![]() |
| Sumber Gambar : http://cdn.dailypainters.com |
Ketika aku berumur sepuluh tahun, ayahku
memberiku sebuah buku. Ia berkata bahwa buku itu adalah milik mendiang ibuku
yang meninggal saat aku berusia lima tahun. Ia juga berkata bahwa buku itu
adalah buku favorit ibuku kala ia masih remaja. Tak peduli seberapa keras aku
mencopba berfikir untuk memahami setiap bait yang tertulis di dalam buku ini,
aku tetap tak bisa memahaminya. Meski aku tahu ayahku memberikan buku ini
kepadaku sebagai obat dari penyakit ‘rindu ibu’ yang bisa membuatku mengigau
semalaman.
Suatu malam, datang sebuah kabar yang
sangat mengejutkan. Tengah malam itu, paman menjemputku dan berkata bahwa ayahku
sedang terbaring lemas di rumah sakit. Sontak kabar itu pun membatku
terperanjat, tanpa berfikir panjang aku segera masuk ke dalam mobil paman yang
telah menunggu di luar rumahku. Ayahku adalah seorang perokok, mungkin itu
menjadi salah satu sebab mengapa ia harus berada di dalam rumah sakit malam
ini. Sesampainya disana, aku segera berlari menuju kamar tempat ayahku dirawat.
Aku melihatnya sedang terbaring dengan selang infus yang menancap di pergelangan
tangannya, ia menoleh ke arahku dan melemparkan senyuman khasnya. Aku
menghampirinya, memandanginya dengan perasaan yang cemas, sementara ia tetap
tersenyum seolah tidak merasakan sakit. Kemudian ia meraih tanganku, dan
berkata “Jangan bersedih, kami selalu ada untukmu”, tak lama kemudian ia
memejamkan mata, seolah – olah ia memang sengaja menungguku sebelum ia
menghembuskan nafas terakhirnya.
Semua kejadian ini membawaku ke dalam
kepanikan, membuatku berkali-kali berteriak “Dokter !... Dokter?...”, dalam
hatiku aku berharap bahwa malam ini ia takkan meninggalkanku. Namn takdir
berkata lain, para dokter dan perawat yang memberikannya bantuan medis tak
dapat menelamatkan nyawanya, membuatku merasa sangat terpukul. Dalam hatiku aku
merasa sendiri, seolah – olah aku sudah tak mempunyai siapa – siapa lagi.
Namun, nampaknya aku masih beruntung, pamanku bersedia membiayai pendidikanku
hingga aku kuliah nanti. Meski demikan, entah mengapa kesedihan ini masih membekas
di dalam hatiku.
Setelah kejadian itu, aku merasa diriku
menjadi lebih pemurung daripada biasanya. Aku lebih suka untuk menyendiri, di
sekoah pun demikian, aku lebih memilih tempat duduk di pojok kelas, dan mencari
tempat yang kosong saat makan di kantin. Hanya satu hal yang dapat menepis kesendirianku,
yaitu buku yang diberikan oleh ayahku dulu. Buku itu menjadi salah satu
penghubung batin antara aku dan kedua orang tuaku, meskipun kini aku telah
menginjak usia remaja, aku masih tak memahami apa maksud yang tertulis di dalam
buku itu. Namun aku merasa dekat dengan mereka kala aku membuka buku itu. Namun
sialnya, pamanku melihatku dengan perilaku yang aneh, ia berfikir bahwa buku
itu adalah penghalang yang membuatku mengurung diri dari dunia luar. Sehingga
suatu saat, ia merebut buku itu dariku dan membuangnya ke dalam perapian, dalam
sekejap semua memori tentang keduaku hangus dilahap api. Kemudian ia berkata “Terima
kenyataan !, mereka sudah meninggal, tak berguna jika kamu terus – menerus meratapinya
!”. Sejak saat itu kurasakan diriku menjadi lebih murung daripada sebelumnya,
hingga pada suatu saat, lembar baru di dalam kehidupanku dimulai.
Kini aku telah duduk di bangku kuliah di
sebuah universitas ternama yang berada tak jauh dari tempat tinggalku kini.
Orang – orang dari penjuru negeri berbondong – bondong untuk merebutkan kursi
di tempat ini, namun hanya mereka yang terbaik yang mampu lolos dari seleksi
dan menjadi seorang mahasiswa yang bernaung di bawah kemegahan nama universitas
ini. Seperti biasa, di hari pertama kuliah aku mengisi tempat duduk di sudut
kelas. Maklum, karena aku masih belum beradaptasi terhadap lingkungan yang baru
ini, dimana tak ada satupun wajah di sini yang dapat ku kenali.
Namun ada seseorang yang menarik
perhatianku, seorang gadis dengan sorot mata yang lembut datang saat kelas
telah berjalan sekitar 15 menit. Semua orang di dalam kelas ini melemparkan
pandangan tajam ke arahnya, seolah – olah ia adalah seorang pembunuh sadis yang
rajin memutilasi korbannya. Dengan suara yang halus ia meminta maaf atas
keterlambatannya, dan kemudian ia duduk di tengah – tengah barisan untuk
mengikuti perkuliahan. Entah mengapa kurasakan daya tarik yang membuatku tak
bosan memandanginya. Membuatku berandai – andai tentang apa yang akan terjadi
jika aku mengenalnya, namun aku berusaha menepis khayalan itu, aku sadar bahwa
aku tidak mempunyai keberanian untuk mengeluarkan kata dihadapannya.
Jam perkuliahan selesai, aku segera
menikmati hari pertama perkuliahanku dengan menikmati secangkir kopi di kantin
kampus (Sambil membayangkan gadis bermata lembut tadi). Seperti biasa aku
memilih meja yang sepi, entah naluri atau hobi, tapi aku merasa nyaman dengan
kesendirianku ini. Hingga beberapa saat kemudian aku mendengar suara yang tak
asing berkata “Mmm... bangku ini kosong gak ?”, kulihat gadis bermata lembut
itu berdiri disampingku dengan membawa sepiring makanan. Aku berusaha untuk
tetap dingin dan berkata “Silahkan... ini kosong kok”. Aku merasa tak percaya, belum
lama aku berandai – andai tentangnya dan sekejap kemudian ia berada di depanku
secara nyata!. Aku berusaha tetap terlihat cuek agar tidak salah tingkah,
sementara ia makan, aku hanya mengusap –usap layar HP ku, membuka facebook dan
mondar – mandir dari beranda menuju profil, untuk menyembunyikan rasa deg-degan
yang luar biasa ini.
Kulihat ia menaruh sendok dan garpunya,
dan tiba – tiba ia memandangiku dengan penuh keheranan, membuatku semakin
merasa terjabak dalam situasi yang sangat canggung. Hingga kemudian ia dengan
suaranya yang halus berkata “Kayaknya aku kenal, tadi kita sekelas gak, waktu
matkul Bahasa Indonesia ?”. “Iya... kamu yang dateng telat tadi kan ?” jawabku.
“Haha... kalo gak salah kamu tadi yang duduknya paling pojok ?” ia bertanya
kembali. Kemudian kami berbagi senyum, dan sejenak kesunyian datang diantara
kami, hingga ia menyodorkan tangannya dan berkata “Namaku Dia...”. Aku menjabat
tangannya dan memperkenalkan diriku kepadanya. Beberapa waktu kemudian kami
terlibat sebuah perbincangan singkat tentang satu sama lain. Hingga kemudian ia
berkata “Kayaknya kamu enak diajang ngobrol” sanmbil memberikan secari kertas
kecil kepadaku “Jangan dibuang ya...” imbuhnya. Kemudian ia mengucapkan selamat
tinggal dan beranjak pergi dari meja kantin ini. Betapa terkejut diriku bahwa
di dalam kertas tersebut tertulis nomor. Entah itu nomor handphone siapa, tapi
aku sangat yakin 100% bahwa nomor handphone itu adalah miliknya.
Untuk pertama kalinya aku merasakan
sesuatu hal yang tidak biasa, rasa penasaran dan keberanianku diuji. Aku tak
tahu bagaimana aku harus mengirimkan pesan kepadanya. Tiga jam sudah aku
terdiam tak tentu arah, dan selama itu pula aku masih belum mendapatkan
keberanian yang cukup untuk memulai percakapan dengannya. Hingga pada suatu
saat aku memberanikan diri untuk mengirim sebuah pesan kepadanya. Ketika aku
menunggu balasan darinya, aku merasa sangat panik, aku berfikir tentang betapa
bodohnya diriku, dia mungkin akan menganggapku aneh atau apapun, aku takbisa
berhenti membayangkan hal – hal buruk yang dapat terjadi. Tak lama kemudian
ponselku bergetar, kulihat pesanku mendapat respon positif darinya. Kami
berlanjut untu berbalas pesan hingga tengah malam, dan sejak saat itu aku
menjadi terbiasa untuk bertukar pesan dengan seseorang.
Hari demi hari berlalu, kami menjadi
semakin akrab. Setelah beberapa waktu yang kujalani aku mengetahui sedikit demi
sedikit tentang dirinya, dan hal ini juga yang membuatku bisa mempercayai orang
lain dan membuatku sedikit terbuka. Seringkali kami terlihat bersama, entah itu
hanya sekedar ngobrol atau mengerjakan tugas kuliah bersama. Ketika ia bertanya
tentang masa laluku, aku menceritakannya, aku menceritakan tentang diriku yang saat itu hampir bunuh diri karena putus asa dan tak memiliki seorangpun teman, dan betapa terkejutnya aku jika ternyata
Dia juga telah kehilangan orang tuanya, dan sekarang ia tinggal bersama kakak
perempuannya yang telah bekerja di tempat yang tak jauh dari kampus ini, ia
juga berani memperkenalkanku kepadanya. Pada akhirnya, ia berterima kasih
kepadaku karena aku mau menceritakan tentang hal pribadi kepadanya, dan juga
karena aku mau mendengarkan hal pribadinya.
Beberapa bulan berlalu, aku telah bertekad
untuk menyatakan perasaanku tepat di malam sebelum ulang tahunnya. Maka aku
sengaja berjanjian mengajaknya melihat film favoritnya, dan setelah itu aku
akan mengungkapkan perasaaknu yang sesunggunya. Sesampainya aku di sana, aku
sama sekali tak melihat tanda – tanda kedatangannya. Aku memesan dua tiket di
barisan depan dan membeli dua bungkus popcorn.
Aku terduduk di lobi bioskop dan sejenak melihat layar hp ku yang kosong. Waktu
terus berlalu dan tak ada sedikitpun tanda kehadirannya, tentu saja hal ini
membuatku merasa sangat cemas. Hingga film itu dimulai pun aku tidak melihat
kehadirannya, aku merasa aneh karena Dia tidak biasa terlambat selama ini.
Hingga pada akhirnya kurasakan ponselku bergetar, kulihat kakak Dia menelfonku, tanpa berfikir panjang aku pun segera mengangkatnya.
“Dia... Dia sedang berada di rumah sakit,
dan ia ingin bicara kepadamu...” katanya. Ia berkata bahwa Dia mengalami kecelakaan parah ketika hendak menemuiku. Sontak aku berlari menghampiri
motorku dan berkendara menuju rumah sakit. Disana kulihat Dia sedang terbaring
dengan perban yang membungkus sebagian badannya. Ketika aku berada di daun
pintu, ia segera menatapku dengan pandangannya yang lembut. Aku menghampirinya,
dan kudengar ia berkata lirih “Maaf, karena aku datang terlambat”. Aku merasa sedikit terharu, dan aku segera memegangi tangannya dan berkata “Aku
mencintaimu” sementara kurasakan air mataku mulai menetes. Kemudian kulihat dia
tersenyum dan berkata “Jangan bersedih, aku juga mencintaimu”. Kemudian ia
tersenyum dan perlahan memejamkan mata, persis dengan yang dilakukan ayahku
sebelum ajal menjemputnya, membuatku tak kuasa membendung air mata.
... ... ...
Kini sudah beberapa bulan berlalu sejak
Dia pergi meninggalkanku. Membuatku kembali bernaung di dalam kesendirianku.
Kutemukan diriku sedang berdiam diri di dalam kamar tidurku, memandangi layar laptopku dan melihat pesan – pesan yang Dia kirim kepadaku, sekedar untuk
mengenangnya dalam benakku. Tak lama kemudian terbesit sebait rindu yang membuatku
berangan-angan : “Andai saja aku dapat berbicara denganmu 'sekali lagi' ”. -SA-

2 komentar:
"dia"??? Kenapa??? terlalu sering ending mati
Tapi kan nd "Ananta dan Dunia Seruling" ending e gak mati, terus peran cewek e bukan "Dia" lagi... :D
Posting Komentar