Perfect World Online Spear Thingy
"Dibalik Sebuah Pintu Ada Sebuah Misteri Yang Disegel Dengan Tujuh Segel"

Jumat, 05 April 2013

Perburuan

Posted by Unknown on 14.47

Sumber Gambar : www.paulmudie.com

“John, apakah lebih baik jika kita menyelesaikan perburuan ini ?” kata seorang laki – laki kepada laki – laki lain di depannya. “Ah... kau ini, kita sudah seharian menjelajahi tempat ini dan belum mendapat apa – apa. Aku tidak akan pulang dengan tangan hampa” Jawabnya. “Namun hari sudah semakin gelap, dan lampu ini tidak akan menerangi kita semalaman penuh” Laki – laki itu kembali berkata. “Dasar penakut, jika kau memang ingin pulang, pergi sana !... Aku tidak akan pergi dari sini hingga aku mendapatkan daging untuk dibawa pulang” Jawabnya. “Baiklah... mungkin aku juga akan menunggu di sini saja” Kata lelaki itu lagi.

                Hari semakin malam, namun kedua lelaki itu masih belum menyelesaikan perburuannya. Tak berapa lama mereka menunggu, sejenak terdengar suara gemerisik ranting yang nampakna tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi. “Itu pasti seekor rusa” kata John. “Edwin, kau awasi aku selagi aku mendekati semak – semak itu” Sambungnya. “Oke...” Jawab Edwin singkat. John segera berdiri dan mengendap – endap mendekati semak – semak itu untuk mencari tahu apa yang berada di balik semak  - semak itu, sementara Edwin mengangkat pelita yang dipegangnya dan mengawasi John yang mengendap – endap perlahan di tengah kegelapan. John semakin mendekati semak – semak itu dengan sangat hati – hati agar gerakannya tidak membuat binatang itu menjauh pergi. Namun alangkah terkejutnya ia ketika ia melihat sosok bayangan hitam yang muncul dari dalam semak – semak menggeram hebat dan kemudian menarik kakinya, menyeretnya ke dalam kegelapan hutan. Edwin yang mendengar teriakan John langsung terkejut, nampaknya kejadian itu berlangsung demikian cepat hingga Edwin tidak mengetahui apa yang terjadi. “John... John... apa yang terjadi ?” Kata Edwin sambil berlari menuu tempat dimana John berada. “John ?... John ?...” Edwin merasa kebingungan, ia melihat sekelilingnya dan tak ada satu pun pertanda akan keberadaan John.

Langkahnya berhenti kala ia menginjak suatu benda yang berada di atas tanah. Ia mengarahkan pelitanya menuju benda tersebut, dan terlihat senapan milik John tergeletak dengan sedikit percikan darah di atasnya. Mungkin kejadian yang sangat cepat itu membuat John tidak sempat mengangkat senapan untuk memberikan perlawanan. Ia terduduk dan menatap senapan itu, “John yang malang...” Ujarnya kepada kesunyian. Sedetik kemudian ia dikejutkan oleh sebuah bayangan besar dan berbulu lebat menggeram tepat didepannya. Ia terkejut hingga tidak dapat berkata – kata. Terlihat makhluk buas dengan mata tajam yang menyala dan deretan gigi tajam yang menyeringai membuatnya gemetar. Belum sempat ia mengambil langkah untuk berlari, makhluk itu sudah menerkamnya, menjadikannya sebagai mangsa makan malamnya.

... ... ...

Keesokan paginya, terdapat suatu berita yang menggemparkan sebuah desa kecil di pinggiran Devon County. Sekelompok pemburu menemukan dua orang yang sudah tergeletak tak bernyawa di tengah hutan. Anehnya, mereka mati dengan cara yang sama, yaitu dada mereka terkoyak dan jantung mereka lenyap. Sekelompok pemburu itu berkata bahwa mereka menemukan mayat tersebut saat fajar kala mereka akan pulang. Satu mayat mereka temukan di dekat pohon besar sementara satunya terletak beberapa yard dari mayat pertama. “Apakah mereka dibunuh oleh hewan buas ?” Tanya seorang penduduk. “Memang butuh taring ataupun cakar yang tajam yang bisa membuat luka seperti ini. Namun, para serigala akan memakan semua daging mereka hingga hanya tersisa tulang, dan di dalam kasus ini, hanya jantung korban yang hilang” Jawab seorang pemburu. “Mungkinkah ini perbuatan setan ?” Seorang penduduk lainnya bertanya. “Kami sudah bertahun – tahun melakukan perburuan di hutan itu, dan sekali pun kami tidak pernah menemukan makhluk yang kalian panggil ’setan’”. Jawabnya. “Lalu, bagaimana kau bisa menjelaskan kejadian ini ?” ia bertanya kembali. “Entahlah, biarkan polisi yang akan mengungkapnya” Jawab pemburu itu.

... ... ...

“Kapan kau menemukan mayat ini ?” Tanya seorang opsir polisi kepada William, salah seorang dari empat pemburu yang menemukan mayat tersebut. “Kami menemukan mereka saat fajar, saat kami kembali dari perburuan kami” Jawabnya. “Mungkin mereka tewas sekitar pertengahan malam, apakah kau mendengar atau melihat kegaduhan pada waktu itu ?” Tanya polisi itu kembali. “Tidak, lokasi kami berburu letaknya agak jauh dari lokasi kami menemukan kedua mayat itu” Jawabnya kembali. “Hmm... baiklah... siang ini juga kami akan melakukan identifikasi, bisakah kau membawa kami ke tempat di mana kau menemukan mayat itu ?” Polisi itu bertanya kembali. “Tentu saja, namun tempat itu agak jauh dari desa ini”. Jawabnya. Singkat cerita, keempat pemburu yang ditemani beberapa orang polisi itu pergi menuju tempat kejadian.

“Satu mayat kami temukan di dekat pohon ini” Kata William sambil menunjukkan sebuah tempat di dekat pohon willow besar. “Dan mayat lain kami temukan tidak jauh dari tempat ini” Sambungnya. “Baiklah... segera lakukan penyisiran, temukan hal janggal yang berkaitan dengan kejadian ini” Perintah opsir itu kepada polisi lain. Setelah sekian lama, seorang polisi datang dengan membawa sepucuk senjata dengan bercak darah yang telah mengering pada barrelnya, sementara polisi lain membawa lentera yang telah pecah dan beberapa helai bulu hitam. “Hm... Nampaknya ini milik korban, namun bulu ini... apakah kalian mengenali bulu ini ?” tanya opsir itu pada para pemburu. Pemburu itu melihat dengan seksama, “Nampaknya, ini bulu serigala” jawab Richard, salah seorang dari pemburu itu. “Apakah kalian sering melihat serigala berkeliaran di sekitar sini ?” tanya opsir itu. “Tidak, jarang sekali kami melihat serigala di daerah ini” Jawabnya. “Hm... baiklah, malam ini kami akan melakukan pencarian di tempat ini, salah satu dari kalian akan ikut kami, dan yang lain berjaga di desa.” Kata opsir itu.

... ... ...

Mentari mulai tenggelam, menghapus rona alam di dalam kegelapan. Langit yang berawan menghadang sinar bintang untuk jatuh di atas pepohonan. Dalam temaram sinar bulan, mereka memulai pencariannya. “Biarkan aku ikut dengan mereka, diantara kalian, aku lebih memahami hutan ini” ujar Henry, salah seorang pemburu leinnya. “Baiklah, jaga dirimu baik – baik, saudaraku” kata William. Henry mengikuti rombongan polisi itu menuju kedalaman hutan, sementara William, Richard, Harold, dan segelintir orang dari kepolisian tetap tinggal di desa itu untuk berjaga – jaga.  
Malam semakin larut, tidak ada tanda – tanda dari mereka yang berada di dalam hutan. Namun, tak lama kemudian samar – samar William mendengar letusan tembakan dari kejauhan yang memecah kesunyian. Suara itu semakin gaduh, hingga kedua saudaranya terbangun dari lelap. “Apakah itu mereka ?” tanya Richard. “Ya, nampaknya perburuan telah dimulai” Jawab William. Tembakan itu semakin menjadi – jadi, bagaikan peperangan dari kejauhan. Hingga suatu saat terdengar satu letusan tembakan yang diikuti dengan kesunyian. “Mungkin mereka telah membunuhnya” Ujar William. “Kita tunggu kedatangan mereka berberapa jam lagi “ sambungnya.

Anehnya, setelah beberapa jam berlalu, yang dinanti tidak kunjung tiba. “Aneh... ini sudah menjelang tengah hari dan tidak ada satu pun dari mereka yang datang kemari” Ujar William. “Mungkin mereka tersesat ?” Kata seorang polisi. “Tidak mungkin, Henry sangat memahami betul hutan ini” Jawabnya. “Atau jangan  jangan ?... ... ... “ Wiliam tidak melanjutkan kata – katanya, solah – olah sesuatu sedang menghantui benaknya. Ia mengambil senapannya, memasangkan bayonet pada pucuknya, dan bergegas pergi  menuju hutan. “Hei... bukankah kita ditugaskan untuk menjaga tempat ini ?” kata seorang polisi yang melarangnya pergi. “Iya, tapi aku hanya ingin tahu apakah mereka baik – baik saja. “ Jawabnya. “Dan kau akan pergi ke sana sendiri ?” Tanya polisi itu lagi. “Tidak, kami berdua akan mengikutinya, kalian akan menjaga tempat ini selagi kami pergi” Sahut Richard. “Hm... Baiklah...” Jawab polisi itu singkat. Mereka bertiga segera pergi menuu dalam hutan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Betapa terkejutnya mereka kala melihat apa yang ada di depan mata mereka. Tubuh – tubuh bergelimpangan tak  bernyawa, dengan kondisi yang sama dengan korban sebelumnya. Dada mereka terburai, dan jantung mereka lenyap. Satu yang paling mencuri perhatian William adalah jasad saudaranya, Henry,  yang kini terbaring dikerumuni sekelompok gagak, yang mencabik – cabik daging melalui tubuhnya yang terkoyak. “Apapun itu, aku akan menemukannya, aku bersumpah aku akan membunuh siapa – siapa penyebab kekacauan ini” Ujar William di hadapan saudara – saudaranya.  “Kita akan berjaga di sini hingga larut malam, aku akan di bawah sementara kalian berdua akan mengawasiku dari atas pohon, tembak apapun yang datang mendekat, kita tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi” Perintah William kepada para saudaranya.

... ... ...

Malam itu terlihat sunyi, tidak ada tanda – tanda keberadaan makhluk ‘pemburu jantung’ tersebut. Satu – satunya hewan yang mereka lihat adalah sekelompok gagak yang sedang berpesta di atas bangkai para polisi itu. Hingga pada suatu saat kesunyian itu terusik dari suara gemerisik ranting dari balik semak – semak. Mereka segera mengarahkan senapan mereka menuju sumber suara itu. Mereka menunggu, tak lama kemudian semak –semak itu telah berhenti bergemerisik. William mendekatinya secara perlahan, dengan senapan yang masih tertuju pada semak –semak itu. Tiba – tiba saja sesosok makhluk tinggi besar muncul dari balik semak –semak itu, William terkejut, namun ia masih sempat melesatkan tembakan yang mengenai pundak kanan makhluk itu. Makhluk itu menggeram dan berusaha mengejar William, Richard dan Harold dengan sigap langsung melepaskan tembakan ke arah makhluk itu. Monster yang terkena tembakan bertubi – tubi itu pun akhirnya berlari dan hilang di dalam kegelapan hutan.

“Apa itu ?... belum pernah aku melihat serigala sebesar itu ?” Ujar Harold. “Serigala tidak mungkin tumbuh sebesar itu, dan serigala juga tidak berjalan dengan dua kaki, Aku pernah mendengar mitos tentang Werewolf dari orang Perancis, mungkin makhluk itu adalah salah satunya” Kata William. “Sudahlah, apapun itu, yang jelas ia telah membunuh saudara kita, dan ia pantas untuk menemui ajalnya malam ini. Kalian tetap bersamaku, jangan sampai ada yang terpisah” Sambungnya. Kemudian mereka bertiga berjalan beriringan menuju kedalaman hutan. Dengan penuh kewaspadaan, mereka melangkah, mengamati setiap inch daerah disekeliling mereka, karena  mereka tahu bahwa makhluk itu bisa muncul dari mana saja.

Langkah mereka terhenti, kembali mereka mendengar suara gemerisik ranting. “Di Sana...” Ujar Richard. “Tidak, suara itu berasal dari sana” Sahut Harold. Mereka dilanda kebingungan, suara itu datang dari arah yang berbeda – beda. “Mungkinkah kita jatuh di dalam perangkapnya ?” Ujar Harold yang kini merasakan ketakutan di dalam dirinya. “Tidak, masing – masing dari kita harus mendatangi suara itu untuk memastikannya, ketika salah seorang dari kita menemukannya, segeralah berteriak dan bantu dia” Perintah William kepada para saudaranya. Mereka mendatangi suara itu, namun malang bagi Harold, tak lama setelah ia melangkah, makhluk itu langsung menyambarnya dan menyeretnya menuju kegelapan, ia berteriak keras hingga kegaduhan itu sampai di telinga William dan Richard. “Harold!...” ujar William yang kemudian bergegas menuju sumber suara itu. Belum sempat ia menemukan Harold, ia mendengar letusan tembakan yang disertai teriakan pilu dari saudaranya yang lain. Nampaknya makhluk itu juga berhasil ‘menciduk’ Richard.

Sepertinya kini tinggal ia sendiri yang harus menghadapi makhluk itu. William melangkah dengan sangat hati – hati, matanya mengawasi tiap sudut hutan yang gelap itu. Kemudian dari arah samping ia mendengar suara geraman yang semakin mendekat, ia mengarahkan senapannya ke arah tersebut. Belum sempat ia membidik, makhluk itu telah menggigit tangan kirinya, Tanpa pikir panjang William pun langsung menembak makhluk itu dan membuatna tersungkur di atas tanah. Makhluk itu bangkit, menatapkan matanya yang tajam ke arah William, disertai dengan seringai dari deret taring – taringnya. Tubuhnya tinggi besar dan tertutup bulu lebat yang hitam legam.  Di jari tangan dan kakinya terdapat kuku – kuku tajam yang siap mencabik – cabik korbannya menjadi potongan – potongan.

Makhluk itu menggeram, kemudian meraung dan melompat ke arah William. William dengan sigap mengarahkan bayonetnya ke arah dada kiri makhluk itu. Kejadian itu terjadi begitu cepat, hingga William menemukan bahwa makhluk itu telah menancap di ujung senjatanya, ia pun menarik pelatuk dan melepaskan tembakan yang akhirnya membuat makhluk itu tak lagi bernyawa. Sejenak ia masih tak percaya akan apa yang ia lihat, kemudian ia menarik senjatanya dan membuat tubuh makhluk itu rebah di atas tanah. Akhirnya, ia berhasil menuntaskan sumpah untuk membalaskan dendam para saudaranya.

Namun,  tak lama kemudian, ia merasakan gatal di sekujur tubuhnya. Tubuhnya tak terkendali, ia berlari tak tentu arah. Ia merasakan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sejenak ia berhenti, dan melihat sekujur tubuhnya telah dipenuhi oleh bulu hitam, dan cakar – cakar yang tajam tumbuh dari ujung – ujung jarinya. Ia merasakan pandangannya juga mulai kabur, dan hal terakhir yang ia ingat adalah lolongan panjang di dalam kegelapan malam. -SA-

0 komentar:

Posting Komentar