... Aku memandangi Masjid Kul-Sharif yang berdiri megah menembus jendela apartemenku yang menggigil diterpa udara musim dingin. Mungkin sudah beberapa menit berlalu sejak kulayangkan santiran mataku kepadanya tadi. Bukan tanpa maksud aku terus - menerus memandanginya, karena sebilah pensil yang direngkuh oleh jemariku yang tegak lurus di atas secarik kertas yang masih putih ini menjadi alasannya. Ya... aku menunggu datangnya sebuah ilham mengetuk pintu batinku dan membangkitkan gagasanku. Karena menurutku, ilham tidak dapat dicari, karena ilham selalu menghampiri setiap insan yang haus akan inspirasi ....
... Terasa jenuh aku memandangi selembar kertas pucat yang hampa. Kuletakkan pensil yang melekat pada jemariku, dan aku mengambil sebuah balalaika yang selalu menemaniku di dalam kesendirianku, dan yang selalu bernyanyi di dalam kesunyianku. Perlahan jariku menyentuh dawainya, menggetarkannya hingga ia membentuk sebuah nada, dan dari dalam nada itu tercipta sebuah lagu. Sebuah lagu yang menghanyutkan diriku menuju alam eter yang tak hingga luasnya, sebuah lagu yang mampu menghangatkan diriku ditengah udara Kazan yang beku ...
... Kemudian oleh sebuah kekuatan, tanganku mengentikan pergerakannya, membuat nada - nada itu sirna, larut di dalam udara. Kulemparkan kembali pandanganku melewati jendela kamarku, dan aku melihat Kazan sebagai sebentang ladang yang tertutupi nafas putih yang beku. Di tengah kedinginan itu, aku menuang beberapa mililiter sbiten ke dalam cangkirku yang menganga kosong, kemudian kubiarkan ia mengalir di dalam tubuhku, sembari aku membuka segulung kertas koran yang datang tadi pagi. Hanya beberapa baris kalimat yang mampu ku baca, hingga sebuah panggilan suci sampai ke dalam telingaku, mengundangku menuju tempat peraduanku ...
... Terasa jenuh aku memandangi selembar kertas pucat yang hampa. Kuletakkan pensil yang melekat pada jemariku, dan aku mengambil sebuah balalaika yang selalu menemaniku di dalam kesendirianku, dan yang selalu bernyanyi di dalam kesunyianku. Perlahan jariku menyentuh dawainya, menggetarkannya hingga ia membentuk sebuah nada, dan dari dalam nada itu tercipta sebuah lagu. Sebuah lagu yang menghanyutkan diriku menuju alam eter yang tak hingga luasnya, sebuah lagu yang mampu menghangatkan diriku ditengah udara Kazan yang beku ...
... Kemudian oleh sebuah kekuatan, tanganku mengentikan pergerakannya, membuat nada - nada itu sirna, larut di dalam udara. Kulemparkan kembali pandanganku melewati jendela kamarku, dan aku melihat Kazan sebagai sebentang ladang yang tertutupi nafas putih yang beku. Di tengah kedinginan itu, aku menuang beberapa mililiter sbiten ke dalam cangkirku yang menganga kosong, kemudian kubiarkan ia mengalir di dalam tubuhku, sembari aku membuka segulung kertas koran yang datang tadi pagi. Hanya beberapa baris kalimat yang mampu ku baca, hingga sebuah panggilan suci sampai ke dalam telingaku, mengundangku menuju tempat peraduanku ...

1 komentar:
like this sob!
Posting Komentar