![]() |
| Sumber Gambar : http://www.wallcoo.net |
Masa remaja memang membosankan, itulah pikiran yang terbesit dalam benak Ananta tiap kali ia menjalani harinya. Sudah menjadi kebiasaan, pagi - pagi sekali ia akan mengenakan seragam abu-abu putih kebanggaannya, dan sepulang sekolah, ia akan menghabiskan harinya di dalam rumah. Di sana, Ananta seringkali menghilangkan kebosanannya dengan bermain musik. Untuk tingkatan anak SMA, permainan dan selera musiknya bisa dibilang di atas rata - rata. Ia pandai memainkan berbagai alat musik, mulai dari gitar, piano, hingga biola. Namun, ia lebih memilih seruling sebagai "Senjata pamungkasnya".
Ia mengangkat pintu garasi rumahnya, memasukkan motornya yang berdebu, dan kemudian menutupnya kembali. Lantas ia segera bergegas menuju kamarnya, menghidupkan laptopnya, dan mulai memainkan playlist kesukaannya. Seringkali ia hanya berbaring di dalam kamarnya, menatap langit - langitnya yang pucat sembari mem-visualisasikan irama musik yang berdengung di telinganya. Tak lama kemudian, karena terlalu terbuai oleh alunan musik yang didengarnya, ia pun jatuh terlelap.
Disana ia bermimpi, tentang sebuah ketenangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia melihat sinar mentari pagi yang menembus celah dedaunan. Memantulkan kilau embun di atas rerumputan yang lembut membelai telapak kakinya, sebagaimana ia melangkah perlahan menemui cahaya. Dari arah cahaya itu ia melihat seorang perempuan sedang bermain seruling dengan indahnya, rambutnya yang terbuai oleh angin sepoi semakin menggugah rasa penasaran Ananta untuk mendekatinya. Namun, belum sempat ia meraihnya, kenyataan kembali mengetuknya untuk kembali menuju dunia nyata.
"Sial, ternyata hanya mimpi!" Ujarnya kesal. Ia mengarahkan pandangannya menuju jam dinding yang menunjukkan angka 19:00, dan kemudian ia memeriksa laptopnya yang ia tinggalkan dalam keadaan stand-by. Ia mengecek halaman facebook-nya dan menemukan bahwa tidak ada satupun pemberitahuan yang mampir di dalam profilnya, lantas ia mengambil seruling yang tergeletak di meja kamarnya dan mulai memainkannya. Betapa terkejut ia, kala ia sayup - sayup mendengar suara seruling lain selain miliknya. Ia perlahan menaruh serulingnya, dan suara itu masih dapat ia dengar. Ia membuka pintu kamarnya dan mulai mengikuti asal dari suara tersebut, hingga ia berada di depan pintu basement rumahnya yang selama ini dijadikan sebagai gudang. Suara itu langsung menghilang kala ia membuka pintu basement itu. Di dorong oleh rasa penasaran, ia pun mencari tahu dar mana asal muasal suara itu. Tak lama kemudian, rasa penasarannya terpenuhi, kala nalurinya mengatakan agar ia mengambil sebuah kotak di sudut ruangan yang ternyata berisikan sebuah seruling.
"Wah... belum pernah aku melihat seruling seindah ini" Ujarnya sembari memandangi ukiran pada seruling kayu yang memang terlihat menarik. "Mungkin harus kucoba, apakah suara yang dihasilkannya seindah penampilannya" Ujarnya lagi, dan kemudian ia mulai meniup seruling itu. Belum sempat ia memainkan beberapa nada, ia dikejutkan dengan fenomena 'aneh' lainnya. Ketika ia baru saja meniup seruling itu, cermin yang berada didekatnya langsung memancarkan cahaya, memancarkan sebuah pemandangan yang persis dengan apa yang ia lihat di dalam mimpinya. Didorong oleh rasa penasaran, ia pun mendekatkan dirinya dengan cermin tersebut, yang dalam sekejap mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata yang membuat ia menjadi tak sadarkan diri.
Ia terbangun, dan menemukan dirinya tengah berada di dalam dunia 'angan - angan' yang dilihatnya di dalam mimpi. "Dimana ini ?... apa yang terjadi ?" ujarnya kala kebingungan mulai memasuki fikirannya. Ia menemukan dirinya sedang terbaring dengan seruling yang masih berada pada genggaman tangannya. Ia pun berusaha membuang jauh kebingungannya dengan mulai memainkan serulingnya yang membuat dirinya merasa lebih tenang. Namun, ia kembali dikejutkan ketika dunia disekelilingnya mulai berubah seiring dengan ritme yang dimainkannya. Antara bingung dan takjub, ia pun meneruskan permainannya. Pemandangan yang tadinya berupa suasana perbukitan di kala pagi kini berubah menjadi pemandangan pesisir laut di kala senja. Ia semakin menikmati permainannya, hingga terdngar suara seruling lain yang datang sekejap bagaikan prahara, yang mengubah pemandangan indah itu menjadi barisan pegunungan gersang dengan batuan cadas yang menjulang membentuk kawah besar. Seketika itu juga ia menghentikan permainannya, dan mulai menatap dunia dengan pandangan yang masih menyimpan tanda tanya.
"Hentikan !", seketika itu juga muncul seorang perempuan yang seusia dengan Ananta, sedang berjalan mendatanginya. "Kamu pikir apa yang sedang kamu lakukan ?" bentak gadis itu. "Mmm... aku hanya bermain seruling." Jawabnya. " Ya... aku tahu itu. Tapi kenapa kamu seenaknya merubah pemandangan di wilayahku ?" kata gadis itu. "Oh... jadi ini wilayahmu ?. Maaf, aku tak tahu jika ada orang lain yang tinggal di tempat ini." Jawabnya. "Hmm... Ya sudahlah..." Ujar gadis itu. Sejenak kesunyian hadir di antara kedua remaja itu. "Jadi, siapa kamu sebenarnya ?" tanya Ananta penasaran. "Namaku Kadek, dan kamu ?" tanya gadis itu. "Namaku Ananta, jadi bagaimana kamu bisa sampai ke sini ?" ia kembali bertanya. "Sama denganmu, seruling inilah yang membawaku ke dalam dunia ini" jawabnya sembari menunjukkan sebuah seruling dengan ukiran yang hampir sama dengan seruling milik Ananta. Hanya saja seruling yang dipegangnya nampak terbuat dari gading, sementara milik Ananta terbuat dari kayu eboni.
"Jadi, bagaimana kamu bisa datang kesini ?" gadis itu bertanya kembali. "Entah... hal terakhir yang kuingat adalah aku sedang bermain seruling, dan sekejap kemudian aku telah berada di sini. Mungkin seruling ini memiliki kemampuan ajaib, atau aku hanya berhalusinasi ?" ujarnya. "Tidak... semua yang kau lihat disini bukanlah mimpi." jawabnya. "Jadi, kamu telah melihat semua keajaiban yang ditimbulkan oleh seruling itu, benar ?" sambungnya. "Sebenarnya, aku masih bingung. Bagaimana seruling ini bisa merubah dunia ini sesuai dengan ritme yang dimainkannya ?" Ananta bertanya heran.Gadis itu tersenyum simpul, dan kemudian berkata "Kamu lihat ?... kini kamu mempunyai kekuatan untuk mengubah dunia. Kanvasmu adalah dunia ini, dan kuasmu adalah ritme yang dimainkan oleh serulingmu."
"Aku tak pernah menyangka bahwa hal ini bisa menjadi nyata" ujar Ananta dengan penuh rasa takjub. "Munkin hal ini mustahil untuk dilakukan di dunia nyata. Namun di sini, semua bisa terjadi, yang kamu butuhkan hanyalah sedikit imajinasi, dan lihatlah keajaiban yang datang menyertainya." gadis itu menjelaskan kepada Ananta. "Mungkin kta harus mencoba berduet." ajak gadis itu. "Baiklah." jawabnya singkat. Kemudian mereka berdua mulai berhadapan satu sama lainnya dan mulai memainkan seruling mereka masing - masing.
Kala nada kedua remaja ini mulai bertemu, dunia disekeliling mereka mulai berubah perlahan. Mereka merasakan angin lembut yang datang dari utara, mengubah pemandangan yang tadinya berupa batu cadas menjadi sebentang padang rumput yang dikelilingi pegunungan dengan bunga - bunga indah yang bertebaran. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai merasakan 'jiwa' dari permainan musik mereka yang semakin intense. Bersama, mereka membuat pemandangan hiruk-pukik kota di saat malam, scene hutan lebat yang penuh petualangan, suatu negeri yang mengambang di atas awan, dan suasana - suasana lain yang hampir tidak dapat mereka temukan di kehidupan mereka. Hingga sampai pada suatu saat mereka mengakhiri permainan mereka dan mulai memandangi satu sama lainnya.
Pemandangan seketika berubah menjadi wujud suatu kota sunyi bergaya Andalusia yang menghadap lautan yang berkilau memantulkan cahaya senja. "Kulihat dari permainanmu, dan aku merasa bahwa kau sedang kesepian ?" ujar Ananta. "Dan aku melihat dari permainanmu bahwa kamu bersedia untuk menjadi temanku" jawab gadis itu. Kemudian mereka berdua berbagi senyum, dan Ananta kembali bertanya "Mm... Ngomong - ngomong, kamu berasal dari mana ?". "Aku berasal dari Bali, kamu ?" gadis itu bertanya. "Aku berasal dari Malang" jawabnya. Mereka berdua lantas duduk di sebuah balkon alun - alun kota yang tepat menghadap cakrawala, di sana mereka dapat melihat seisi kota dengan pantainya yang berkilau keemasan.
"Jadi, bagaimana kehidupanmu yang sebenarnya ?" gadis itu memulai percakapan diantara mereka. "Mm... jujur aku merasa bosan. Meski aku melalui masa kecil yang sangat mengagumkan, namun aku mulai lelah dengan semua kehidupan remaja ini. Kehidupan sekolah membuatku sedikit tertekan, ditambah lagi aku tidak mempunyai teman yang selalu ada di sisiku, yang mampu mengiringi perjalananku. Tapi, ketika berada di sini aku merasakan sesuatu hal yang berbeda. Entah bagaimana aku dapat merasakan diriku terlepas dari semua beban yang kutanggung sebelumnya. Dan... kamu?." Ananta mengembalikan pertanyaannya. Sejenak gadis itu menghela nafas, dan kemudian berkata "Hm... jujur, aku pun seringkali menyendiri, orang tuaku hanya memiliki sedikit waktu untuk berbicara denganku. Maklumlah, mereka sering meninggalkan rumah untuk mengurusi pekerjaannya. Jadi ketika aku sedang sendiri, aku seringkali memainkan seruling ini untuk menghilangkan kesendirianku. Beberapa bulan lalu, aku berkata kepada ibuku bahwa aku ingin menjadi seorang pemain seruling, dan kamu tahu apa jawabnya ?. Ia hanya menertawakanku dan menganggap bahwa itu adalah sebuah pekerjaan yang remeh. Pada saat itu aku sedikit kehilangan semangatku, dan satu-satunya hal yang kulakukan hanyalah duduk merenung di dalam kamarku." Ia mulai meneteskan air mata, hingga Ananta berusaha menenangkannya.
"Sudah... jangan terlalu bersedih, lihatlah semua yang telah kamu lakukan. Kamu telah membuat tempat yang menakjubkan ini. Semua orang memainkan musik, namun hanya sedikit yang bisa merasakannya, bahkan mungkin hanya orang - orang tertentu yang bisa meng-imajinasikan musik mereka. Jika tiap orang di dunia bisa melihat semua ini, seluruh dunia akan mengakui bahwa bakatmu sungguh luar biasa!." Ujarnya. "Hmm... aku tidak pernah memintamu untuk mengatakan semua itu, namun terima kasih Ananta... Terima kasih" jawab gadis itu. Mereka berdua terdiam sejenak dan mulai berbagi senyum dan memandang satu sama lain.
"Jadi, menurutmu kapan kita harus kembali ?" gadis itu bertanya. "Kembali ?, apakah kita harus meninggalkan tempat ini ?" Ananta bertanya heran. "Ya... ketika aku membeli seruling ini, aku menemukan secarik kertas yang menjelaskan keajaiban yang dimiliki olehnya. Beberapa waktu lalu aku mencobanya dan hal itu membuatku terbangun di tempat yang asing ini." gadis itu menjelaskan. "Dan... apa isi dari kertas itu ?" Ananta bertanya penasaran. Gadis itu mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya, dan menunjukkan kepada Ananta apa yang tertulis di dalamnya :
Ananta melipat kertas ini setelah ia selesai membacanya. "Menurutmu, siapa yang menulis semua ini ?" ia bertanya penasaran. "Entahlah, mungkin kita akan segera mengetahuinya bersama. Jadi bagaimana menurutmu ?, kapan kita bisa kembali ?" tana gadis itu. "haha... omong kosong, aku tidak akan meninggalkan dunia yang sempurna ini dan kembali menuju duniaku yang suram" kata Ananta. Ia kemudian meremas lipatan kertas itu dan membuangnya jauh - jauh. "Bisakah kita bermain sekali lagi ?" ajaknya. Gadis itu menyanggupinya dan mulai memainkan serulingnya.
Pada saat ini, mereka telah mengenal satu sama lain dengan baik. Mereka membuat dan memberikan perasaan mereka melalui nada - nada seruling mereka. Mereka tahu bahwa ada saat dimana mereka harus berpisah, namun mereka berharap masih bisa bersama. Mereka menghentikan permainan mereka dan berjalan mendekati satu sama lainnya. "Jadi, apa yang kamu pikirkan ?, apakah kita lebih dari yang kita pikirkan... atau... umm... kita hanya... normal ?" Ananta bertanya gugup. " Hmm... nampaknya da sesuatu yang spesial di dalam dirimu, Ananta. Dan kamu yang bisa membuatku berarti" jawab gadis itu. Kemudian kesunyian kembali hadir diantara mereka.
Belum sempat Ananta mengatakan sepatah kata, dari kejauhan muncul awan badai besar yang terlihat semakin mendekat. ereka berdua terkejut dan melemparkan pandangannya ke arah badai itu. "Apakah ada orang lain selain kita ?" Tanya Ananta heran. "Entahlah" jawab gadis itu singkat. kemudian mereka melihat awan hitam menggumpal membentuk sesosok makhluk tinggi besar, yang sayapnya menutupi sebagian langit, dan tanduknya yang panjang. "Kalian telah melanggar perjanjian, dan kini kalian harus dilenyapkan" ujar makhluk itu dengan nada yang menggelegar. Tak berapa lama dari balik cakrawala muncul rombongan pasukan perang. Entah darimana mereka datang, prajurit itu berjumlah ribuan, dan mungkin masih banyak lagi.
"Lari, selamatkan dirimu!" perintah Ananta kepada gadis itu. "Tidak, kita harus menghadapi ini bersama - sama" jawabnya. Mereka berdua segera mengangkat serulingnya dan mulai memainkannya. Melalui permainan serulingnya, mereka membuat sebuah topan raksasa yang berhasil memporak - porandakan lini depan dari pasukan itu. Namun pasukan itu tetap datang seperti tak ada habisnya, maka mereka membuat sebuah palung dalam yang memisahkan daratan yang mereka pijak dengan pasukan tersebut. Untuk sejenak mereka merasa tenang, hingga mereka sadar bahwa tak jauh dibelakang mereka sosok raksasa itu berdiri. Alih - alih merasa aman, kini mereka terpojok dengan rencana yang bereka buat sendiri.
"Nampaknya kisah kalian berakhir disini." ujar makhluk itu. "Kalian telah membaca perjanjian itu, dan kalian telah melanggarnya. Manusia memang tamak, dan kini kalian akan dimusnahkan." sambungnya. "Ucapkan selamat tinggal!." ujar makhluk itu sembari perlahan melayangkan kepalan tangannya ke arah mereka berdua, yang mungkin akan membuat mereka berdua remuk karenanya. "Apakah kita akan selamat melewati ini ?" Tanya Ananta. "Kita lebih baik dari yang kita fikirkan, kita memang terlahir untuk semua ini, dan ditakdirkan untuk melalui semua ini bersama" Jawab gadis itu. ". "Baiklah." ujar Ananta singkat, ia mulai memainkan serulingnya, berharap ritme nada yang dikeluarkannya dapat menjadi suatu hal yang mampu menghalau serangan raksasa itu. Sedetik kemudian gadis itu juga mulai memainkan serulingnya, dan terlihat secercah cahaya mulai menyala dari dalam diri mereka. Cahaya itu semakin terang dan semakin terang, danna mulai memenuhi dunia yang mulai runtuh itu. Dan dalam hitungan detik, mereka telah menghilang dari dunia dimana mereka menemukan bagian yang 'hilang' dari dalam diri mereka. Mungkin mereka akan tersadar bahwa tidak ada dunia yang sempurna, tidak ada manusia yang sempurna, dan tidak ada suatu hal yang sempurna. Namun, dengan rasa saling memiliki satu - sama lainnya, mereka akan membuat dan berbagi hal yang mereka sukai dan membuatnya sesempurna mungkin.
... ... ...
Ananta terbangun, menemukan dirinya tergeletak di basement rumahnya dengan tangannya yang masih menggenggam seruling itu. Tepat disisinya berdiri cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Ia terbangun, ia meraba cermin itu dan berusaha untuk kembali masuk kembali ke dalam dunia itu, namun ia tak dapat menemukan apapun kecuali cermin yang terus menerus menampakkan bayangan dirinya. Ia mencoba meniup seruling yang ada di tangannya, dan terus memandangi bayangannya yang berada di dalam cermin, berharap ia dapat kembali ke dalam dunia itu untuk yang terakhir kali. Namun usahanya sia - sia, ia menjatuhkan serulingnya, memukul - mukul permukaan cermin itu ketika ia merasakan air mata mulai menuruni pipinya. Dia tertunduk, memandangi kekosongan didepannya selagi merangkai serpihan memori indah yang dialaminya sejenak tadi. "Ah.. mungkin itu hanya mimpi yang lain belaka" ujarnya menghibur diri. Meski demikian, ia merasa bahwa mimpi itu terjadi sangat nyata, meninggalkan beberapa pertanyaan yang masih membekas dalam batinnya.
Ia segera naik menuju dapur, melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 20:00 tepat. Kemudian ia mengambil segelas air putih untuk sedikit me-refresh pikirannya yang sedang kacau. Ia masih terbayang akan kenangan ketika ia berada di dalam dunia itu, ketenangannya, keindahannya, dan terlebih lagi ia bertemu dengan Kadek, gadis yang belum pernah ia lihat selama hidupnya, yang sejenak ia temui namun mampu meninggalkan jejak kaki yang abadi di dalam hatinya. Kemudian ia mulai berjalan menuju kamarnya, ia melihat laptopnya yang berada dalam keadaan stand-by. Tanpa berfikir panjang, ia mulai memainkan laptopnya dan betapa terkejutnya ia, kala ia melihat sebuah permintaan pertemanan baru di halaman facebooknya, dan terlebih lagi permintaan tersebut berasal dari Kadek, gadis yang ditemuinya di 'dunia mimpi' tersebut. Ia pun tertawa pendek, dan berkata dalam batinnya bahwa itu adalah mimpi paling nyata yang pernah ia rasa. -SA-
"Jadi, bagaimana kamu bisa datang kesini ?" gadis itu bertanya kembali. "Entah... hal terakhir yang kuingat adalah aku sedang bermain seruling, dan sekejap kemudian aku telah berada di sini. Mungkin seruling ini memiliki kemampuan ajaib, atau aku hanya berhalusinasi ?" ujarnya. "Tidak... semua yang kau lihat disini bukanlah mimpi." jawabnya. "Jadi, kamu telah melihat semua keajaiban yang ditimbulkan oleh seruling itu, benar ?" sambungnya. "Sebenarnya, aku masih bingung. Bagaimana seruling ini bisa merubah dunia ini sesuai dengan ritme yang dimainkannya ?" Ananta bertanya heran.Gadis itu tersenyum simpul, dan kemudian berkata "Kamu lihat ?... kini kamu mempunyai kekuatan untuk mengubah dunia. Kanvasmu adalah dunia ini, dan kuasmu adalah ritme yang dimainkan oleh serulingmu."
"Aku tak pernah menyangka bahwa hal ini bisa menjadi nyata" ujar Ananta dengan penuh rasa takjub. "Munkin hal ini mustahil untuk dilakukan di dunia nyata. Namun di sini, semua bisa terjadi, yang kamu butuhkan hanyalah sedikit imajinasi, dan lihatlah keajaiban yang datang menyertainya." gadis itu menjelaskan kepada Ananta. "Mungkin kta harus mencoba berduet." ajak gadis itu. "Baiklah." jawabnya singkat. Kemudian mereka berdua mulai berhadapan satu sama lainnya dan mulai memainkan seruling mereka masing - masing.
Kala nada kedua remaja ini mulai bertemu, dunia disekeliling mereka mulai berubah perlahan. Mereka merasakan angin lembut yang datang dari utara, mengubah pemandangan yang tadinya berupa batu cadas menjadi sebentang padang rumput yang dikelilingi pegunungan dengan bunga - bunga indah yang bertebaran. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai merasakan 'jiwa' dari permainan musik mereka yang semakin intense. Bersama, mereka membuat pemandangan hiruk-pukik kota di saat malam, scene hutan lebat yang penuh petualangan, suatu negeri yang mengambang di atas awan, dan suasana - suasana lain yang hampir tidak dapat mereka temukan di kehidupan mereka. Hingga sampai pada suatu saat mereka mengakhiri permainan mereka dan mulai memandangi satu sama lainnya.
Pemandangan seketika berubah menjadi wujud suatu kota sunyi bergaya Andalusia yang menghadap lautan yang berkilau memantulkan cahaya senja. "Kulihat dari permainanmu, dan aku merasa bahwa kau sedang kesepian ?" ujar Ananta. "Dan aku melihat dari permainanmu bahwa kamu bersedia untuk menjadi temanku" jawab gadis itu. Kemudian mereka berdua berbagi senyum, dan Ananta kembali bertanya "Mm... Ngomong - ngomong, kamu berasal dari mana ?". "Aku berasal dari Bali, kamu ?" gadis itu bertanya. "Aku berasal dari Malang" jawabnya. Mereka berdua lantas duduk di sebuah balkon alun - alun kota yang tepat menghadap cakrawala, di sana mereka dapat melihat seisi kota dengan pantainya yang berkilau keemasan.
"Jadi, bagaimana kehidupanmu yang sebenarnya ?" gadis itu memulai percakapan diantara mereka. "Mm... jujur aku merasa bosan. Meski aku melalui masa kecil yang sangat mengagumkan, namun aku mulai lelah dengan semua kehidupan remaja ini. Kehidupan sekolah membuatku sedikit tertekan, ditambah lagi aku tidak mempunyai teman yang selalu ada di sisiku, yang mampu mengiringi perjalananku. Tapi, ketika berada di sini aku merasakan sesuatu hal yang berbeda. Entah bagaimana aku dapat merasakan diriku terlepas dari semua beban yang kutanggung sebelumnya. Dan... kamu?." Ananta mengembalikan pertanyaannya. Sejenak gadis itu menghela nafas, dan kemudian berkata "Hm... jujur, aku pun seringkali menyendiri, orang tuaku hanya memiliki sedikit waktu untuk berbicara denganku. Maklumlah, mereka sering meninggalkan rumah untuk mengurusi pekerjaannya. Jadi ketika aku sedang sendiri, aku seringkali memainkan seruling ini untuk menghilangkan kesendirianku. Beberapa bulan lalu, aku berkata kepada ibuku bahwa aku ingin menjadi seorang pemain seruling, dan kamu tahu apa jawabnya ?. Ia hanya menertawakanku dan menganggap bahwa itu adalah sebuah pekerjaan yang remeh. Pada saat itu aku sedikit kehilangan semangatku, dan satu-satunya hal yang kulakukan hanyalah duduk merenung di dalam kamarku." Ia mulai meneteskan air mata, hingga Ananta berusaha menenangkannya.
"Sudah... jangan terlalu bersedih, lihatlah semua yang telah kamu lakukan. Kamu telah membuat tempat yang menakjubkan ini. Semua orang memainkan musik, namun hanya sedikit yang bisa merasakannya, bahkan mungkin hanya orang - orang tertentu yang bisa meng-imajinasikan musik mereka. Jika tiap orang di dunia bisa melihat semua ini, seluruh dunia akan mengakui bahwa bakatmu sungguh luar biasa!." Ujarnya. "Hmm... aku tidak pernah memintamu untuk mengatakan semua itu, namun terima kasih Ananta... Terima kasih" jawab gadis itu. Mereka berdua terdiam sejenak dan mulai berbagi senyum dan memandang satu sama lain.
"Jadi, menurutmu kapan kita harus kembali ?" gadis itu bertanya. "Kembali ?, apakah kita harus meninggalkan tempat ini ?" Ananta bertanya heran. "Ya... ketika aku membeli seruling ini, aku menemukan secarik kertas yang menjelaskan keajaiban yang dimiliki olehnya. Beberapa waktu lalu aku mencobanya dan hal itu membuatku terbangun di tempat yang asing ini." gadis itu menjelaskan. "Dan... apa isi dari kertas itu ?" Ananta bertanya penasaran. Gadis itu mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya, dan menunjukkan kepada Ananta apa yang tertulis di dalamnya :
"Dengan seruling ini, kamu bisa terbebas dari kebiasan dunia yang membelenggu. Seruling ini akan membawamu ke sebuah tempat yang belum pernah kau luhat sebelumnya. Dimana, di dalamnya kamu bisa dengan bebas menjadi dirimu sendiri, kamu bebas mengatur dunia sesukamu. Ketika waktumu habis, kamu harus mencari seruling lain yang membantumu keluar dari dunia ini. Kamu harus menggunakan kedua seruling itu sebagai kunci untuk kembali ke tempatmu semula. Atau jika tidak kau akan dimusnahkan dan dianggap tidak pernah ada. Gunakanlah dengan bijak, kami berharap kamu dapat menemukan dirimu yang sesungguhnya"
Ananta melipat kertas ini setelah ia selesai membacanya. "Menurutmu, siapa yang menulis semua ini ?" ia bertanya penasaran. "Entahlah, mungkin kita akan segera mengetahuinya bersama. Jadi bagaimana menurutmu ?, kapan kita bisa kembali ?" tana gadis itu. "haha... omong kosong, aku tidak akan meninggalkan dunia yang sempurna ini dan kembali menuju duniaku yang suram" kata Ananta. Ia kemudian meremas lipatan kertas itu dan membuangnya jauh - jauh. "Bisakah kita bermain sekali lagi ?" ajaknya. Gadis itu menyanggupinya dan mulai memainkan serulingnya.
Pada saat ini, mereka telah mengenal satu sama lain dengan baik. Mereka membuat dan memberikan perasaan mereka melalui nada - nada seruling mereka. Mereka tahu bahwa ada saat dimana mereka harus berpisah, namun mereka berharap masih bisa bersama. Mereka menghentikan permainan mereka dan berjalan mendekati satu sama lainnya. "Jadi, apa yang kamu pikirkan ?, apakah kita lebih dari yang kita pikirkan... atau... umm... kita hanya... normal ?" Ananta bertanya gugup. " Hmm... nampaknya da sesuatu yang spesial di dalam dirimu, Ananta. Dan kamu yang bisa membuatku berarti" jawab gadis itu. Kemudian kesunyian kembali hadir diantara mereka.
Belum sempat Ananta mengatakan sepatah kata, dari kejauhan muncul awan badai besar yang terlihat semakin mendekat. ereka berdua terkejut dan melemparkan pandangannya ke arah badai itu. "Apakah ada orang lain selain kita ?" Tanya Ananta heran. "Entahlah" jawab gadis itu singkat. kemudian mereka melihat awan hitam menggumpal membentuk sesosok makhluk tinggi besar, yang sayapnya menutupi sebagian langit, dan tanduknya yang panjang. "Kalian telah melanggar perjanjian, dan kini kalian harus dilenyapkan" ujar makhluk itu dengan nada yang menggelegar. Tak berapa lama dari balik cakrawala muncul rombongan pasukan perang. Entah darimana mereka datang, prajurit itu berjumlah ribuan, dan mungkin masih banyak lagi.
"Lari, selamatkan dirimu!" perintah Ananta kepada gadis itu. "Tidak, kita harus menghadapi ini bersama - sama" jawabnya. Mereka berdua segera mengangkat serulingnya dan mulai memainkannya. Melalui permainan serulingnya, mereka membuat sebuah topan raksasa yang berhasil memporak - porandakan lini depan dari pasukan itu. Namun pasukan itu tetap datang seperti tak ada habisnya, maka mereka membuat sebuah palung dalam yang memisahkan daratan yang mereka pijak dengan pasukan tersebut. Untuk sejenak mereka merasa tenang, hingga mereka sadar bahwa tak jauh dibelakang mereka sosok raksasa itu berdiri. Alih - alih merasa aman, kini mereka terpojok dengan rencana yang bereka buat sendiri.
"Nampaknya kisah kalian berakhir disini." ujar makhluk itu. "Kalian telah membaca perjanjian itu, dan kalian telah melanggarnya. Manusia memang tamak, dan kini kalian akan dimusnahkan." sambungnya. "Ucapkan selamat tinggal!." ujar makhluk itu sembari perlahan melayangkan kepalan tangannya ke arah mereka berdua, yang mungkin akan membuat mereka berdua remuk karenanya. "Apakah kita akan selamat melewati ini ?" Tanya Ananta. "Kita lebih baik dari yang kita fikirkan, kita memang terlahir untuk semua ini, dan ditakdirkan untuk melalui semua ini bersama" Jawab gadis itu. ". "Baiklah." ujar Ananta singkat, ia mulai memainkan serulingnya, berharap ritme nada yang dikeluarkannya dapat menjadi suatu hal yang mampu menghalau serangan raksasa itu. Sedetik kemudian gadis itu juga mulai memainkan serulingnya, dan terlihat secercah cahaya mulai menyala dari dalam diri mereka. Cahaya itu semakin terang dan semakin terang, danna mulai memenuhi dunia yang mulai runtuh itu. Dan dalam hitungan detik, mereka telah menghilang dari dunia dimana mereka menemukan bagian yang 'hilang' dari dalam diri mereka. Mungkin mereka akan tersadar bahwa tidak ada dunia yang sempurna, tidak ada manusia yang sempurna, dan tidak ada suatu hal yang sempurna. Namun, dengan rasa saling memiliki satu - sama lainnya, mereka akan membuat dan berbagi hal yang mereka sukai dan membuatnya sesempurna mungkin.
... ... ...
Ananta terbangun, menemukan dirinya tergeletak di basement rumahnya dengan tangannya yang masih menggenggam seruling itu. Tepat disisinya berdiri cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Ia terbangun, ia meraba cermin itu dan berusaha untuk kembali masuk kembali ke dalam dunia itu, namun ia tak dapat menemukan apapun kecuali cermin yang terus menerus menampakkan bayangan dirinya. Ia mencoba meniup seruling yang ada di tangannya, dan terus memandangi bayangannya yang berada di dalam cermin, berharap ia dapat kembali ke dalam dunia itu untuk yang terakhir kali. Namun usahanya sia - sia, ia menjatuhkan serulingnya, memukul - mukul permukaan cermin itu ketika ia merasakan air mata mulai menuruni pipinya. Dia tertunduk, memandangi kekosongan didepannya selagi merangkai serpihan memori indah yang dialaminya sejenak tadi. "Ah.. mungkin itu hanya mimpi yang lain belaka" ujarnya menghibur diri. Meski demikian, ia merasa bahwa mimpi itu terjadi sangat nyata, meninggalkan beberapa pertanyaan yang masih membekas dalam batinnya.
Ia segera naik menuju dapur, melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 20:00 tepat. Kemudian ia mengambil segelas air putih untuk sedikit me-refresh pikirannya yang sedang kacau. Ia masih terbayang akan kenangan ketika ia berada di dalam dunia itu, ketenangannya, keindahannya, dan terlebih lagi ia bertemu dengan Kadek, gadis yang belum pernah ia lihat selama hidupnya, yang sejenak ia temui namun mampu meninggalkan jejak kaki yang abadi di dalam hatinya. Kemudian ia mulai berjalan menuju kamarnya, ia melihat laptopnya yang berada dalam keadaan stand-by. Tanpa berfikir panjang, ia mulai memainkan laptopnya dan betapa terkejutnya ia, kala ia melihat sebuah permintaan pertemanan baru di halaman facebooknya, dan terlebih lagi permintaan tersebut berasal dari Kadek, gadis yang ditemuinya di 'dunia mimpi' tersebut. Ia pun tertawa pendek, dan berkata dalam batinnya bahwa itu adalah mimpi paling nyata yang pernah ia rasa. -SA-

0 komentar:
Posting Komentar