Perfect World Online Spear Thingy
"Dibalik Sebuah Pintu Ada Sebuah Misteri Yang Disegel Dengan Tujuh Segel"

Jumat, 14 Juni 2013

Terlepas dari Genggaman

Posted by Unknown on 18.34

Sumber Gambar : http://www.orientaloutpost.com

     Seperti biasa, pagi itu Sun Quan sedang duduk-duduk di pinggir lapangan istana, melihat ribuan prajurit di depannya yang sedang berlatih. Sementara Zhou Yu, yang berdiri di sebelahnya, memberikan pengarahan kepada para bawahannya. Meski bukan yang terkuat, prajurit kerajaan Wu terkenal dengan kecerdikan dan kemampuannya untuk bertarung di atas perairan. Membuat kerajaan lain harus berfikir masak - masak sebelum melancarkan serangan. 


     Dari kejauhan, terlihat gerbang istana terbuka, dan utusan Sun Quan telah tiba untuk melaporkan tugasnya. Utusan itu turun dari kudanya, berjalan menuju arah Sun Quan dan membungkuk, seraya berkata "Hormat Paduka, Liu Bei selaku penguasa dari Kerajaan Shu Han menoak tawaran paduka untuk menukar Kota Jingzhou dangan tujuh kota di perbatasan". "Baiklah kalau begitu, tugasmu selesai, kau boleh meninggalkan tempat ini" Jawab Sun Quan. "Hormat Paduka" Kata utusan itu seraya pergi meninggalkan Sun Quan. Sun Quan menghela nafas, berkali - kali ia mengajukan penawaran kepada Liu Bei untuk menyerahkan Kota Jingzhou yang strategis kepadanya, namun Liu Bei selalu menolak. "Zhou Yu, telah sekian kali kita mangajukan penawaran, dan selalu ditolak. Nampaknya kita membutuhkan sebuah siasat untuk mengambil kota ini dari mereka. Haruskah kita mengambilnya secara paksa ?" Sun Quan berkata kepada Zhou Yu. "Paduka, menyerang kerajaan mereka akan memutuskan kerja sama yang telah dijalin oleh kedua negara. Jika paduka melakukannya, hamba takut jika keadaan ini dimanfaatkan oleh negara lain untuk memperoleh kekuasaan" Jawab Zhou Yu. "Jadi, apakah kau mempunyai ide lain ?" Tanya Sun Quan. "Ya, kita harus berpura- pura membina hubungan yang lebih dekat dengan Liu Bei, kemudian mengundangnya menuju Kerajaan Wu dan menjadikannya sandera. Dengan demikian Kerajaan Shu akan menderita krisis kepemimpinan dan akan melakukan segala yang kita minta" Jawab Zhou Yu. "Cerdas... Kau sama sekali tidak pernah mengecewakanku, Zhou Yu. Segera perintahkan utusan untuk mengirim undangan kepada Liu Bei" Perintah Sun Quan. "Hormat, Paduka" Zhou Yu berkata seraya pergi untuk menunaikan tugasnya.

     ... ... ...

     Di kerajaan Shu, Liu Bei saat itu sedang bermain catur dengan Zhuge Liang kala utusan dari Wu datang untuk menyampaikan pesan. Setelah ia menerima surat dari utusan tersebut, lantas ia membacanya untuk melihat isi dari surat tersebut. Liu Bei yang cerdik, memahami bahwa undangan tersebut semata - mata hanyalah siasat lain dari Sun Quan untuk merebut Kota Jingzhou dari kekuasaannya. Maka dari itu, ia segera pergi menemui Zhuge Liang untuk meminta nasihat. 

     "Zhuge Liang, apa yang harus kulakukan ?, jika aku menolak undangan ini, aku akan dianggap menghina dan dapat memancing amarah Sun Quan. Sementara, jika aku menerimanya, aku juga beresiko untuk terperangkap di dalam jebakan mereka. Lantas, apa yang harus kuperbuat ?" Liu Bei berkata kepada Zhuge Liang. Zhuge liang hanya tersenyum, mengibatkan kipas bulu angsanya dan berkata "Selamat, Paduka sebenarnya ini adalah sebuah keuntungan bagi anda" Jawab Zhuge Liang. Mendengar jawaban tersebut, Liu Bei hanya bisa terdiam penuh kebingungan. "Paduka, anda tidak perlu khawatir. Saya akan meminta Jenderal Zhao Yun untuk menemani paduka selama perjalanan menuju Negara Wu" Sambungnya. Penjelasan Zhuge belum juga membuat Liu Bei merasa tenang, ia tahu bahwa Zhuge sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Meski demikian, ia tetap menuruti nasihat Zhuge untuk pergi menuju Kerajaan Wu dan menemui Sun Quan.

     Malam sebelum keberangkatan, Zhuge Liang menemui Zhao Yun yang nampak sedang mempersiapkan diri untuk keberangkatannya. "Zhao Yun, kuminta kau untuk membawa bungkusan kain ini, bukalah ketika kau akan memasuki gerbang Negara Wu" Perintah Zhuge Liang. Zhao Yun membungkuk untuk menerima bungkusan kain tersebut, dan berjanji untuk tidak gagal dalam menunaikan tugasnya.  Paginya, ketika Liu Bei akan bertolak menuju Kerajaan Wu, ia berpesan kepada Zhuge agar menggantikan tempatnya untuk memerintah Kerajaan Shu selama ia pergi. Zhuge hanya mengangguk dan tersenyum, sementara kereta kuda Liu Bei bertolak pergi meninggalkan kota.


      ... ... ...

     Sesuai dengan instruksi, ketika rombongan Liu Bei akan memasuki gerbang Negara Wu, Zhao Yun membuka bungkusan kain yang diterimanya dari Zhuge Liang. Sesampainya di kota, ia dan beberapa prajurit lainnya menyebarkan informasi kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa kedatangannya kali ini adalah atas undangan Sun Quan yang akan menikahkan adiknya dengan Liu Bei. Berita itu menyebar cepat dari mulut ke mulut, lebih cepat bagaikan angin utara, dan dalam beberapa jam berita itu telah menjadi berita nasional dan sampai ditelinga Sun Quan. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi Sun Quan, kecuali ia harus benar-benar menikahkan adiknya dengan Liu Bei. 

     Kini Sun Quan telah terjebak sendiri dengan siasat yang dibuatnya. Namun, ia masih belum mengaku kalah, ia meminta nasihat lain dari Zhou Yu untuk mengatasi keadaan ini. "Paduka tidak perlu khawatir, pernikahan ini hanya akan membuat Liu Bei tertahan di kerajaan ini untuk waktu yang lebih lama, dengan demikian, paduka tinggal menunggu waktu hingga Kerajaan Shu mengalami krisis kepemimpinan. Saya rasa, semua akan berjalan dengan lancar" Kata Zhou Yu. Sun Quan yang mendengar penjelasan Zhou Yu menjadi percaya diri, ia menggunakan adiknya untuk membujuk Liu Bei agar betah berlama - lama di Negara Wu. Ia juga menyediakan tempat tinggal dan kehidupan yang sangat mewah kepada Liu Bei.

     Beberapa bulan berlalu, Liu Bei yang sepertinya masuk ke dalam jebakan Sun Quan, menjadi lalai terhadap negaranya. Ia sangat menikmati kehidupannya di Negara Wu, sampai - sampai ia hampir tidak memperhatikan rakyatnya yang berada jauh di Kerajaan Shu. Maka, sesuai dengan instruksi Zhuge Liang, Zhao Yun kembali bertolak menuju Negara Wu untuk menyampaikan berita bahwa tentara Wei telah mendekati Kota Jingzhou dan bersiap untuk menyerang. Ia meminta kepada Liu Bei agar segera mengambil tindakan. Informasi palsu ini membuat Liu Bei tersadar, ia segera memohon izin kepada Sun Quan untuk pergi mengatasi ancaman ini. Sun Quan yang percaya begitu saja, mempersilahkan Liu Bei untuk pergi, karena keamanan Kota Jingzhou juga menjadi prioritas utamanya. Dalam benaknya, ia takut jika tentara Wei menguasai Kota Jingzhou, maka perjuangannya selama ini hanyalah sia - sia belaka. Liu Bei bersama permaisurinya segera menaiki Kereta Kuda dan bertolak kembali menuju Kerajaan Shu. 

     Beberapa waktu kemudian, datang sepucuk surat dari mata - mata Wu yang mengatakan bahwa Kota Jingzhou berada dalam situasi yang aman. Sun Quan yang merasa tertipu menjadi marah besar, dan segera memerintahkan segerombolan pasukannya untuk mengejar rombongan Liu Bei dan memaksa mereka untuk kembali menuju Kerajaan Wu, tak peduli meski mereka harus melakukan kekerasan untuk membuat Liu Bei kembali. 

    Perjalanan menuju Kerajaan Shu tinggal satu hari lagi. Liu Bei merasa senang karena telah terbebas dari jebakan yang dibuat oleh Sun Qua. Bukan hanya itu, kini ia juga membawa pulang seorang permaisuri yang cantik dari Kerajaan Wu. Namun tak lama kemudian datang sebuah kabar kepada Zhao Yun yang mengatakan bahwa tentara Wu sedang bergerak untuk menahan Liu Bei. Zhao Yun segera membuka bungkusan kain yang telah diberikan Zhuge Liang kepadanya, dan ia pun memerintahkan rombongan itu agar menghentikan langkahnya. Liu Bei yang terkejut segera bertanya "Zhao Yun, ada apa ?, mengapa kita berhenti ?". "Paduka, pasukan Wu sedang menuju kemari, dan hamba diberi perintah oleh Paduka Zhuge Liang untuk menghadapi mereka" Jawab Zhao Yun. "Apa ?, kita tidak bisa menahan mereka dengan pasukan seperti ini" Kata Liu Bei cemas. Zhao Yun hanya membalas dengan senyum, sementara dari balik matanya ia melihat pasukan Wu bergerak mendekati mereka. 

     "Kami membawa perintah dari Kaisar untuk menahan Liu Bei dan Permaisuri Sun untuk kembali menuju Kerajaan Wu !. Jika kalian menolak, kami diberi wewenang untuk bertindak kasar" kata seorang dari pasukan Wu. Zhao Yun tersenyum simpul, dan kemudian berkata "Bukankah yang berada di dalam kereta kuda ini adalah adik dari penguasa tunggal Kerajaan Wu ?, dan bukankah hukum di negara kalian berkata bahwa tiap orang yang mencelakai Tuan Puteri ataupun orang - orang disekitarnya akan dieksekusi ?. Jika kalian ingin bermain kasar, silahkan, Paduka ingin melihat pengeksekusian kalian besok pagi...", dan kemudian Zhao Yun memerintahkan kepada rombongan tersebut untuk pergi. Prajurit Wu hanya bisa terdiam, memandangi debu yang mengepul dari derap langkah Liu Bei yang telah bebas, terlepas dari cengkeraman.

0 komentar:

Posting Komentar