Image Source : http://www.oceansbridge.com/paintings/museums/new-hermitage/Premazzi_Luigi-ZZZ-Mansion_of_Baron_A.L._Stieglitz._The_Concert_Hall.jpg
“Dia telah
berubah… Entah bagaimana, kurasakan dia telah berubah.” Itulah kata – kata yang
sempat terucap dari mulut Luna, sepupuku yang juga tunangan Nigel, sahabatku. “Sudah
hampir seminggu ini aku tidak mendapatkan sedikitpun kabar tentangnya, entah
mengapa ia menjadi benar – benar diam” Lanjutnya. Sejenak kemudian hening,
hingga ia melanjutkan perkataannya “Apakah ia pernah menghubungimu belakangan
ini ?” Ia bertanya padaku. “Tidak, terakhir kali, aku dan dia meminum cranberry
juice hingga larut malam di sebuah bar di pinggir kota” Jawabku. Kemudian kucoba
untuk menghubunginya lewat telefon beberapa kali, namun yang kudengar hanyalah
suara mesin penjawab. “Aneh… sangat tidak biasa” kataku kepada Luna. “Sudahkah
kau coba untuk mendatangi rumahnya ?” aku melanjutkan perkataanku. “Belum… “
Jawabnya singkat. “Hmm… mengapa tidak kita hampiri saja dia, dan mencari tahu
mengapa ia bertindak sangat aneh belakangan ini “ kataku. “Baiklah, tidak ada
salahnya mencoba “ jawabnya. Kemudian kami berdua pergi menuju ‘istana’
kediaman Nigel.
Bicara tentang
Nigel, siapa yang tidak mengenalnya ? ayahnya adalah pemilik perusahaan “Ouranos“,
sebuah perusahaan yang menjadi ‘nyawa’ kota ini. Berbeda dengan ayahnya yang
mudah bersosialisasi, Nigel sangat pemalu, dan dia berusaha menyembunyikan
sifatnya ini dengan selalu terlihat “cool”. Ia memang pendiam, namun tidak
biasa rasanya jika tiba – tiba ia menjadi se-tertutup ini. Kami berdua telah
sampai di gerbang rumah Nigel, kulihat rumah ini tampak sangat sepi. Beberapa
kali Luna telah memencet tombol bel, namun tidak ada tanggapan. Kucoba sekali
lagi untuk menghubunginya melalui ponsel namun balasan yang kudapatkan hanyalah
kesunyian. “Sudahlah, mungkin ia sedang tidak ada di rumah” Kataku pada Luna.
Tanpa berkata apapun ia memalingkan diri dari gerbang ini, kulihat kekecewaan
terlukis dalam wajahnya. Kami berdua pun sepakat untuk meninggalkan rumah ini.
… … … … … … …
Suatu malam
lain datang di atas Ethera. Dalam kesendirian ini diriku terlarut didalam nada
– nada yang dilantunkan jemari ini melalui sebuah piano. Entah mengapa
kurasakan ada sesuatu yang berbeda pada langit malam ini. Ah… mungkin itu
hanyalah perasaaanku saja. Tak berapa lama jemari ini berhenti melantunkan
melodi, kesunyian kembali memenuhi ruangan ini. Sayup – sayup kudengar nada –
nada yang serasa tidak asing di telingaku. Nada itu semakin jelas terngiang
dalam benakku. “Simfoni Metamorfosa !” kataku kepada kesunyian, kemudian secara
spontan pikiranku melayang mengingat – ingat Nigel. “Tidak… tidak mungkin… hal
ini terlalu cepat datang… “ kuambil jaket dan kunci motorku, dan secepat
mungkin aku pergi menuju rumah Nigel. Biar kuluruskan ceritanya, Nigel adalah
seorang Ca’el, seorang wizard dengan elemen kegelapan. Para Ca’el akan mengalami
sekali metamorfosis dalam hidupnya, bagi para Ca’el ini adalah perjuangan
antara hidup dan mati. Untuk beberapa waktu batin mereka yang rentan akan terombang
– ambing di atas dunia. Hanya ada satu cara untuk mencegah seorang Ca’el bertransformasi
menjadi bentuk abadinya, yakni dengan menemukan dimana jiwa itu tertahan, dan
mengembalikannya untuk menyelamatkan kehidupannya.
Aku berkendara
menembus kegelapan, ingga aku menemukan diriku berdiri di depan rumah Nigel. Kulihat
gerbang rumahnya terkunci, jadi aku memutuskan untuk menggunakan sihir ignis
untuk membuka kunci pagar dan masuk ke dalam halaman rumahnya. Kini aku berada
di depan pintu rumahnya, dan anehnya, ia meninggalkan pintu rumahnya tidak
terkunci.Tanpa basa basi aku segera masuk ke dalam rumahnya. Firasat ini
menuntunku menuju sebuah ruang di lantai tiga rumahnya. Kususuri setiap jalan
di dalam rumahnya hingga mungkin kau takkan percaya apa yang aku lihat. Aku
sampai di sebuah ruang dimana Nigel berbaring di atas altar berselimut kabut
kegelapan. “Ini belum terlambat …”
Kataku. Kemudian aku memutuskan untuk membangunkan Luna di tengah malam ini dan
menyuruhnya kemari.
Selang
beberapa waktu ia datang, Ia terkejut, melihat kenyataan yang terjadi tepat di
depan matanya. kurasakan hatinya luluh, dengan kesedihan mendalam ia bersimpuh
di sisi tubuh Nigel yang tergeletak dan menangis. “Apa kau tahu cara untuk
menyelamatkannya ?“ ia bertanya padaku. “ada satu cara, coba kau sentuhkan
tanganmu di atas kepalanya dan katakan padaku apa yang kau lihat “ jawabku.
Kemudian ia melakukan seperti yang kuperintahkan. Sejenak kemudian Luna berkata
“Menara langit… ya… kulihat seseorang berjubah hitam yan sedang memegang sebuah
lentera “. “Itu dia… tunggu sejenak, aku segera kembali” Kataku. Kemudian aku
mengunakan sihir banish untuk memindahkan diriku menuju tempat yang dimaksud.
Sesampainya
disana, kulihat seseorang berjubah hitam yang sedang memegang sebuah lentera,
persis seperti yang digambarkan oleh Luna. “Penyihir Eter, apakah kau datang
untuk mengambil ini ?” Kata orang misterius itu padaku. “Buktikan bahwa kau layak
untuk memegang jiwa temanmu ini” sambungnya. Kemudian kami terlibat dalam
sebuah duel yang sangat sengit, hingga beberapa kali aku tersudut. Belum pernah
aku menemui seorang penyihir dengan kekuatan sedahsyat ini. Sempat terlintas
dalam benakku bahwa ia bukanlah seorang manusia. Di tengah kemarahan ini aku
melemparkan sihir morto, bermaksud untuk membunuhnya. Namun, sesuatu yang
berada diluar dugaanku terjadi, sihir morto yang kukeluarkan berhasil
dibelokkan oleh orang misterius itu dan tepat mengenai lentera yang berisikan
jiwa Nigel. Orang misterius itu hanya tertawa lepas, dan kemudian lenyap
ditelan kegelapan. “Tidak mungkin…” Kataku lirih, ditengah penyesalan yang amat
sangat, aku kembali menggunakan sihir banish untuk kembali menuju rumah Nigel.
Disana kulihat kebut kegelapan
tak lagi menyelimuti tubuh Nigel, di sisinya kulihat Luna sedang larut di dalam
kesedihan. Aku menghampirinya dan menceritakan yang sebenarnya terjadi. Melalui
matanya kulihat perasaannya tercabik – cabik hingga ia tak bisa berkata – kata.
“ Aku akan menebus kesalahanku “ Kataku. Kemudian aku berdiri di sisi Nigel yang
terbaring lemas, dan aku mengunakan sebuah sihir terlarang yang hanya bisa
dilakukan oleh para penyihir eter sepertiku. Kemudian kurasakan tenaga di dalam
diriku bergejolak, kurasakan rasa sakit yang luar biasa mengalir dalam setiap
denyut nadiku. Tak lama kemudian kulihat Nigel membuka mata, bersamaan dengan
itu cahaya fajar menembus jendela ruang ini dan jatuh di atas sepasang kekasih
itu. Sangat menyentuh, aku tak dapat membayangkan jika mereka harus benar –
benar berpisah. Hal terakhir yang kuingat adalah langit – langit ruangan itu,
dimana terdapat lukisan Dewa Deus dengan sayap – sayapnya yang patah, sekejap
kemudian hening menyelimuti seluruh tubuhku, aku merasa sangat terberkati.
“Mereka layak berbagi keindahan melalui kasih
sayang mereka berdua, sedangkan satu – satunya keindahan yang layak bagiku
hanyalah kematian. “ -SA-

0 komentar:
Posting Komentar