![]() |
| Sumber Gambar : fc00.deviantart.net |
Kala itu ia masih duduk di bangku SMA. Ia adalah penggemar olah raga bela diri, ahli menggunakan tongkat dan toya, namun ia cenderung memilih panah sebagai senjata andalannya. Ia juga dikenal sebagai anak yang cerdas dan populer di sekolahnya. Kekasihnya adalah seorang gadis pendiam, mereka berbeda kelas, namun akan berjumpa hanya ketika pelajaran seni budaya. Gadis itu adalah seorang pelukis yang handal, namun karena ia sangat pendiam, kemampuannya itu jarang diketahui oleh banyak orang.
Ketika jam sekolah telah berakhir, ia akan mengasah kemampuan bela dirinya di arena olah raga sekolah, sedangkan kekasihnya akan pergi menuju ruang seni untuk membuat sebuah lukisan yang terkadang butuh waktu berminggu - minggu untuk menyelesaikannya. Setelah itu mereka biasanya akan pulang bersama - sama, terkadang mereka menghabiskan sore di atas sebuah bukit untuk melihat matahari tenggelam. Mereka berdua selalu terlihat bahagia satu sama lainnya.
Kisah yang indah... Setidaknya sebelum gagalnya penelitian para ilmuwan di pinggir kota yang kini merubah separuh kota ini menjadi makhluk yang haus darah. Bagaimana kisah sebenarnya masih simpang siur, namun kisah yang umum ditelan oleh masyarakat adalah bahwa para peneliti sedang mengembangkan serum yang dapat menaikkan daya tahan para prajurit ketika berada di medan perang. Karena sebuah kesalahan, prajurit yang dijadikan 'kelinci percobaan' itu memberontak, membunuh para ilmuwan itu dan menyebabkan kekacauan di penjuru kota. Dalam kemelut itu kekasihnya menghilang entah kemana. Ia sering kali melakukan perjalanan dari satu bunker ke bunker lainnya hanya untuk mencari keberadaan kekasihnya. Tak jarang ia masuk ke dalam daerah terlarang dan tidak dijaga oleh para militer, meski ia tahu resiko yang dihadapinya, namun kasih sayangnya lebih besar dari pada ketakutan di dalam dirinya. Ia yakin bahwa kekasihnya masih hidup di suatu tempat di kota ini.
"Permisi, apakah anda pernah melihat orang ini ?" Ia bertanya sembari menyodorkan selembar foto kekasihnya kepada petugas pengungsian. "Hm... bisakah kau sebutkan namanya ?" tanya petugas itu. Ia pun memberitahukan nama kekasihnya kepada petugas itu. "Maaf, sepertinya ia tidak ada di bunker ini, jika perlu, kau bisa meminta bantuan para penjaga untuk mengantarmu ke bunker selanjutnya" kata petugas itu. "Hmm ... Terima kasih..." katanya sembari meninggalkan meja petugas itu. Sama seperti hari - hari sebelumnya, ia selalu berjalan tanpa kepastian arah, ia mencari kepastian dari satu tempat ke tempat lainnya. Tak jarang ia pergi ke dalam bekas sebuah minimarket atau toko untuk mencari bahan makanan yang dapat mengobati rasa lapar dan dahaganya untuk sementara. Hingga ia menyadari bahwa suatu saat ia tidak lagi dapat menemukan apa - apa.
Ia memasuki sebuah toko di sudut kota, dengan penuh kewaspadaan ia memasukinya. Di sekelilingnya hanya ada barisan makanan yang telah berjamur dan membusuk, meski terlihat di beberapa sudut rak masih terdapat makanan kaleng yang mungkin bisa ia bawa. Tanpa berfikir panjang ia langsung memasukkan makanan kaleng itu ke dalam tasnya, hingga sejenak terdengar suara langkah kaki sedang mendekati dirinya. Ia meningkatkan kewaspadaannya, dan perlahan ia menarik busur dari dalam tasnya dan sebuah anak panah. Ia mencari - cari dari mana suara langkah itu berasal. Kemudian ia melihat sebuah sorot lampu menuju arahnya, ia menarik busurnya dan mengarakannya menuju sumber sorot lampu itu.
" Berhenti!..." terdengar suara seorang dengan nada tegas. Ia melihat seorang serdadu sedang mengacungkan senjata api menuju arahnya. "Jatuhkan senjatamu!..." perintah orang itu. Ia perlahan menjatuhkan busur dan anak panahnya, dan kemudian berlutut sambil mengangkat tangannya. Serdadu itu menurunkan senjatanya dan segera menghampirinya. "Sekarang kau ikut aku.. " kata serdadu itu.
Singkat cerita, serdadu itu membawanya menuju Bunker Alpha untuk diinterogasi. Mereka meminta penjelasan tentang apa yang ia lakukan disana. Ia pun menjawab bahwa ia sedang mencari kekasihnya yang hilang dan menuju ke dalam toko itu hanya untuk mencari bahan makanan. Setelah bercerita sekian lama, akhirnya para serdadu itu mempercayainya dan meminta ia untuk memberikan ciri - ciri kekasihnya. Ia menyodorkan foto kekasihnya kepada serdadu itu. Serdadu itu berkata bahwa belakangan ini ia menemui seorang gadis yang serupa dengan foto itu ketika ia sedang berjaga di Bunker Sigma, dan ia juga mencari - cari keberadaan seorang lelaki. Maka serdadu itu menyuruh para bawahannya untuk mengantarkan pemuda itu menuju Bunker Sigma.
Setibanya di Bunker Sigma, ia memulai lagi pencariannya. Namun, sama seperti sebelumnya, pencariannya berujung pada kehampaan. Ia masih belum menemukan secara pasti keberadaan kekasihnya. Nampaknya keputus-asaan hampir menyelimuti dirinya. Hingga ia bangkit dan mengambil langkah untuk pergi meninggalkan tempat ini dan memulai lagi pencarian tak tentu arahnya. Tentu saja dengan kehati - hatian yang luar biasa agar para serdadu itu tidak kembali menciduknya.
... ... ...
Ia menyusuri jalanan yang telah sepi, hanya ada puing - puing bangunan serupa ngarai di kanan - kiri, dan bangkai - bangkai kendaraan berserakan di atas jalan yang telah mengelupas. Hanya sisa - sisa lampu jalanan yang redup yang membimbingnya menyusuri kota ini. Langkahnya terhenti kala dari kejauhan ia melihat sekelompok makhluk haus darah itu sedang berkerumun, nampaknya mereka sedang menikmati bangkai segar hasil perburuannya. Ia terperanjat kala satu dari makhluk itu menyorotkan pandangan tajam ke arahnya. "Tidak, kumohon jangan mendekat, aku akan segera pergi" Bisiknya dalam hati. Perlahan ia mengambil anak panah yang berada di punggungnya, belum sempat ia menarik busurnya, sekelompok makhluk haus darah itu berlarian menuju arahnya. "Sial!..." ujarnya, ia segera mengendurkan busurnya dan berlari dari kejaran makhluk haus darah itu. Ia berlari sambil sesekali mencoba untuk memanah makhluk mengerikan itu, hingga ia merasa makhluk itu sudah tidak lagi mengejarnya.
Ia berhenti sejenak dan menghirup nafas panjang. "Syukurlah mereka sudah pergi" Ujarnya kepada kesunyian. Kemudian ia masuk ke dalam sebuah gedung yang berada di sisinya, yang nampaknya bekas sebuah bar. Ia memasuki gedung itu dan menyegel pintunya dengan sebatang kayu besar dengan harapan agar para ia mendapatkan rasa aman dari kejaran makhluk haus darah itu, meski untuk sementara. Belum sempat ia membelakangi pintu itu, ia merasakan sesuatu mendekat di belakangnya. Ia merasakan ujung pistol menempel tepat di bagian belakang kepalanya. Meski didera ketakutan yang amat sangat, ia mencoba untuk tetap tenang. "Siapa kau dan apa maumu ke sini" kata seorang dari balik kegelapan. "Aku hanya seorang pengembara yang kebetulan mencari tempat berlindung" Jawabnya. "Apakah kau salah satu dari mereka ?... apakah kau datang kesini untuk menangkapku ? Tanyanya kembali. "'mereka? Siapa yang kau sebut 'mereka' ?" Jawabnya penasaran. "Hm... nampaknya kau benar - benar bukan salah satu dari mereka... Sekarang balik badanmu..." Kata orang itu. Ia pun membalik badannya dan terbelalak ketika sebuah tangan yang terkoyak muncul dari balik kegelapan. "Jangan takut, aku tidak akan memakanmu..." kata seorang dari balik kegelapan itu lagi.
Orang itu menurunkan pistolnya, dan kemudian sejenak menjauh untuk menghidupkan pelita kecil yang sedikit menyibak kegelapan di dalam gedung itu. "Siapa kamu, dan ada apa dengan tanganmu ?" Ia bertanya penasaran. "Baiklah... aku adalah salah satu dari ilmuwan yang ikut dalam penelitian rahasia itu, tangan ini adalah luka akibat serangan dari makhluk ciptaan kami yang ternyata berulah di luar perhitungan kami" Jawabnya. "Oh... jadi kaulah penyebab semua kekacauan ini ?... dan jika kau diserang... mengapa kau tidak berubah menjadi seperti mereka ?" Tanyanya kembali. "Aku penyebab semua ini ?... Haha... itu terdengar sangat kejam... Aku tidak berubah menjadi mereka karena kala itu di dalam kepanikan aku bergegas mengambil serum antidote yang mampu mencegahku untuk berubah menjadi makhluk mengerika itu" Jawabnya. "Hmm... Jika benar begitu... mengapa kau tidak menyembuhkan mereka ?..." Ia bertanya kembali. "Tidak... Profesor itu hanya menciptakan sebotol kecil serum itu, dan serum itu sudah kuhabiskan untuk mengobati diriku sendiri, dan profesor itu mungkin kini telah berubah menjadi salah satu dari makhluk mengerikan itu, atau mungkin saja ia sudah tewas" Jawabnya. "Mengapa kau begitu egois ?... mengapa kau begitu saja menggunakan obat itu untuk menyembuhkan dirimu sendiri ? apa kau tidak berfikir tentang semua yang akan terjadi ?" Ia kembali berkata. "Hm... mungkin aku terlihat sangat kejam, namun pada waktu itu yang terlintas di benakku hanyalah bagaimana caranya agar aku selamat. Setelah kejadian ini aku rasa memang pantas diriku ini diasingkan atau dibuang, atau... aku memang layak untuk mati ?" Belum sempat ia mengakhiri perkataannya, jendela di sebelahnya tiba - tiba pecah karena terjangan makhluk haus darah itu.
Kamudian suasana menjadi kacau, mungkin tiga atau lima makhluk haus darah itu masuk dan menyerang ilmuwan tadi, sementara pemuda itu langsung mengambil langkah seribu menjauhi kemelut yang terjadi. Ia berlari menuju sebuah pintu belakang yang menuntunnya menuju sebuah gang sepi. Dari sana ia langsung menyusuri gang kecil itu, yang mengarah menuju sebuah pintu kecil yang menempel pada gedung bekas apartemen. Tanpa berfikir panjang ia langsung menerjang pintu itu dan berlari sekuat tenaga menuju lantai atas. Hingga ia menemukan sebuah ruangan yang menurutnya aman untuk bersembunyi. Ia menaruh beberapa perabotan di depan pintu itu hingga ia merasa bahwa makhluk itu sudah tidak bisa mencapainya lagi. Ia mendekati sebuah jendela kecil dan melihat dunia yang ada diluar. Di jalanan di bawahnya ia melihat makhluk haus darah itu berjalan dengan tubuh terkoyak, sebagian ada yang tidak utuh karena menjadi korban keganasan makhluk yang sebelumnya telah menyerangnya. Erangan dan rintihan mereka akan menjadi sebuah nada yang akan terus dia dengar sebagai pengantar menuju mimpinya.
Ia telah letih, seharian ini ia berlarian kesana kemari untuk menyelamatkan diri. Ia terduduk bersandar pada dinding di belakangnya, dan kemudian mengambil foto kekasihnya yang selama ini ia simpan di dalam sakunya. Ia teringat akan sebuah kenangan kala mereka bersama, kala mereka berdua menikmati cahaya matahari tenggelam di atas sebuah bukit, ia betul - betul mengingatnya. Ia ingat betul bagaimana cahaya senja membuat rambut panjangnya berkilau, dan membuat kulitnya seakan - akan bersinar. Namun satu hal yang sangat ia ingat adalah bagaimana kekasihnya melemparkan senyum kepadanya. Selarik lengkungan yang dapat membawakan sejuta ketenangan di dalam hatinya. Tiba - tiba saja rasa rindu yang sangat dalam meneruak di dalam dirinya, ia ingin kembali menuju masa lalu dimana mereka berdua masih bersatu, sebelum tangan takdir memisahkan mereka berdua melalui caranya yang teramat sadis.
... ... ...
Cahaya mentari menembus sebuah celah di dinding bangunan itu dan jatuh tepat kepadanya. Nampaknya kenangan itu membuatnya lupa akan bahaya yang menantinya, sehingga ia tertidur pulas. Ia pun terkejut dan segera melihat sekelilingnya. "Syukurlah, tidak ada apa - apa..." ujarnya. Ia mencoba memalingkan pandangannya keluar jendela, dari kejauhan ia melihat sosok seorang gadis yang berdiri di tengah sepi. Seolah tidak percaya, ia terus menerus memandangi gadis itu. "Nampaknya itu adalah dia... " Ujarnya bersemangat. Ia segera membersihkan perabotan yang menghalangi pintu itu, menuruni tangga dan berlari keluar gedung. Sesampainya di luar ia tidak melihat apapun kecuali jalanan kosong yang disinari oleh cahaya pagi. Namun, dengan penuh keyakinan ia tetap berlari menyusuri jalan itu, berharap ia akan menemukan wanita yang menurutnya adalah kekasihnya itu.
Ia berlari dan terus berlari menyusuri jalan ini hingga langkahnya terhenti pada suatu gang di kanan jalan dimana ia menemukan wanita itu berjalan sendirian. Ia begitu lega saat menemukannya dan kemdian ia memanggil namanya. Rambutnya, ia mengingat betul bagaimana rambut kekasihnya yang tergerai, ia pasti tidak salah orang. Namun kebahagiaannya runtuh kala gadis itu berpaling, ia terbelalak, itu memang kekasihnya, namun sekujur tubuhnya terkoyak bersimbah darah. Gadis itu menjulurkan tangannya dan mengarahkan matanya yang menyala - nyala menuju arahnya. Tubuhnya terasa lemas, ia tidak pernah tahu bahwa takdir akan terasa sangat pedih.
Ia segera mengambil busurnya, dan dalam hati ia berkata kepada dirinya bahwa yang didepannya itu bukanlah kekasihnya lagi. Kemudian ia menarik anak panah dan mengarahkannya menuju kepalanya. Namun, ketika ia melihat matanya, ia terbawa akan sebuah memori indah kala mereka bersama, Bukit - bukit itu, cahaya mentari itu, semua kenangan itu membuat ia seketika tak kuasa untuk membunuhnya.
Segalanya telah berakhir, ia menjatuhkan busur dan anak panahnya ke atas tanah. Ia kemudian menarik nafas panjang, merentangkan kedua tangannya dan memeluk erat kekasihnya, menghirup aroma rambutnya dan merasakan betul bagaimana ia memeluk kekasihnya untuk yang terakhir kali. Pertemuan ini sekaligus menjadi perpisahan baginya, atau mungkin mereka akan disatukan kembali di atas dunia yang lebih tinggi. Ia mendekap kekasihnya dan ingatannya kembali terbang menuju masa itu, membuatnya tidak merasakan sakit meski kekasihnya mulai menggerogoti tubuhnya. -SA-

2 komentar:
WWZ?
... aku jg bingung kok jalan ceritanya hampir sama, tapi filmnya keluar bulan September, dan tulisan ini bulan Maret...
Posting Komentar