kasih kau telah
menyelamatkan nyawaku… “. Hal ini membuatku tak dapat berbuat apa – apa, karena
ini adalah percakapan pertama kita setelah beberapa tahun aku mengenalnya.
Aku
bersyukur atas kejadian itu, hubunganku dengan Dia membaik dan akhirnya kita menjadi
sepasang kekasih. Saat ini, aku dan Dia sedang menyusuri jalanan kota berdua,
Kini, kurasa telah saatnya kuberitahukan kepada Dia tentang Kematian yang
beberapa kali sempat mengirimi aku pesan dan semua pengalamanku yang berkaitan
dengan Kematian itu. Dia pun kemudian berkata kepadaku “ Tidak seharusnya kau
melawan takdir, kematian memang harus datang, kita harus tabah dan rela bahkan
jika kematian datang merenggut nyawa orang yang paling kita sayang”. “Namun aku
takkan rela jika saat itu kematian mengambilmu dariku” Balasku padanya. Ia
hanya membalas dengan senyumannya yang mampu melumpuhkan seluruh tubuh ini.
Kemudian kupasangkan satu bagian headset di telingaku dan bagian lainnya
ditelinganya, dan kumainkan lagu Eternal
Love yang mewakilkan apa yang ingin kusampaikan padanya. Lagu ini berakhir
tepat ketika kita akan menyeberangi sebuah persimpangan yang ramai. Kulepaskan headset itu dari telinganya dan kulihat
senyum itu masih menghiasi wajahnya. Namun, kedamaian ini terusik kala ponselku
mulai bergetar. Kulihat layarnya menunjukkan adanya pesan baru yang bertuliskan
:
“Aku telah
mempersatukan kalian,
Kini saatnya aku
mengambil salah satu dari kalian.
Kematian”
“Ada
apa?, mengapa kau tiba – tiba terlihat gugup ?” Tanya Dia penasaran. “Tidak ada
apa – apa” jawabku dengan maksud menenangkannya. Traffic Light berubah menjadi
hijau, pertanda saatnya kami untuk menyeberang. Mengabaikan peringatan tadi,
kami menyeberangi jalan ini berdua. Namun, kulihat dari arah barat melaju
sebuah truk dengan kencang menuju arah kami, aku segera melepaskan genggaman
tanganku dan mendorong Dia agar menjauh, kulihat Dia terduduk di atas terotoar
dan berteriak menunjuk arah truk itu. Spontan aku pun menoleh, kulihat sorot
lampu yang menyilaukan mata disertai suara klakson yang memekakkan telinga, dan
kemudian aku tidak merasakan apa – apa kecuali gelap.
3 komentar:
hahaahahaha
ending e so sweet ton
haha... Arigatou ^_^ ...
kakkoi
Posting Komentar