Perfect World Online Spear Thingy
"Dibalik Sebuah Pintu Ada Sebuah Misteri Yang Disegel Dengan Tujuh Segel"

Rabu, 06 Februari 2013

Buai Nada Di Atas Kesunyian

Posted by Unknown on 09.38

Sumber Gambar : www.nylonguitarist.com
Malam ...

     Menenggelamkan rona alam menuju kegelapa. Sebuah gagasan yang terlahir dari titah Dewa Langit kepada Matahari dan Rembulan 'tuk melakukan pergiliran. Ia datang dan hanya menyisakan sedikit cahaya temaram di ruas - ruas jalanan kota, dan kelak akan pergi ketika pintu fajar telah berderit di atas cakrawala.



     Malam yang biasa, dengan suasana yang biasa. Aku terduduk di dalam sebuah Cafe dengan segelas espresso yang mulai dingin di atas meja. Seperti malam - malam sebelumnya, aku selalu mendatangi tempat ini kala semua orang terlelap dan bermimpi akan kedatangan pagi. Aku mendatangi tempat ini untuk memainkan beberapa buah beberapa baris nada yang akan menyibak sunyi malam ini. Sudah menjadi kebiasaanku, setelah jam session itu berakhir, aku akan duduk di meja terpojok sambil menikmati segelas kopi dengan alunan melodi malam yang santai. Setelah sekian lama, kurasa gelas kopi ini telah kosong, pertanda bahwa aku harus mengakhiri kunjunganku malam ini.

Sunyi ...

     Itulah kesan yang terbesit tiap kali aku menyusuri jalanan yang menuntunku pulang ini. Mungkin akan ada satu atau dua kendaraan yang melintas disampingku 'tuk memecah sepi. Namun, kemudian ada sesuatu yang menarik pandanganku. Dari jauh samar - samar kulihat seseorang dengan tas gitar di tangan kirinya berjalan diantara cahaya redup lampu kota. Beberapa langkah dibelakangnyaada seseorang pemuda yang nampak sedang membuntutinya. Tiba - tiba dari dalam hatiku muncul perasaan curiga, apakah pemuda itu akan melakukan sesuatu yang membahayakan seseorang di depannya ?. Terdorong oleh rasa penasaran ini, aku berusaha mempercepat langkahku. Benar saja, kala aku mendekati mereka, pemuda itu menarik tas gitar dari tangan seseorang di depannya dan membawanya lari. "Tolong ... " teriak orang itu. Terdorong oleh naluri, aku segera berlari utnuk mengejarnya, dan dengan sedikit ilmu bela diri yang pernah kupelajari sewaktu SMA, aku berhasil merebut tas itu kembali dan membuat pemuda itu menjauh pergi. Kemudaian kuhampiri seorang dengan jaket hitam itu, menyodorkan tas gitar tadi seraya berkata " Kurasa ini milikmu ... ". Dia menyambutnya dan berkata "Terima kasih " seraya menatapku. Kulhat dari balik bayangan hoodie yang menutupi sebagian kepalanya itu, taerdapat wajah seorang gadis dengan matanya yang masih terlihat bersinar. "Namaku Dia" katanya seraya memberikan tangannya ke arahku. Aku pun menyambutnya dan memperkenalkan diriku kepadanya. Terdorong oleh rasa penasaran, aku bertanya kepadanya "Jadi, apa yang dilakukan oleh seorang gadis dengan tas gitar di tengah malam ? ". "Apakah kau keberatan jika kita berbicara sambil berjalan " ajaknya. "Oh.. tidak. Silahkan ... " Jawabku. Kemudian kami berdua berjalan  bersandingan menyusuri jalanan malam ini. "Aku sama sepertimu, aku selalu ke tempat itu juga untuk memainkan beberapa buah lagu " Jelasnya. " Benarkah ? ... lantas mengapa aku tidak pernah melihatmu disana ? " Tanyaku. "Kau mungkin tidak melihatku, namun aku selalu melihat permainanmu" jawabnya. "Country-mu lumayan juga " Sambungnya. Kemudian kami berjalan bersandingan sambil mengobrol tentang kisah - kisah yang mampu memudarkan keheningan malam. Hingga kami berhenti di depan sebuah gang yang gelap, dan ia berkata bahwa rumahnya tidak jauh dari sini. Kami berpisah, membuatku kembali sendiri, terkepung di dalam sepi.

   Sesampainya aku di tempat kost-ku yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari tempat kami berpisah tadi, aku melihat jam dinding menunjukkan pukul 2:15 pagi. Melalui jendela yang masih terbuka itu aku melihat skyline Kota Malang dengan wajahnya yang sedikit muram. Entah mengapa rasa kantuk masih belum menyentuhku, membuatku terlarut di dalam sebuah lamunan tentang seseorang yang baru saja melintas di dalam kehidupanku. Sesaat kemudian, kuambil gitar yang bersandar di sudut kamarku dan mulai memainkannya. Mungkin sedikit musik country yang santai dapat membuatku merasa hidup di tengah suasana yang lengang ini. Kemudian sejenak aku tersadar bahwa nanti aku harus memasuki jam kuliah pagi. Meskipun agak nanggung, akhirnya aku memutuskan untuk terlelap menunggu kehangatan pagi.

     Seperti hari - hari yang lalu, aku terbangun, melakukan rutinitas pagiku dan bertolak menuju kampus yang tak jauh jaraknya. Singkat saja, setelah jam kuliah yang agak membosankan itu berakhir, iseng - iseng aku berangkat menuju perpustakaan, bukan untuk mencari referensi tugas yang mulai menggunung, namun hanya untuk sekedar membuka facebook dan blog yang memang sudah menunggu untuk dibuka. Aku duduk di tempat biasanya, membuka laptop dengan tulisan TOSHIBA di bagian penutupnya, dan mulai menyalakannya. Tak berapa lama aku mendengar suara, "Hmm ... apakah itu nama aslimu ? " Sejenak aku terperanjat, nampaknya suara itu tidak asing bagiku, tanpa pikir panjang aku langsung memalingkan mukaku ke arah suara itu, dan benar saja, kulihat Dia sedang berdiri disampingku memandangi nama yang terpampang di profil facebook-ku. "Eh... kamu kuliah disini juga ?" begitulah aku mengawali percakapan kami yang akhirnya berujung pada sebuah janji. Ya... singkat cerita, aku dan Dia malam ini akan bermain bersama di tempat yang biasanya.

     Waktu menunjukkan pukul delapan tepat, setengah jam lagi aku akan mengawali duet perdanaku bersama Dia. Gugup ? ... kurasa tidak, meski aku tak seprofesional bapak - bapak senior yang biasa bermain denganku, aku percaya bahwa malam ini aku dapat memberikan sesuatu yang terbaik yang aku bisa. Sudah sekian waktu aku menunggu, namun masih tidak ada pertanda kedatangan Dia. "Ah... mungkin beberapa menit lagi" kataku kepada kesunyian. Tak lama kemudian kulihat seorang gadis dengan tas gitar yang menggantung di tangan kirinya. Aku pun segera melambaikan tangan ke arahnya, dan ia kemudian berjalan ke arahku, menarik bangku disebelahku dan berkata "Maaf, aku sedikit terlambat". "Santai aja, 15 menit lagi kita manggung " Kataku. Kami menghabiskan 15 menit itu dengan mendengarkan alunan lagu British Pop yang dimainkan beberapa orang yang ada di depan, hingga tiba saatnya bagi kami untuk menunjukkan kebolehan kami. Ia mengeluarkan sebuah gitar Fender yang terlihat elegan dari dalam tasnya, sedangkan aku memegang gitar Yamaha ku yang sudah terlihat usang. Tak lama kemudian, ia mulai memainkan Jam track Blues yang tak kuduga sebelumnya. Aku sedikit terkejut karena aku memang jarang memainkan jenis musik ini. Mencoba tetap terlihat cool, aku mengimbanginya dengan memainkan nada - nada pada skala Em Pentatonik yang susah - susah gampang. Entah permainanku nyambung atau tidak dengan permainan Dia, namun kita berdua sama - sama menikmatinya, demikian juga dengan penonton yang ada di dalam kafe kecil ini.

     Senyum yang terbesit dari wajah para penonton dan sedikit tepukan tangan menjadi penutup yang manis bagi pemainan kami. "Kakkoii !!! " katanya dalam Bahasa Jepang yang berarti 'keren' seraya menunjukkan jempolnya ke arahku. Aku hanya dapat membalas dengan senyuman karena kegembiraan ini membuatku kehabisan kata - kata. Begitulah seterusnya, aku dan Dia selalu mendatangi tempat ini untuk bermain musik. Bosan ? tidak, karena tiap harinya selalu terdapat sesuatu yang baru di dalam permainan kami. Dia telah membukakan pintu jiwaku tentang bagaimana persahabatan itu begitu indah. Ia datang bagai cahaya musim semi yang mampu menyibak gelap dan dinginnya musim salju yang selalu menyelubungi hatiku selama beberapa tahun belakangan ini. Sinar yang terpancar dari dalam dirinya menggerus bongkahan es yang memendam jiwaku sedikit demi sedikit. Entah mengapa kurasakan hitam - putih di dalam jiwaku perlahan - lahan mulai menampakkan warna - warna. Kedatangannya, dapat mengubah angin dingin yang biasa menyeruak di dalam tubuhku menjadi semilir angin hangat yang lembut dan ringan.

     ... ... ...

     Namun beberapa minggu kemudian datang sebuah perasaan ganjil, tidak seperti biasanya ia datang seterlambat ini. Jam dinding menunjukkan pukul 0:30, dan kulihat Dia masih belum menampakkan dirinya. "Ah... mungkin sebentar lagi " Ucapku kepada kesunyian. Begitulah seterusnya, aku menghabiskan waktu didalam kesendirianku. Hanya suara operator yang menjawab panggilan telefonku padanya, begitu juga belasan SMS yang kutulis tak ada satupun yang sampai kepadanya, tentu saja hal ini membuatku semakin bertanya - tanya. "Ah... mungkin dia sedang ke luar kota..." ujarku, dan kemudian aku meninggalkan cafe itu begitu saja. Kembali aku menyusuri malam di dalam kesendirian. Entah mengapa kurasakan ada firasat buruk yang terus menghampiriku, meski berkali - kali aku telah menghibur diriku. 

     Malam - malam itu terus berlanjut hingga pada suatu ketika ada seseorang yang menemuiku ketika adku sedang menyendiri di sudut café itu. Kulihat seorang perempuan yang seumuran dengan Dia berdiri di hadapanku. "Dia menyuruhku untuk menyampaikan ini kepadamu" katanya sambil menyodorkan secarik kertas yang terlipat rapi. "Tunggu" kataku tepat ketika ia hendak memalingkan badannya. "Siapa kamu ?, dan kemana Dia selama ini ?" lanjutku. Ia terdiam sejenak, dan kemudian berkata "Hm... sebenarnya beberapa hari lalu, Dia harus dirawat di rumah sakit karena kecelakaan yang dialaminya... " ia menghentikan kata - katanya. "Lalu,   apakah ia baik - baik saja ?" Tanyaku penasaran. Ia menundukkan kepalanya dan sejenak kemudian ia berkata "Tidak... kini Dia sudah beristirahat dengan tenang, kata terakhir yang diucapkannya adalah bahwa Dia menyuruhku untuk memberikan kertas ini kepadamu, dan hanya kamu yang boleh melihat isi di dalamnya" setelah ia menyelesaikan kata - katanya, ia pun pergi. Meninggalkanku kembali terlarut dalam renungan kesendirianku. 

     Mataku terbelalak memandangi secarik kertas yang tergeletak di atas meja ini. Sejenak aku berfikir tentang kenangan - kenangan persahabatan kita yang indah, yang kini rontok begitu saja ketika sepoi angin takdir datang untuk menggoyahkan ranting - ranting jiwa kita yang rapuh. Segera aku masukkan kertas itu ke dalam saku jaketku dan aku bertolak pulang. Sesampainya di sana, kutemukan diriu sedang terduduk sendiri di  atas rooftop kost - kosanku, merenung tentang nada - nada kesendirian yang kembali memainkan bait - baitnya dalam kehidupanku. Hidup kadangkala terasa sangat singkat, dan takdir kadangkala terasa sangat kejam. Rasanya baru kemarin takdir membawakanku seseorang yang bisa menyelamatku dari kesepian yang selama ini menjeratku, namun kini takdir kembali membawanya menghilang dari kehidupanku. Dalam kesunyian ini diam - diam kurogoh saku jaketku, dan perlahan kubuka lipatan - lipatan yang menyegel misteri di balik kertas itu, perlahan kulihat tulisan yang berjajar di dalamnya yang berkata : 
     
"Lakukan apa yang dapat membuatmu bahagia,
Tebarkan senyum kepada seluruh umat manusia,
Tertawalah selama nafas itu masih menyejukkan sukma,
Dan cintai seseorang selama nyawa masih menyatu di dalam raga... "

     Kemudian angin malam menerbangkan kertas itu dari genggamanku, menerbangkannya menuju pelukan kegelapan yang kini perlahan juga merengkuhku. Kembali kesunyian menyeruak di dalam diriku, dipadu dengan kenangan yang sedikit menggores batin dan meninggalkan luka yang menganga.

     ... ... ...

Epilog

     Langit tetap bergulir, dan aku masih terduduk dibawah lindungannya. Aku memandanginya hanya sebagai backdrop lamunanku saja. Kuambil MP3 dari dalam saku celanaku, kupasang headsetnya, dan aku  mulai memainkannya. Kudengar sebuah lagu dari L'arc~en~Ciel yang berjudul Fourth Avenue Café mengalun di dalam telingaku bersamaan dengan merekahnya pintu senja di atas cakrawala. Dalam lamunan ini aku berfikir bahwa mungkin takdir memberiku jalan ini karena ia tahu bahwa hanya aku yang mampu untuk menjalaninya. Mungkin... suatu saat nanti... kala suatu malam terbit di atas dunia yang sama sekali baru, kuharap kedua nada kita dapat kembali bersatu.-SA-

1 komentar:

Posting Komentar