Perfect World Online Spear Thingy
"Dibalik Sebuah Pintu Ada Sebuah Misteri Yang Disegel Dengan Tujuh Segel"

Kamis, 07 Februari 2013

Naungan Malam

Posted by Unknown on 13.29

Sumber Gambar : http://godsofart.com

   Malam telah berganti, namun kota ini masih nampak sepi. Terlihat di tepi kota, seseorang baru saja mengakhiri hari - hari kejenuhannya. Ia memasuki mansion-nya yang berdiri megah di pinggiran kota dengan mobil Mercedes-nya. "Ron, segera masukkan mobil ini ke dalam garasi, dan setelah itu temui aku di ruanganku" kata ornag itu kepada supir pribadinya. Ia segera keluar dari mobilnya, mengambil kunci rumah yang ada di dalam saku jasnya dan segera memasukinya. Terlihat di balik pintu mansion itu terdapat sebuah foyer yang megah dengan tangga yang melingkar di sisi kanan dan kirinya. Ia menaiki tangga itu, dan masuk menuju ruangannya, melepas jas italianya, dan menggantungkannya pada gantungan di sudut ruangan. Tak lama kemudian ia menyalakan musik klasik kegemaranya di tengah malam yang sunyi ini.
 
     "Hmm... kemana dia ?" ujarnya kepada kesunyian, mengeluhkan tindakan Ron yang selalu membuatnya menunggu. Maka untuk mengusik kebosanan ini, ia mendekati jendela di belakang meja kerjanya dan menyibak tirai panjang itu untuk dapat melihat pemandangan malam yang lengang. Namun bertapa terkejutnya dia, sedetik setelah ia membuka tirai itu muncul sesosok manusia berpakaian serba hitam, mengarahkan pistol tepat ke dahinya. Tak lama kemudian terdengar suara tembakan yang memecah kesunyian. Ron yang saat itu sedang menaiki tangga foyer terkejut dan segera berlari menuju ruangan tuannya, dimana di dalamnya ia mendapati tuannya telah tergeletak dengan sebutir peluru tepat bersarang di dahinya. Tanpa berfikir panjang, ia langsung menghampiri telefon yang ada di atas meja dan mengangkat gagang telefonnya. Belum sempat ia menekan tombol pada telefon itu, ia merasakan ada sesuatu yang aneh di kepalanya. "Kau tekan tombol telefon itu, aku tekan pelatuk pistol ini" kini ia menyadari bahwa ada seseorang dibelakangnya yang sedang menempelkan ujung pistol di kepalanya. "Tch... tak ada gunanya aku membiarkan kau tetap hidup" kata seseorang itu. Kembali suara tembakan memecah kesunyian malam ini.

   Ia berdiri di tengah ruangan dengan dua mayat tergeletak di dalamnya. Ia terdiam sejenak, dan kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. Terlihat ia memegang dua lembar kartu As Hitam, dan kemudian menaruhnya satu di atas setiap mayat. Tak lama kemudian ia meninggalkan mansion itu dan kembali menghilang di tengah kegelapan malam. 

... ... ...

     Mansion yang sepi itu, pagi ini terlihat sangat ramai. Terlihat mobil polisi berceceran di sekitar lokasi dan dua mobil ambulans terparkir di halaman mansion itu. "Apa yang kalian dapatkan ?" tanya seorang komandan kepada bawahannya. "Kami hanya dapat menemukan dua keping kartu ini" Jawab bawahannya. "Apakah tidak ada sidik jari ?" tanya komandan itu kembali. "Nihil, kami tidak menemukan sidik jari lain kecuali sidik jari kedua korban" jawabnya kembali. "Hmm... sepertinya ia memang terlatih untuk melakukan hal ini" Gumam sang komandan sambil meninggalkan ruangan itu. Kemudian ia menghampiri bawahannya yang lain dan bertanya "Rick, apa yang kamu ketahui tentang kedua korban?". "Menurut data kepolisian, Baron, korban pertama adalah seorang politisi yang beberapa bulan lalu terjerat kasus perdagangan senjata illegal dan hingga sekarang belum ditentukan apakah ia benar - benar terlibat dalam kasus itu, sedangkan Ron, korban kedua adalah sopir pribadi sekaligus butler di dalam rumah ini" jawab Rick. "Hmm... Baiklah" kata komandan itu singkat. 

... ... ...

     Di sisi lain kota ini, aku terduduk di dalam sebuah ruangan tepat di depan Dante, boss mafia yang menyembunyikan aksi kejamnya dengan menyamar sebagai pengusaha supermarket. "Bagus... Sergei, kau sama sekali tidak pernah membuatku kecewa" Itulah kata - kata yang kudengar dari mulutnya. Ya... aku adalah pembunuh itu, seseorang yang membunuh untuk memenuhi kepuasannya semata. Suatu kejadian suram beberapa tahun lalu membuatku berhutang budi kepadanya,  dan hal itu pula yang membutaku berakhir seperti ini. Aku terjebak di dalam situasi dimana aku sama sekali tidak bisa lari, maka aku tidak punya pilihan lagi selain menjalani pekerjaan yang menurutmu keji. 

     "Tequilla ?" katanya sambil menyodorkan sebotol tequilla di tangan kirinya dan gelas kosong di tangan kanannya. Aku hanya mangangkat tanganku sebagai isyarat bahwa aku menolak tawarannya. "Hmph... itulah dirimu, tidak banyak berbicara, tapi mengagumkan tindakannya" Katanya memujiku. Setelah ia teguk tequilla yang ada di gelas itu, ia duduk di depanku dan berkata "Jadi, aku mempunyai sebuah pekerjaan besar untukmu. Kau tahu... walikota yang baru ini sangat menyulitkan pekerjaanku, selain ia menetapkan pajak yang tinggi yang merugikan supermarketku, ia juga memperketat kegiatan ekspor-impor di pelabuhan, dan tentu saja itu sangat mengkhawatirkan bagi kegiatan jual-beli senjata milikku. Bagaimana ?... apa kau bersedia melakukannya ?". "Kapan aku harus membunuhnya ?" tanyaku kembali. "Hari senin ini, ketika ia menghadiri peresmian gedung teater baru di tengah kota" Jawabnya. Aku berdiri dari tempat dudukku dan berkata "Baiklah, aku tidak akan kembali jika aku tidak berhasil membunuhnya" 

... ... ... 

     Hari yang ditunggu telah tiba, aku sedang menyendiri di dalam sebuah kamar hotel, dengan jendela menghadap ke arah gedung teater yang baru itu. Aku merangkai sniperku, memasang peredam pada barrelnya, dan menaruhnya di atas mount dan menunggu saat yang tepat untuk melancarkan tembakan. Kulihat melalui rifle scope-ku orang - orang berkumpul di depan halaman gedung itu, membentuk kerumunan, berteriak dan bersorak untuk mengelu - elukan walikota yang tak lama lagi akan aku kirim menuju alam baka. Kulihat walikota itu naik ke atas podium dan mulai menyampaikan pidatonya yang kosong dan penuh bualan. Entah apa yang ada di dalam pikiran orang - orang itu, mereka tetap antusias menyorakinya seolah - olah di depan mereka berdiri seorang kesatria yang kembali dari medan peperangan dengan membawa sebuah kemenangan yang bermakna. 

     Peganganku sudah mantap, sasaranku telah terbidik tepat. "Sei morto !... " Kataku sambil menekan pelatuk senapan laras panjang buatan Russia ini. Kulihat pria malang itu terjungkal dengan peluru tajam yang mendarat di kepalanya. Kerumunan yang ceria itu mendadak kalap, orang - orang berlarian kesana kemari di dalam kekacauan, sedangkan para polisi dan intel yang bersiaga berhamburan mengamankan lokasi. Aku dengan tenang mengemasi sniper yang kurangkai tadi, memasukkannya ke dalam ransel dan pergi menuju lobby hotel. Tak lupa kutinggalkan tanda berupa kartu As Hitam sebagai tanda bahwa aku ada disini. Aku menghampiri resepsionis yang sedang menjaga sendirian di balik meja pelayanan itu dan berkata "Tolong cek kamar 44 !". Ketika resepsionis itu pergi, aku merobek beberapa lembar buku tamu yang ada di meja dan memasukkannya ke dalam saku ku. Aku segera mencari pintu belakang hotel ini, dan kemudian pergi menjauh dari lokasi ini.

... ... ...

     "Jadi, bagaimana ciri - ciri orang itu ?" tanya komandan pada resepsionis yang duduk gemetar di depannya. "Mmm... dia... berkulit hitam... dengan tinggi sekitar 170 cm... memakai jas dan topi fedora warna hitam...  " jawab resepsionis itu. "Itu saja ? " tanya komandan poisi itu penasaran. "Ia menyuruhku untuk pergi menuju kamar 44 dan aku tidak menemukan apapun di sana kecuali kartu as yang kuberikan padamu tadi" jawabnya. "Hmm... benarkah ?... anak buahku telah menggeledah semua kamar di hotel ini dan tidak menemukan sedikitpun bukti, dan ketika kami melihat buku tamu, buku tamu itu pun telah robek dan identitas orang yang check in selama sehari ini juga sama sekali tidak diketahui" ia menghentikan perkataannya sejenak dan menghela nafas panjang. "Kau adalah saksi kunci kami, tapi keterangan yang kau berikan itu belum dapat memberikan suatu pencerahan bagi kasus ini" lanjutnya. "Hm... ya sudahlah..." katanya sambil meninggalkan ruang interogasi ini. "Rick, nampaknya pembunuhan kali ini masih mempunyai hubungan dengan pembunuhan - pembunuhan sebelumnya, apakah kau memiliki gambaran tentang siapa pembunuhnya? " tanya komandan polisi itu kepada Rick. "Belum, selama ini bukti yang kita punya hanyalah kartu As Hitam ini pak" jawab Rick. "Hm... nampaknya ini semakin rumit saja" Gumam komandan polisi itu. 

... ... ...

     "Haha... Bravo... kau menyelesaikan pekerjaanmu dengan sangat baik" Kata Dante kepadaku. "Aku hanya menjalankan tugasku" jawabku. "Rokok ?" katanya sambil menyodorkan satu pak rokok kepadaku. "Tidak, terima kasih" jawabku. Kemudian ia berkata "Hmm... baiklah... kau tahu Vincent?... teman lamaku ?... ia adalah kepala polisi di kota ini, setelah berkali - kali pembunuhan yang kau lakukan, aku ragu bahwa suatu saat ia akan menemukanku dan tentunya hal itu sangat membahayakan bagi keberadaan kita..." Sejenak ia menghisap rokok yang menyala di sela - sela jarinya, dan kemudian melanjutkan perkataannya "Aku mau kau membunuhnya, dan kali ini aku minta kau berhati - hati, karena para polisi semakin memperketat penjagaannya sejak walikota itu tewas di tanganmu". "Jangan khawatir... akan kusingkirkan semua orang yang menghalangi jalanku" kataku. "Dingin dan berbahaya... aku sangat menyukai itu dari dirimu... pergilah... dan pastikan aku tetap melihatmu kembali di sini" ujarnya. Aku pun berdiri, mengambil jas ku dan melangkah pergi.

     Malam telah menyelimuti kota ini, saat nya aku beraksi. Kudengar komandan polisi itu sedang mendatangi sebuah street café di sudut kota. Haha... entahlah dia sedang berbuat apa, aku pastikan ia mendapatkan malam terbaik sebelum ajal menjemputnya. Aku memarkir mobilku tepat di seberang jalan café itu, mengambil senapan thompson-ku, menyematkan kartu As hitam pada topiku dan bersandar di sisi mobilku. Tidak ada yang menyadariku di tengah malam ini, karena ketika malam tiba, kota ini akan menjadi sangat sepi, dan bahkan kau dapat mendengar raungan kereta listrik yang bergerak di kejauhan. Tak lama aku menunggu, kulihat pintu café itu terbuka, kulihat kepala polisi itu bersama sekitar 15 anak buahnya melangkah keluar café itu, tanpa pikir panjang dari balik mobil ini aku berdiri dan menodongkan senjata ke arah mereka. Mereka terbelalak melihat ku berdiri dengan kartu As hitam yang menempel pada topiku. Sebelum mereka sempat mengambil senjata, kuberondongkan peluru ini tanpa arah hingga mereka kocar - kacir, terlihat beberapa mayat tergeletak di depan pintu café, termasuk mayat si kepala polisi, sedangkan yang lainnya bisa menghindar dan membalas tembakanku. Namun tak lama kemudian, kurasa kesialan menghampiriku, senapan thompson yang kupegang tiba - tiba macet dan tak bisa menembakkan peluru, dan saat itu juga kurasakan sebuah peluru bersarang di pundak kananku. Tanpa berfikir panjang aku pun mengambil handgun dari sabukku, dan menembakkannya ke arah mereka selagi aku berlari menyelamatkan diri.

... ... ...
     
     "Markas, kami memiliki sembilan korban di persimpangan Jack, tepat di depan café. kami butuh bantuan segera!... Suspect mempunyai tanda As hitam pada topinya dan berlari menuju jalan Clover" kata seorang polisi di depan café itu. Beberapa saat kemudian terdengar sirine meraung - raung dan mereka segera bergegas mengejarku.

... ... ...

     Aku tetap berlari dan menahan rasa sakit, peluru di dalam pistolku telah habis, namun aku tetap memegangnya. Kudengar dari kejauhan suara sirine mobil polisi menggema, semakin dekat, dan semakin dekat. Kulihat cahaya lampu menyorotiku, bersamaan dengan suara dari sebuah speaker yang berkata "Jangan bergerak, atau anda kami tembak !". "Tch... ancaman kosong" ujarku, aku menghentikan langkahku, mengangkat tanganku, dan segera berlari sekuat tenaga ke dalam sebuah gang kecil di sisi jalan. Kudengar beberapa kali letusan tembakan, namun tidak ada satupun yang mengenaiku. Tanpa mempedulikan mereka, aku terus berlari, dari balik kesunyian ini aku mengetahui bahwa dibelakangku ada dua orang polisi yang sedang mengejarku. Mereka berkali - kali melepas tembakan, namun tidak ada satupun yang mengenaiku. Aku terus berlari mengikuti gang itu hingga pada suatu saat langkahku terhenti pada suatu lapangan basket dimana kulihat mobil polisi berjajar dengan squad lengkap, mulai dari penembak jitu hingga anjing pelacak. "Dante, nampaknya malam ini aku tidak akan kembali" ujarku pada diriku sendiri. Segera kutodongkan pistol kosongku ke arah mereka, dan berpura - pura menarik pelatuknya untuk melepas tembakan. Mereka yang mengira hal itu sebagai ancaman, langsung melepaskan tembakan kearahku tanpa ampun. Kurasakan beberapa butir peluru menembus tubuhku dan membuatku rebah di atas tanah. Kulihat temaram cahaya lampu bersinar di atas kekalahanku, dan setelah itu kegelapan bayang - bayang malam membawaku pergi. -SA-

1 komentar:

Molchaniye . Noch' . Smert' . Vsegda tak, da?

Posting Komentar