![]() |
| Sumber Gambar : www.paulmudie.com |
“John, apakah
lebih baik jika kita menyelesaikan perburuan ini ?” kata seorang laki – laki kepada
laki – laki lain di depannya. “Ah... kau ini, kita sudah seharian menjelajahi
tempat ini dan belum mendapat apa – apa. Aku tidak akan pulang dengan tangan
hampa” Jawabnya. “Namun hari sudah semakin gelap, dan lampu ini tidak akan
menerangi kita semalaman penuh” Laki – laki itu kembali berkata. “Dasar
penakut, jika kau memang ingin pulang, pergi sana !... Aku tidak akan pergi
dari sini hingga aku mendapatkan daging untuk dibawa pulang” Jawabnya. “Baiklah...
mungkin aku juga akan menunggu di sini saja” Kata lelaki itu lagi.
Hari
semakin malam, namun kedua lelaki itu masih belum menyelesaikan perburuannya. Tak
berapa lama mereka menunggu, sejenak terdengar suara gemerisik ranting yang
nampakna tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi. “Itu pasti seekor rusa” kata
John. “Edwin, kau awasi aku selagi aku mendekati semak – semak itu” Sambungnya.
“Oke...” Jawab Edwin singkat. John segera berdiri dan mengendap – endap mendekati
semak – semak itu untuk mencari tahu apa yang berada di balik semak - semak itu, sementara Edwin mengangkat
pelita yang dipegangnya dan mengawasi John yang mengendap – endap perlahan di
tengah kegelapan. John semakin mendekati semak – semak itu dengan sangat hati –
hati agar gerakannya tidak membuat binatang itu menjauh pergi. Namun alangkah
terkejutnya ia ketika ia melihat sosok bayangan hitam yang muncul dari dalam
semak – semak menggeram hebat dan kemudian menarik kakinya, menyeretnya ke
dalam kegelapan hutan. Edwin yang mendengar teriakan John langsung terkejut,
nampaknya kejadian itu berlangsung demikian cepat hingga Edwin tidak mengetahui
apa yang terjadi. “John... John... apa yang terjadi ?” Kata Edwin sambil
berlari menuu tempat dimana John berada. “John ?... John ?...” Edwin merasa
kebingungan, ia melihat sekelilingnya dan tak ada satu pun pertanda akan
keberadaan John.
Langkahnya
berhenti kala ia menginjak suatu benda yang berada di atas tanah. Ia
mengarahkan pelitanya menuju benda tersebut, dan terlihat senapan milik John
tergeletak dengan sedikit percikan darah di atasnya. Mungkin kejadian yang
sangat cepat itu membuat John tidak sempat mengangkat senapan untuk memberikan
perlawanan. Ia terduduk dan menatap senapan itu, “John yang malang...” Ujarnya
kepada kesunyian. Sedetik kemudian ia dikejutkan oleh sebuah bayangan besar dan
berbulu lebat menggeram tepat didepannya. Ia terkejut hingga tidak dapat
berkata – kata. Terlihat makhluk buas dengan mata tajam yang menyala dan
deretan gigi tajam yang menyeringai membuatnya gemetar. Belum sempat ia
mengambil langkah untuk berlari, makhluk itu sudah menerkamnya, menjadikannya
sebagai mangsa makan malamnya.
... ... ...
Keesokan
paginya, terdapat suatu berita yang menggemparkan sebuah desa kecil di
pinggiran Devon County. Sekelompok
pemburu menemukan dua orang yang sudah tergeletak tak bernyawa di tengah hutan.
Anehnya, mereka mati dengan cara yang sama, yaitu dada mereka terkoyak dan
jantung mereka lenyap. Sekelompok pemburu itu berkata bahwa mereka menemukan
mayat tersebut saat fajar kala mereka akan pulang. Satu mayat mereka temukan di
dekat pohon besar sementara satunya terletak beberapa yard dari mayat pertama. “Apakah
mereka dibunuh oleh hewan buas ?” Tanya seorang penduduk. “Memang butuh taring
ataupun cakar yang tajam yang bisa membuat luka seperti ini. Namun, para
serigala akan memakan semua daging mereka hingga hanya tersisa tulang, dan di
dalam kasus ini, hanya jantung korban yang hilang” Jawab seorang pemburu. “Mungkinkah
ini perbuatan setan ?” Seorang penduduk lainnya bertanya. “Kami sudah bertahun –
tahun melakukan perburuan di hutan itu, dan sekali pun kami tidak pernah
menemukan makhluk yang kalian panggil ’setan’”. Jawabnya. “Lalu, bagaimana kau
bisa menjelaskan kejadian ini ?” ia bertanya kembali. “Entahlah, biarkan polisi
yang akan mengungkapnya” Jawab pemburu itu.
... ... ...
“Kapan kau
menemukan mayat ini ?” Tanya seorang opsir polisi kepada William, salah seorang
dari empat pemburu yang menemukan mayat tersebut. “Kami menemukan mereka saat
fajar, saat kami kembali dari perburuan kami” Jawabnya. “Mungkin mereka tewas sekitar
pertengahan malam, apakah kau mendengar atau melihat kegaduhan pada waktu itu ?”
Tanya polisi itu kembali. “Tidak, lokasi kami berburu letaknya agak jauh dari
lokasi kami menemukan kedua mayat itu” Jawabnya kembali. “Hmm... baiklah...
siang ini juga kami akan melakukan identifikasi, bisakah kau membawa kami ke
tempat di mana kau menemukan mayat itu ?” Polisi itu bertanya kembali. “Tentu
saja, namun tempat itu agak jauh dari desa ini”. Jawabnya. Singkat cerita,
keempat pemburu yang ditemani beberapa orang polisi itu pergi menuju tempat
kejadian.
“Satu mayat
kami temukan di dekat pohon ini” Kata William sambil menunjukkan sebuah tempat
di dekat pohon willow besar. “Dan
mayat lain kami temukan tidak jauh dari tempat ini” Sambungnya. “Baiklah...
segera lakukan penyisiran, temukan hal janggal yang berkaitan dengan kejadian
ini” Perintah opsir itu kepada polisi lain. Setelah sekian lama, seorang polisi
datang dengan membawa sepucuk senjata dengan bercak darah yang telah mengering pada
barrelnya, sementara polisi lain membawa lentera yang telah pecah dan beberapa
helai bulu hitam. “Hm... Nampaknya ini milik korban, namun bulu ini... apakah
kalian mengenali bulu ini ?” tanya opsir itu pada para pemburu. Pemburu itu
melihat dengan seksama, “Nampaknya, ini bulu serigala” jawab Richard, salah seorang
dari pemburu itu. “Apakah kalian sering melihat serigala berkeliaran di sekitar
sini ?” tanya opsir itu. “Tidak, jarang sekali kami melihat serigala di daerah
ini” Jawabnya. “Hm... baiklah, malam ini kami akan melakukan pencarian di
tempat ini, salah satu dari kalian akan ikut kami, dan yang lain berjaga di
desa.” Kata opsir itu.
... ... ...
Mentari mulai
tenggelam, menghapus rona alam di dalam kegelapan. Langit yang berawan
menghadang sinar bintang untuk jatuh di atas pepohonan. Dalam temaram sinar
bulan, mereka memulai pencariannya. “Biarkan aku ikut dengan mereka, diantara
kalian, aku lebih memahami hutan ini” ujar Henry, salah seorang pemburu leinnya.
“Baiklah, jaga dirimu baik – baik, saudaraku” kata William. Henry mengikuti
rombongan polisi itu menuju kedalaman hutan, sementara William, Richard, Harold,
dan segelintir orang dari kepolisian tetap tinggal di desa itu untuk berjaga –
jaga.
Malam semakin
larut, tidak ada tanda – tanda dari mereka yang berada di dalam hutan. Namun,
tak lama kemudian samar – samar William mendengar letusan tembakan dari
kejauhan yang memecah kesunyian. Suara itu semakin gaduh, hingga kedua
saudaranya terbangun dari lelap. “Apakah itu mereka ?” tanya Richard. “Ya, nampaknya
perburuan telah dimulai” Jawab William. Tembakan itu semakin menjadi – jadi,
bagaikan peperangan dari kejauhan. Hingga suatu saat terdengar satu letusan
tembakan yang diikuti dengan kesunyian. “Mungkin mereka telah membunuhnya” Ujar
William. “Kita tunggu kedatangan mereka berberapa jam lagi “ sambungnya.
Anehnya,
setelah beberapa jam berlalu, yang dinanti tidak kunjung tiba. “Aneh... ini
sudah menjelang tengah hari dan tidak ada satu pun dari mereka yang datang
kemari” Ujar William. “Mungkin mereka tersesat ?” Kata seorang polisi. “Tidak
mungkin, Henry sangat memahami betul hutan ini” Jawabnya. “Atau jangan jangan ?... ... ... “ Wiliam tidak
melanjutkan kata – katanya, solah – olah sesuatu sedang menghantui benaknya. Ia
mengambil senapannya, memasangkan bayonet pada pucuknya, dan bergegas pergi menuju hutan. “Hei... bukankah kita ditugaskan
untuk menjaga tempat ini ?” kata seorang polisi yang melarangnya pergi. “Iya,
tapi aku hanya ingin tahu apakah mereka baik – baik saja. “ Jawabnya. “Dan kau
akan pergi ke sana sendiri ?” Tanya polisi itu lagi. “Tidak, kami berdua akan
mengikutinya, kalian akan menjaga tempat ini selagi kami pergi” Sahut Richard. “Hm...
Baiklah...” Jawab polisi itu singkat. Mereka bertiga segera pergi menuu dalam
hutan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Betapa
terkejutnya mereka kala melihat apa yang ada di depan mata mereka. Tubuh –
tubuh bergelimpangan tak bernyawa,
dengan kondisi yang sama dengan korban sebelumnya. Dada mereka terburai, dan
jantung mereka lenyap. Satu yang paling mencuri perhatian William adalah jasad saudaranya,
Henry, yang kini terbaring dikerumuni
sekelompok gagak, yang mencabik – cabik daging melalui tubuhnya yang terkoyak. “Apapun
itu, aku akan menemukannya, aku bersumpah aku akan membunuh siapa – siapa
penyebab kekacauan ini” Ujar William di hadapan saudara – saudaranya. “Kita akan berjaga di sini hingga larut malam,
aku akan di bawah sementara kalian berdua akan mengawasiku dari atas pohon,
tembak apapun yang datang mendekat, kita tidak bisa membiarkan hal ini terus
terjadi” Perintah William kepada para saudaranya.
... ... ...
Malam itu
terlihat sunyi, tidak ada tanda – tanda keberadaan makhluk ‘pemburu jantung’
tersebut. Satu – satunya hewan yang mereka lihat adalah sekelompok gagak yang
sedang berpesta di atas bangkai para polisi itu. Hingga pada suatu saat
kesunyian itu terusik dari suara gemerisik ranting dari balik semak – semak. Mereka
segera mengarahkan senapan mereka menuju sumber suara itu. Mereka menunggu, tak
lama kemudian semak –semak itu telah berhenti bergemerisik. William
mendekatinya secara perlahan, dengan senapan yang masih tertuju pada semak –semak
itu. Tiba – tiba saja sesosok makhluk tinggi besar muncul dari balik semak –semak
itu, William terkejut, namun ia masih sempat melesatkan tembakan yang mengenai
pundak kanan makhluk itu. Makhluk itu menggeram dan berusaha mengejar William,
Richard dan Harold dengan sigap langsung melepaskan tembakan ke arah makhluk
itu. Monster yang terkena tembakan bertubi – tubi itu pun akhirnya berlari dan
hilang di dalam kegelapan hutan.
“Apa itu ?...
belum pernah aku melihat serigala sebesar itu ?” Ujar Harold. “Serigala tidak
mungkin tumbuh sebesar itu, dan serigala juga tidak berjalan dengan dua kaki,
Aku pernah mendengar mitos tentang Werewolf dari orang Perancis, mungkin
makhluk itu adalah salah satunya” Kata William. “Sudahlah, apapun itu, yang
jelas ia telah membunuh saudara kita, dan ia pantas untuk menemui ajalnya malam
ini. Kalian tetap bersamaku, jangan sampai ada yang terpisah” Sambungnya.
Kemudian mereka bertiga berjalan beriringan menuju kedalaman hutan. Dengan
penuh kewaspadaan, mereka melangkah, mengamati setiap inch daerah disekeliling
mereka, karena mereka tahu bahwa makhluk
itu bisa muncul dari mana saja.
Langkah mereka
terhenti, kembali mereka mendengar suara gemerisik ranting. “Di Sana...” Ujar
Richard. “Tidak, suara itu berasal dari sana” Sahut Harold. Mereka dilanda
kebingungan, suara itu datang dari arah yang berbeda – beda. “Mungkinkah kita
jatuh di dalam perangkapnya ?” Ujar Harold yang kini merasakan ketakutan di
dalam dirinya. “Tidak, masing – masing dari kita harus mendatangi suara itu
untuk memastikannya, ketika salah seorang dari kita menemukannya, segeralah
berteriak dan bantu dia” Perintah William kepada para saudaranya. Mereka
mendatangi suara itu, namun malang bagi Harold, tak lama setelah ia melangkah,
makhluk itu langsung menyambarnya dan menyeretnya menuju kegelapan, ia
berteriak keras hingga kegaduhan itu sampai di telinga William dan Richard. “Harold!...”
ujar William yang kemudian bergegas menuju sumber suara itu. Belum sempat ia
menemukan Harold, ia mendengar letusan tembakan yang disertai teriakan pilu
dari saudaranya yang lain. Nampaknya makhluk itu juga berhasil ‘menciduk’
Richard.
Sepertinya
kini tinggal ia sendiri yang harus menghadapi makhluk itu. William melangkah
dengan sangat hati – hati, matanya mengawasi tiap sudut hutan yang gelap itu.
Kemudian dari arah samping ia mendengar suara geraman yang semakin mendekat, ia
mengarahkan senapannya ke arah tersebut. Belum sempat ia membidik, makhluk itu
telah menggigit tangan kirinya, Tanpa pikir panjang William pun langsung
menembak makhluk itu dan membuatna tersungkur di atas tanah. Makhluk itu
bangkit, menatapkan matanya yang tajam ke arah William, disertai dengan seringai
dari deret taring – taringnya. Tubuhnya tinggi besar dan tertutup bulu lebat
yang hitam legam. Di jari tangan dan
kakinya terdapat kuku – kuku tajam yang siap mencabik – cabik korbannya menjadi
potongan – potongan.
Makhluk itu
menggeram, kemudian meraung dan melompat ke arah William. William dengan sigap
mengarahkan bayonetnya ke arah dada kiri makhluk itu. Kejadian itu terjadi
begitu cepat, hingga William menemukan bahwa makhluk itu telah menancap di
ujung senjatanya, ia pun menarik pelatuk dan melepaskan tembakan yang akhirnya
membuat makhluk itu tak lagi bernyawa. Sejenak ia masih tak percaya akan apa
yang ia lihat, kemudian ia menarik senjatanya dan membuat tubuh makhluk itu
rebah di atas tanah. Akhirnya, ia berhasil menuntaskan sumpah untuk membalaskan
dendam para saudaranya.
Namun, tak lama kemudian, ia merasakan gatal di
sekujur tubuhnya. Tubuhnya tak terkendali, ia berlari tak tentu arah. Ia
merasakan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sejenak ia
berhenti, dan melihat sekujur tubuhnya telah dipenuhi oleh bulu hitam, dan
cakar – cakar yang tajam tumbuh dari ujung – ujung jarinya. Ia merasakan
pandangannya juga mulai kabur, dan hal terakhir yang ia ingat adalah lolongan
panjang di dalam kegelapan malam. -SA-

0 komentar:
Posting Komentar