Perfect World Online Spear Thingy
"Dibalik Sebuah Pintu Ada Sebuah Misteri Yang Disegel Dengan Tujuh Segel"

Minggu, 22 Januari 2012

Sinopsis Kisah Wayang Lakon Dewa Ruci

Posted by Unknown on 10.13


   Alkisah, hiduplah seorang ksatria dari Negeri Amarta, yang bertubuh tegap bak pohon cemara, berbadan besar layaknya seorang raksasa, kukunya yang tajam dapat membelah gunung menjadi dua, dan mempunyai suara bagaikan guntur ditengah prahara. Ia bernama Bratasena, seorang ksatria mulia yang terlahir dari garis keturunan yang dianugerahi oleh para dewa.


    Pada suatu ketika, keresahan datang di dalam kehidupan Bratasena. Dari dalam hatinya ia sangat ingin mengetahui tentang ilmu kesempurnaan hidup.Sehingga, atas sebuah inisiatif dan kemauan yang kuat, ia menemui gurunya yang bernama Durna. Kemudian Durna memberikan petunjuk kepada Bratasena, bahwa imu kesempurnaan hidup itu dapat ia peroleh jika ia berhasil mendapatkan sebuah kayu yang bernama kayu 'Gong Susuhing Angin' yang konon berada di dalam hutan Tibrasara, di gunung Candramuka. Setelah ia mengerti petunjuk yang diberikan oleh gurunya, ia pun pamit dan pergi meninggalkan Amarta.

     Setelah ia sampai di gunung Candramuka, ia menemukan bahwa kayu yang harus ia cari ternyata tidak ada. Dengan segenap amarahnya yang meluap - luap ia mengobrak - abrik hutan Tibrasara, bak angin topan yang menghancurkan ladang - ladang. Tak elak perbuatannya itu pun mengejutkan dua orang Raksasa penghuni gunung itu, Rukmaka dan Rukmakala. Dengan wajah geram mereka berdua mendatangi Bratasena dan bertanya apa maksud kedatangannya. Bratasena dengan tenang menjelaskan bahwa kedatangannya kemari adalah ia sedang mencari kayu Gong Susuhing Angin atas titah gurunya. Dua raksasa itu pun menertawakan Bratasena, karena menurut mereka kayu yang Bratasena cari itu sebenarnya tidak ada. Merasa tersinggung oleh kata - kata kedua raksasa tersebut, Bratasena menjadi marah dan menyerang mereka berdua. Pertarungan pun tak terelakkan, mereka berkelahi sangat sengit sehingga bumi disekitarnya bergetar, dan langit yang menaungi mereka meluap - luap. Sangat dahsyat pertarungan itu berlangsung, hingga Bratasena mengangkat kedua raksasa tersebut mengunakan kedua lengannya yang kokoh bagaikan pondasi jembatan suramadu, dan membanting mereka ke atas tanah hingga mereka berdua hancur lebur bak buah anggur yang dibelah dengan shotgun. 

     Kemudian dengan amarah yang masih tersisa ia mengobrak - abrik lagi hutan itu, di dalam hatinya ia bersedih karena apa yang dicari di dalam hatinya tak berujung pada sebuah penyelesaian. Ia pun lelah dan sejenak berhenti untuk beristirahat. Seketika itu juga, muncul cahaya dari atas langit bersamaan dengan turunnya dua sosok bersahaja yang menghuni Nirwana, mereka adalah Dewa Indra, raja Kahyangan dan pemimpin para dewa, dan Dewa Bayu, ayah Bratasena. Kemudian, mereka berkata kepada Bratasena bahwa kayu tersebut tidak berwujud, kayu tersebut sejatinya hanyalah petuah. Kayu Gong Susuhing Angin secara bahasa berarti Kayu besar yang menjadi tempat bersemayamnya angin. Namun, initisari makna dari Kayu Gong Susuhing Angin adalah jangan semerta - merta mengunggulkan logika, rumus, kamus, dan dogma terhadap sebuah permasalahan, Gunakanlah kecerdasan spiritual untuk mengolah setiap pesan dari para guru. Itulah mengapa Bratasena tidak menemukan kayu itu meski ia telah megobrak - abrik separo Gunung Candramuka. Disamping ia tidak mendapat petunjuk yang benar - benar jelas, ia dengan begitu saja melakukan apa yang gurunya suruh tanpa menelaahnya terlebih dahulu. Dan dua dewa tersebut juga mengatakan bahwa kedua raksasa yang ia bunuh juga mempunyai misi yang sama, mereka diperintahkan oleh Sang Hyang Guru untuk mencari kayu tersebut. Kemudian, Bratasena berterima kasih kepada mereka, dua orang dewa itu pun kembali meuju Kahyangan, sementara Bratasena pulang menuju Amarta. 

     Kemudian ia menghadap Resi Durna di dalam serambi Istana. Resi Durna pun terkejut karena ia sebelumnya menganggap bahwa Bratasena tidak dapat menyelesaikan tugasnya. Bratasea pun memberikan laporan kepada gurunya tentang apa yang ia alami selama pencariannya. Resi Durna kagum atas hasil jerih payah Bratasena, namu ia berkata bahwa itu hanyalah permulaan, ilmu kesempurnaan hidup yang sesunguhnya bersemayam di dalam air kehidupan yang terletak pada sebuah samudera yang jauh di tepi dunia. Berbekal ilmu dan kekuatan yang dimilikinya, ia pergi meninggalkan Amarta.

     Dengan segeap keberaniannya ia menembus hutan yang liar, naik turun gunung, dan akhirnya tiba di tepi sebuah samudera yang ombaknya menggulung-gulung dan menabrak batu karang dengan keras sehingga bumi bergetar, di atasnya angin topan mengamuk dengan dahsyat disertai dengan kilatan - kilatan cahaya yang kemudian disusul dengan gemuruh petir yang membela lautan. Bratasena menjadi pesimis, ia berangapan bahwa Resi Durna ingin membunuhnya dengan cara memberikannya petunjuk yang menurutnya sesat dan tidak benar. Namun, dari dalam hari Bratasena muncul sebuah visi bahwa lebih baik ia mati daripada kembali untuk menentang sang Maharesi. Maka akhirnya ia berpasrah diri, dan mengumpulkan segenap kekuatannya untuk memberanikan diri masuk ke dalam samudera. Lama ia memandangi isi lautan yang indah, sehinga duka yang ada di dalam hatinya pun perlahan sirna. Namun, kini ia menjadi tidak was -was akan datangnya marabahaya. Benar saja, seekor naga besar penguasa lautan yang ganas menyerang Bratasena, Naga itu mempunyai bisa yang sangat mematikan, mulutnya lebar bagaikan gua, giginya tajam bercahaya, dan matanya merah menyala.  Mereka bertarung sangat sengit sehingga air samudera itu bergejolak dan membuat takut para penghuninya, dan sang dalag pun ikut gonjang - ganjing karena sudah dari tadi menahan kencingnya .Naga tersebut melilit Bratasena hingga tersisa lehernya, dan dengan terus menerus ia menyemburkan bisanya. Bratasena menjadi bingung, kini ia merasa bahwa disinilah ia menemui ajalnya. Namun, disaat yang genting dan hampir putus asa, ia teringat akan kekuatan yang dimilikinya, ia menggunakan kuku Pancakananya dan menancapkannya di badan sang naga, Naga itu pun melepaskan lilitannya dan meronta, di pegangnya rahang atas sang naga itu dengan tangan kanannya, dan rahang bawah dengan tangan kirinya, dan kemudian ia robek mulut sang naga hinga ia meningal dunia, darah mengucur deras dan memenuhi hampir seisi samudera. 

     Tak lama kemudian, sorang dewa yang berwujud seperti seorang anak kecil yang mendatangi Bratasena  dan memperkenalkan dirinya, ia bernawa Dewa Ruci, ternyata. Dewa Ruci sudah megetahui siapa Bratasena dan apa tujuan sebenarnya ia datang kemari. Kemudian ia berkata kepada Bratasena ”Jangan pergi bila belum jelas maksudnya, jangan makan bila belum tahu rasa yang dimakan, janganlah berpakaian bila belum tahu nama pakaianmu. Kau bisa tahu dari bertanya, dan dengan meniru juga, jadi dengan dilaksanakan, demikian dalam hidup, ada orang bodoh dari gunung akan membeli emas, oleh tukang emas diberi kertas kuning dikira emas mulia. Demikian pula orang berguru, bila belum paham, jangan segan untuk bertanya”.

   Bratasena pun merasa bersalah, dan kemudian ia meminta Dewa Ruci agar ia mau mengangkai Bratasena sebagai muridnya. Dewa Ruci pun mengabulkan permintaan Bratasena, dan ia menyuruh Bratasena agar masuk ke dalam tubuhnya.  Bratasena pun bingung, bagaimana bisa ia masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci yang secara fisik lebih kecil dari dirinya ?. Atas petunjuk Dewa Ruci, Bratasena masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri. Kemudian , ia takjub ketika melihat sebuah samudera yang lebih luas dan langit yang begitu megah. Kini, ia samasekali tidak mengetahui mana yang utara, mana yang selatan, mana yang atas, dan mana yang bawah, mana yang depan, dan mana yang belakang. Ia kini dilanda kebingungan dan ketakutan hingga Dewa Ruci muncul didepannya bersama dengan seberkas sinar yang mampu menerangi jagat raya. Bratasena pun kembali nyaman seperti sediakala, tak ada lagi rasa gundah yang mengusiknya. 

     Kemudian tampak empat buah cahaya yang dapat dilihat oleh Bratasena, yang satu berwarna hitam, kemudian merah, kuning, dan putih. Dewa Ruci menjelaskan apa maksud cahaya tersebut dan berkata "Cahaya pertama kau lihat, menyala-nyala dan tak bernama, Pancarannya itu, sesungguhnya ada di dalam hatimu, yang memimpin dirimu, yaitu hatimu, disebut sebagai induk dari sifat, yang menuntun kepada sifat yang lebih, merupakan hakikat sifat itu sendiri. Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk hati tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu sejatinya adalah penghalang hati. Yang hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi dan menutupi tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik, segala keinginan keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar kepada kewaspadaan. Yang kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang putih berarti nyata, hati yang tenang suci tanpa berpikiran ini dan itu, perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam, merah dan kuning adalah penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan Sukma Mulia."

     Lalu Bratasena melihat seberkas cahaya memancar berkilat,  melengkung, apakah gerangan itu ? Menurut Dewa Ruci, itu bukan yang air kehidupan, yang dilihat itu yang tampak berkilat cahayanya, memancar bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa bentuk dan tanpa warna, tidak berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat tinggal, hanya terdapat pada orang-orang yang awas, hanya berupa firasat di dunia ini, dipegang tidak dapat, adalah Pramana, yang menyatu dengan diri tetapi tidak ikut merasakan gembira dan prihatin, bertempat tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak ikut merasakan sakit dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang tinggal, badan tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi oleh suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat. Kehidupan Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana bila mati ikut lesu, namun bila hilang, kehidupan sukma ada. Sirna itulah yang ditemui, kehidupan suksma yang sesungguhnya, Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran, bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan nafsu kehidupan tapi kuasailah. Tentang keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak mengalami hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan bermanfaat, peganglah dalam pemusatan pikiran, disimpan dalam buana, keberadaannya melekat pada diri, menyatu padu dan sudah menjadi kawan akrab. Sedangkan Sukma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak, dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan panggungnya.

     Penerima ajaran dan nasehat ini tidak boleh menyombongkan diri, hayati dengan sungguh-sungguh, karena nasehat merupakan benih. Namun jika ditemui ajaran misalnya kacang kedelai disebar di bebatuan tanpa tanah tentu tidak akan dapat tumbuh, maka jika manusia bijaksana, tinggalkan dan hilangkan, agar menjadi jelas penglihatan sukma, rupa dan suara. Hyang Luhur menjadi badan Sukma Jernih, segala tingkah laku akan menjadi satu, sudah menjadi diri sendiri, dimana setiap gerak tentu juga merupakan kehendak manusia, terkabul itu namanya, akan segala keinginan, semua sudah ada pada manusia, semua jagad ini karena diri manusia, dalam segala janji janganlah ingkar. Jika sudah paham akan segala tanggung jawab, rahasiakan dan tutupilah. Yang terbaik, untuk disini dan untuk disana juga, bagaikan mati di dalam hidup, bagaikan hidup dalam mati, hidup abadi selamanya, yang mati itu juga. Badan hanya sekedar melaksanakan secara lahir, yaitu yang menuju pada nafsu."

     Setelah mendengar wejangan dari Dewa Ruci, hati Bratasena menjadi terang benderang, dan di dalam hatinya ia mengharapkan wahyu yang sesungguhnya datang menuju kepadanya. Kemudian Dewa Ruci berkata "Sena ketahuilah olehmu, yang kau kerjakan, tidak ada ilmu yang didatangkan, semua sudah kau kuasai, tak ada lagi yang dicari, kesaktian, kepandaian dan keperkasaan, karena kesungguhan hati ialah dalam cara melaksanakan." Dewa Ruci telah menyampaikan ajarannya, Bratasena pun mengucapkan salam untuk kembali menuju alam manusia, dan dalam sekejap mata Dewa Ruci pun sirna dan Bratasena kembali menuju alam manusia. Kini, tidak ada kebingungan yang melanda dirinya, semua ajaran telah ia pahami. 

     Di dalam kesendirinannya, ia merenung. Ia merenungkan bahwa banyak dari para pertapa yang berpikiran salah, namun dianggap benar, namun akhirnya tak berdaya, diperbudak oleh cara penerapan yang salah juga. seperti mengharapkan kemuliaan, namun  akhirnya tersesat dan terjerumus. Bertapa tanpa ilmu, tentu tidak akan berhasil, kematian seolah dipaksakan, melalui kepertapaannya, mengira  dapat mencapai kesempurnaan dengan cara bertapa tanpa petunjuk, tanpa pedoman berguru, mengosongkanan pikiran, belum tentu akan mendapatkan petunjuk yang nyata. Tingkah seenaknya, bertapa dengan merusak tubuh dalam mencapai kamuksan, bahkan gagallah bertapanya itu. Guru yang benar, mengangkat murid, jika memberi ajaran tidak jauh tempat duduknya, murid sebagai sahabatnya, lepas dari pemikiran batinnya, mengajarkan wahyu yang diperoleh. Inilah keutamaan bagi keduanya.

     Berbekal dengan tekad yang sempurna dan penuh semangat, ia kemudian pulang dan tiba di tanah kelahirannya, Negeri Amarta. Kini ia menemukan jagad raya telah menyatu di dalam dirinya, itulah ilham yang ia dapat dari hasil perjalanannya. 

...TAMAT...

     
    

1 komentar:

Yang ini. Cuma yang ini. Yang sama sekali aku bingung bagian terakhirnyaa. Agak begimana gak nyambung sama yang atas tata bahasanya. Bingung :3

Posting Komentar