Perfect World Online Spear Thingy
"Dibalik Sebuah Pintu Ada Sebuah Misteri Yang Disegel Dengan Tujuh Segel"

Kamis, 29 Agustus 2013

Dia : Sebuah Kenangan Indah

Posted by Unknown on 02.17

Sumber Gambar : http://cdn.dailypainters.com

     Ketika aku berumur sepuluh tahun, ayahku memberiku sebuah buku. Ia berkata bahwa buku itu adalah milik mendiang ibuku yang meninggal saat aku berusia lima tahun. Ia juga berkata bahwa buku itu adalah buku favorit ibuku kala ia masih remaja. Tak peduli seberapa keras aku mencopba berfikir untuk memahami setiap bait yang tertulis di dalam buku ini, aku tetap tak bisa memahaminya. Meski aku tahu ayahku memberikan buku ini kepadaku sebagai obat dari penyakit ‘rindu ibu’ yang bisa membuatku mengigau semalaman.


     Suatu malam, datang sebuah kabar yang sangat mengejutkan. Tengah malam itu, paman menjemputku dan berkata bahwa ayahku sedang terbaring lemas di rumah sakit. Sontak kabar itu pun membatku terperanjat, tanpa berfikir panjang aku segera masuk ke dalam mobil paman yang telah menunggu di luar rumahku. Ayahku adalah seorang perokok, mungkin itu menjadi salah satu sebab mengapa ia harus berada di dalam rumah sakit malam ini. Sesampainya disana, aku segera berlari menuju kamar tempat ayahku dirawat. Aku melihatnya sedang terbaring dengan selang infus yang menancap di pergelangan tangannya, ia menoleh ke arahku dan melemparkan senyuman khasnya. Aku menghampirinya, memandanginya dengan perasaan yang cemas, sementara ia tetap tersenyum seolah tidak merasakan sakit. Kemudian ia meraih tanganku, dan berkata “Jangan bersedih, kami selalu ada untukmu”, tak lama kemudian ia memejamkan mata, seolah – olah ia memang sengaja menungguku sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.

     Semua kejadian ini membawaku ke dalam kepanikan, membuatku berkali-kali berteriak “Dokter !... Dokter?...”, dalam hatiku aku berharap bahwa malam ini ia takkan meninggalkanku. Namn takdir berkata lain, para dokter dan perawat yang memberikannya bantuan medis tak dapat menelamatkan nyawanya, membuatku merasa sangat terpukul. Dalam hatiku aku merasa sendiri, seolah – olah aku sudah tak mempunyai siapa – siapa lagi. Namun, nampaknya aku masih beruntung, pamanku bersedia membiayai pendidikanku hingga aku kuliah nanti. Meski demikan, entah mengapa kesedihan ini masih membekas di dalam hatiku.

     Setelah kejadian itu, aku merasa diriku menjadi lebih pemurung daripada biasanya. Aku lebih suka untuk menyendiri, di sekoah pun demikian, aku lebih memilih tempat duduk di pojok kelas, dan mencari tempat yang kosong saat makan di kantin. Hanya satu hal yang dapat menepis kesendirianku, yaitu buku yang diberikan oleh ayahku dulu. Buku itu menjadi salah satu penghubung batin antara aku dan kedua orang tuaku, meskipun kini aku telah menginjak usia remaja, aku masih tak memahami apa maksud yang tertulis di dalam buku itu. Namun aku merasa dekat dengan mereka kala aku membuka buku itu. Namun sialnya, pamanku melihatku dengan perilaku yang aneh, ia berfikir bahwa buku itu adalah penghalang yang membuatku mengurung diri dari dunia luar. Sehingga suatu saat, ia merebut buku itu dariku dan membuangnya ke dalam perapian, dalam sekejap semua memori tentang keduaku hangus dilahap api. Kemudian ia berkata “Terima kenyataan !, mereka sudah meninggal, tak berguna jika kamu terus – menerus meratapinya !”. Sejak saat itu kurasakan diriku menjadi lebih murung daripada sebelumnya, hingga pada suatu saat, lembar baru di dalam kehidupanku dimulai.

    Kini aku telah duduk di bangku kuliah di sebuah universitas ternama yang berada tak jauh dari tempat tinggalku kini. Orang – orang dari penjuru negeri berbondong – bondong untuk merebutkan kursi di tempat ini, namun hanya mereka yang terbaik yang mampu lolos dari seleksi dan menjadi seorang mahasiswa yang bernaung di bawah kemegahan nama universitas ini. Seperti biasa, di hari pertama kuliah aku mengisi tempat duduk di sudut kelas. Maklum, karena aku masih belum beradaptasi terhadap lingkungan yang baru ini, dimana tak ada satupun wajah di sini yang dapat ku kenali.

     Namun ada seseorang yang menarik perhatianku, seorang gadis dengan sorot mata yang lembut datang saat kelas telah berjalan sekitar 15 menit. Semua orang di dalam kelas ini melemparkan pandangan tajam ke arahnya, seolah – olah ia adalah seorang pembunuh sadis yang rajin memutilasi korbannya. Dengan suara yang halus ia meminta maaf atas keterlambatannya, dan kemudian ia duduk di tengah – tengah barisan untuk mengikuti perkuliahan. Entah mengapa kurasakan daya tarik yang membuatku tak bosan memandanginya. Membuatku berandai – andai tentang apa yang akan terjadi jika aku mengenalnya, namun aku berusaha menepis khayalan itu, aku sadar bahwa aku tidak mempunyai keberanian untuk mengeluarkan kata dihadapannya.

     Jam perkuliahan selesai, aku segera menikmati hari pertama perkuliahanku dengan menikmati secangkir kopi di kantin kampus (Sambil membayangkan gadis bermata lembut tadi). Seperti biasa aku memilih meja yang sepi, entah naluri atau hobi, tapi aku merasa nyaman dengan kesendirianku ini. Hingga beberapa saat kemudian aku mendengar suara yang tak asing berkata “Mmm... bangku ini kosong gak ?”, kulihat gadis bermata lembut itu berdiri disampingku dengan membawa sepiring makanan. Aku berusaha untuk tetap dingin dan berkata “Silahkan... ini kosong kok”. Aku merasa tak percaya, belum lama aku berandai – andai tentangnya dan sekejap kemudian ia berada di depanku secara nyata!. Aku berusaha tetap terlihat cuek agar tidak salah tingkah, sementara ia makan, aku hanya mengusap –usap layar HP ku, membuka facebook dan mondar – mandir dari beranda menuju profil, untuk menyembunyikan rasa deg-degan yang luar biasa ini.

     Kulihat ia menaruh sendok dan garpunya, dan tiba – tiba ia memandangiku dengan penuh keheranan, membuatku semakin merasa terjabak dalam situasi yang sangat canggung. Hingga kemudian ia dengan suaranya yang halus berkata “Kayaknya aku kenal, tadi kita sekelas gak, waktu matkul Bahasa Indonesia ?”. “Iya... kamu yang dateng telat tadi kan ?” jawabku. “Haha... kalo gak salah kamu tadi yang duduknya paling pojok ?” ia bertanya kembali. Kemudian kami berbagi senyum, dan sejenak kesunyian datang diantara kami, hingga ia menyodorkan tangannya dan berkata “Namaku Dia...”. Aku menjabat tangannya dan memperkenalkan diriku kepadanya. Beberapa waktu kemudian kami terlibat sebuah perbincangan singkat tentang satu sama lain. Hingga kemudian ia berkata “Kayaknya kamu enak diajang ngobrol” sanmbil memberikan secari kertas kecil kepadaku “Jangan dibuang ya...” imbuhnya. Kemudian ia mengucapkan selamat tinggal dan beranjak pergi dari meja kantin ini. Betapa terkejut diriku bahwa di dalam kertas tersebut tertulis nomor. Entah itu nomor handphone siapa, tapi aku sangat yakin 100% bahwa nomor handphone itu adalah miliknya.

     Untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu hal yang tidak biasa, rasa penasaran dan keberanianku diuji. Aku tak tahu bagaimana aku harus mengirimkan pesan kepadanya. Tiga jam sudah aku terdiam tak tentu arah, dan selama itu pula aku masih belum mendapatkan keberanian yang cukup untuk memulai percakapan dengannya. Hingga pada suatu saat aku memberanikan diri untuk mengirim sebuah pesan kepadanya. Ketika aku menunggu balasan darinya, aku merasa sangat panik, aku berfikir tentang betapa bodohnya diriku, dia mungkin akan menganggapku aneh atau apapun, aku takbisa berhenti membayangkan hal – hal buruk yang dapat terjadi. Tak lama kemudian ponselku bergetar, kulihat pesanku mendapat respon positif darinya. Kami berlanjut untu berbalas pesan hingga tengah malam, dan sejak saat itu aku menjadi terbiasa untuk bertukar pesan dengan seseorang.

     Hari demi hari berlalu, kami menjadi semakin akrab. Setelah beberapa waktu yang kujalani aku mengetahui sedikit demi sedikit tentang dirinya, dan hal ini juga yang membuatku bisa mempercayai orang lain dan membuatku sedikit terbuka. Seringkali kami terlihat bersama, entah itu hanya sekedar ngobrol atau mengerjakan tugas kuliah bersama. Ketika ia bertanya tentang masa laluku, aku menceritakannya, aku menceritakan tentang diriku yang saat itu hampir bunuh diri karena putus asa dan tak memiliki seorangpun teman, dan betapa terkejutnya aku jika ternyata Dia juga telah kehilangan orang tuanya, dan sekarang ia tinggal bersama kakak perempuannya yang telah bekerja di tempat yang tak jauh dari kampus ini, ia juga berani memperkenalkanku kepadanya. Pada akhirnya, ia berterima kasih kepadaku karena aku mau menceritakan tentang hal pribadi kepadanya, dan juga karena aku mau mendengarkan hal pribadinya.

     Beberapa bulan berlalu, aku telah bertekad untuk menyatakan perasaanku tepat di malam sebelum ulang tahunnya. Maka aku sengaja berjanjian mengajaknya melihat film favoritnya, dan setelah itu aku akan mengungkapkan perasaaknu yang sesunggunya. Sesampainya aku di sana, aku sama sekali tak melihat tanda – tanda kedatangannya. Aku memesan dua tiket di barisan depan dan membeli dua bungkus popcorn. Aku terduduk di lobi bioskop dan sejenak melihat layar hp ku yang kosong. Waktu terus berlalu dan tak ada sedikitpun tanda kehadirannya, tentu saja hal ini membuatku merasa sangat cemas. Hingga film itu dimulai pun aku tidak melihat kehadirannya, aku merasa aneh karena Dia tidak biasa terlambat selama ini. Hingga pada akhirnya kurasakan ponselku bergetar, kulihat kakak Dia menelfonku, tanpa berfikir panjang aku pun segera mengangkatnya.
    
     “Dia... Dia sedang berada di rumah sakit, dan ia ingin bicara kepadamu...” katanya. Ia berkata bahwa Dia mengalami kecelakaan parah ketika hendak menemuiku. Sontak aku berlari menghampiri motorku dan berkendara menuju rumah sakit. Disana kulihat Dia sedang terbaring dengan perban yang membungkus sebagian badannya. Ketika aku berada di daun pintu, ia segera menatapku dengan pandangannya yang lembut. Aku menghampirinya, dan kudengar ia berkata lirih “Maaf, karena aku datang terlambat”. Aku merasa sedikit terharu, dan aku segera memegangi tangannya dan berkata “Aku mencintaimu” sementara kurasakan air mataku mulai menetes. Kemudian kulihat dia tersenyum dan berkata “Jangan bersedih, aku juga mencintaimu”. Kemudian ia tersenyum dan perlahan memejamkan mata, persis dengan yang dilakukan ayahku sebelum ajal menjemputnya, membuatku tak kuasa membendung air mata.
     ... ... ...
     Kini sudah beberapa bulan berlalu sejak Dia pergi meninggalkanku. Membuatku kembali bernaung di dalam kesendirianku. Kutemukan diriku sedang berdiam diri di dalam kamar tidurku, memandangi layar laptopku dan melihat pesan – pesan yang Dia kirim kepadaku, sekedar untuk mengenangnya dalam benakku. Tak lama kemudian terbesit sebait rindu yang membuatku berangan-angan : “Andai saja aku dapat berbicara denganmu 'sekali lagi' ”. -SA-

2 komentar:

"dia"??? Kenapa??? terlalu sering ending mati

Tapi kan nd "Ananta dan Dunia Seruling" ending e gak mati, terus peran cewek e bukan "Dia" lagi... :D

Posting Komentar